Sambatlah Kepada Allah, Nabi, dan Ibu

Foto: Adin (Dok. Progress).

Semakin hari, rasanya saya semakin jatuh cinta pada Al-Qur’an. Ada rasa “candu” untuk memegangnya, membukanya, membaca, hingga menciuminya. Saya merasakan kesejukan, kelegaan, dan keindahan setiap kali membacanya.

Meng-iqra-i makna demi makna ayat Al-Qur’an, dada terasa lapang. Pikiran sumpek jadi padhang. Beban hati berangsur hilang. Seolah nyawuk banyu bening. Fadhilah memesrai Al-Qur’an terasa benar adanya. Dan itu (Al-Qur’an) mukjizat yang nyata.

Salah satu faktor yang mendorong saya kian mencintai Al-Qur’an adalah beliau Cak Fuad Effendi. Berkat tulisan-tulisan beliau yang mengalir dalam Tetes, merangsang diri saya untuk berupaya men-tadabburi Al-Qur’an semampu-mampunya. Seraya menemukan buah, berkah, dan hikmah yang terkandung di setiap ayatnya.

Bahkan Cak Fuad menerangkan, masing-masing kita boleh menyukai ayat atau surat tertentu yang ada dalam Al-Qur’an. Dahsyatnya lagi, ayat atau surat yang kita sukai tersebut akan memberikan manfaat (kebaikan) bagi kita apabila kita rajin membaca atau mewiridkannya.

Dari sekian banyak ayat dan surat yang terdapat dalam Al-Qur’an, salah satu surat favorit saya adalah Al-Insyirah (alam nasyroh). Surat yang terdiri atas 8 ayat tersebut seolah menjadi “jimat” saya setiap kali menghadapi atau dihadapkan situasi darurat.

Banyak sekali contohnya. Mulai dari hal kecil sampai peristiwa yang genting. Bahkan sampai ada yang di luar nalar.

Pernah suatu hari istri saya mengeluh perutnya sakit, seperti begah. Ketika itu saya sedang tidak berada di rumah. Sebagai bentuk ikhtiar, saya menyuruhnya minum air putih hangat. Sembari makan buah yang berserat. Ia pun melakukannya. Namun begah belum kunjung reda.

Lantas saya mengajaknya untuk membaca surat alam nasyroh bersama-sama. Sekuat-kuatnya, di tempat yang berbeda. Alhamdulillah, tak lama kemudian ia mengaku perutnya tak lagi kenceng dan manteng. Begahnya reda. Dan pulih seperti sedia kala.

Satu kisah lain tak kalah mengharukan. 2019 lalu digelar tes Calon Pegawai Negeri Sipil atau CPNS. Salah satu teman saya lolos tes pertama, dan bersiap untuk menjalani tes berikutnya. Ia mengaku tegang. Antara yakin dan nggak yakin. Beban berat terasa di pundaknya.

Sebelum masuk ruang tes, ia sempat bertanya, “Kalau nanti menemukan soal yang sulit piye?”

“Tinggal wae. Kerjain soal berikutnya. Misal masih ada waktu, coba lagi jawab soal yang itu.”

“Ada doa khusus ndak bro?”, tanyanya lagi.

“Bismillah, baca aja alam nasyroh sebanyak-banyaknya.”

Setelah bertarung dengan soal-soal hampir 2 jam, teman saya itu keluar dengan raut semringah. Ia berhasil menuntaskan semua soal sesuai waktu yang ditentukan. Dan saat hasil tes diumumkan, namanya bertengger di urutan pertama. Ia lolos menjadi PNS. Allah telah memberinya kemudahan untuk menatap masa depan.

Satu cerita lain yang juga saya alami, dan begitu menegangkan. Ketika itu saya sedang yasinan di rumah seorang kawan. Ibu dari anak saya WA. Dia bilang: “Yah, susunya dedek enték.” Naas, duit di dompet saya juga enték, alias kosong mlompong. Bagi teman-teman yang juga seorang bapak, punya anak balita, mendengar susu anaknya habis, dan tidak ada uang untuk membelinya, pasti tahu bagaimana rasanya. Ya kalut, bingung, kacau, panik, dan segera putar otak untuk cari jalan keluar. Saat itu saya hanya menjawab, “Iya, nanti Ayah belikan susunya.”

Jawaban tersebut di satu sisi menenangkan hati sang istri. Tapi di sisi lain membuat kepala saya pusing tujuh keliling. Oh Tuhan. Dalam kondisi sempit, sulit, dan terjepit saya hanya bisa mengadu pada-Nya.

Menuju jalan pulang, saya sebut-sebut nama Allah. Merintih dalam hati. Saya wiridkan alam nasyroh berulang-ulang.

(Fa inna ma’al ‘usri yusroo, maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).

(Inna ma’al ‘usri yusroo, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).

Disambung shalawat semampu-mampu bibir mengucap. Satu yang dimohon dengan sangat, jangan pulang tanpa membawa susu si anak lanang.

Sembari mencari solusi, saya mampir ke warung hik (langganan) milik Lik Mindzakir. Baru nyetrandatke motor, HP saya berbunyi. Satu pesan masuk dari istri berbunyi: “Yah alhamdulillah, wali murid ada yang transfer bayar les-lesan.”

Puji Tuhan. Perasaan lega dan gembira saat itu benar-benar tak bisa digambarkan. Fadhilah ayat-ayat Allah (dalam konteks ini surat alam nasyroh) benar-benar terbukti nyata (Al-Bayyinah).

Dari sekian contoh kisah di atas, terasa jelas bahwa setiap kali dihadapkan kesulitan, kita kadang tak sanggup menyelesaikannya sendiri. Ada pihak yang kita minta tolongi. Siapa? Persis yang dihaturkan oleh Mbah Nun dalam esai Menyerap Cinta (Kebon 52). Dalam kondisi darurat (mungkin seperti saat ini di mana negeri kita dilanda pandemi, ditimpa “musibah” alam, gugurnya para guru dan ulama, problem rumah tangga, kesulitan ekonomi, macetnya usaha, dll), ada urutan pihak yang kita sambati: Allah, Kanjeng Nabi, dan Ibu.

Sambat kepada Allah bisa dengan memuji nama-nama Allah, merapalkan kalimat-kalimat thayyibah, atau dengan mewiridkan ayat atau surat Al-Qur’an tertentu (misal surat alam nasyroh seperti yang biasa saya lakukan). Sambat kepada Nabi tentu dengan bershalawat, dan sambat kepada ibu (orang tua) dengan memohon doa dan restu.

Yakinlah, dengan ingat dan hanya “sambat” kepada-Nya (melalui wasilah Nabi dan Al-Qur’an), kita tidak akan merasa takut dan bersedih hati (laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun, Al Baqarah: 38). Tidak pula tersesat dan celaka (laa yadhillu wa laa yasyqoo, Taha: 123).

Gemolong, 27 Januari 2021

Lainnya