Sahabat, Sayang, dan Kepercayaan

Image by sasint from Pixabay

Kebahagiaan saya sebagai murid adalah ketika mendapat kabar dari ‘guru’ saya melalui whatsapp. Seperti pagi ini, ada dua pesan tulis yang saya terima hampir bersamaan.

“Selamat pagi Dok, ini dari Faisal, pasien ALL yang sudah bebas obat 4 tahun. Mau kontrol”.

Pesan teks berikutnya dari Alfian, yang juga pasien ALL. “Assalamu’alaikum. Dokter Eddot, bulan ini ada jadwal ke (poliklinik) hemato tanggal berapa njih? Alfian mau kontrol, pengen ketemu sama dokter”.

Ini yang sangat menyenangkan dan membahagiakan saya. Jauh lebih bahagia dan ebih senang dibanding saya ketemu dengan direktur, gubernur, menteri, bahkan ketemu presiden sekalipun. Rasa bahagia yang tak terlukiskan dengan cara apapun.

Ada dua alasan kenapa saya berbahagia. Pertama, saya masih diingat oleh pasien (baca: guru) saya. Kedua, saya bahagia karena tentu guru saya ini dalam kondisi yang sehat. Kontrol rutin yang dilakukan untuk pemantauan perkembangan dan memastikan bahwa sel-sel ganas tidak muncul lagi.

Penyakit leukemia adalah penyakit keganasan darah yang terjadi secara akut. Maka, dalam bahasa sono disingkat menjadi ALL (Acute Lymphoblastic Leukemia). Disebut akut karena terjadinya mendadak atau tiba tiba. Dalam kamus, kata ‘akut’ menunjukkan kondisi penyakit yang sifatnya mendadak atau baru saja terjadi.

Istilah akut tidak berhubungan dengan tingkat keparahan (severity) suatu penyakit. Suatu penyakit bisa saja bersifat akut tetapi tidak parah seperti penyakit pilek (rhinitis akut), atau penyakit radang amandel (tonsilitis akut). Lawan kata akut adalah kronis, yaitu suatu kondisi yang telah berlangsung lama, persisten, dan biasanya sudah menunjukkan tanda-tanda keterlibatan organ tubuh lain misanya asma, diabetes, dan hipertensi. Pengertian ini sering terbalik di dalam pemahaman dan penggunaanya dalam komunikasi di masyarakat kita.

Leukemia ada yang akut tapi juga ada yang kronis. Dalam hal ‘sembuhnya’ penyakit, kami tetap harus mengikuti perjalanan penyakit ini sampai pada titik tertentu kita akan menghela nafas agak lega. Kenapa kita harus mengikuti perjalanannya? Karena kami tidak pernah tahu apakah sel-sel ganas tersebut akan nongol lagi atau tidak. Kalaupun nongol kita tidak pernah tahu kapan nongolnya? Karena apa? Semua pertanyaan ini selalu muncul, dan kami tidak pernah bisa menjawabnya dengan pasti.

Pada akhir pengobatan leukemia bisa dilakukan pemeriksaan dengan perasat yang ada, dan kita dapata menyatakan bahwa sel-sel ganas tak ada lagi, namun segala sesuatu bisa terjadi. Maka pemeriksaan berkala perlu dilakukan, apakah sebulan sekali (pada tahun pertama) kemudian setiap dua bulan pada tahun kedua, dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya dinyatakan ‘sembuh’ setelah 5 tahun bebas obat. Begitulah kenyataan yang kami hadapi. Selalu saja ada misteri, pertanyaan, dan ada ketidakpastian.

Dalam sesi syuting DTT (Dialog Tidak Tega) kemarin saya mengawali obrolan dengan mengajukan pertanyaan kepada Cak Nun. “Kalau Cak Nun mendengar atau bertemu dengan kata dokter, tolong sebut tiga kata yang bisa mewakilinya?,” tanya saya.

Tanpa berpikir panjang Cak Nun langsung menyebut tiga kata ini: sahabat, sayang, dan kepercayaan. Saya terhenyak, dan kemudian Cak Nun menguraikan kenapa beliau mewakilkan persepsi ‘dokter’ tersebut dengan tiga kata tersebut.

Jauh melebihi ekspektasi saya tentang kata ‘dokter’.

Apa yang Faisal dan Alfian lakukan terhadap saya berlandaskan pada cinta dan sayang mereka kepada saya. Mereka menganggap saya sebagai kawan, sehingga kalau kami guyon bisa lepas, tak ada jarak formal antara dokter dan pasien. Yang ada adalah kemesraan antara manusia yang bersama-sama mempunyai PR bernama penyakit. Unsur kepercayaan yang mereka berikan kepada saya dalam menemani mereka menghadapi “rezeki” Allah ini membuat saya menjadi ciut. Saya sangat tidak tahu, saya ini sangat kecil dibandingkan dengan rahasia Allah tentang penyakit yang mereka hadapi.