Rumah Sakit yang Memahami Dunia dan Kebutuhan Anak

Foto: Acang.

Sakit, apalagi sampai masuk dan dan dirawat di Rumah Sakit (RS) adalah kondisi yang sangat ‘tidak enak’. Berbagai macam ketidakenakan yang dialami itu seperti rasa takut, tertekan, rasa tidak nyaman, dan tidak bebas.

Bagi anak-anak, kebebasan menjadi suatu yang melekat dalam diri mereka. Bebas bermain, bebas menari, bebas menggambar, bebas bernyanyi dan mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Di rumah sakit mana mungkin hal itu bisa dia lakukan.

Selain masalah kebebasan, bentuk bangunan dan ruangan di RS sangat tidak mendukung hal ini. Suasananya tidak homy, formal, bahkan cenderung ‘menyeramkan’ bagi sebagian anak. Apalagi di RS yang masih menerapkan sesuatu yang konvensional, seperti baju seragam suster dan dokter yang serba putih. Akan memperkuat aroma ‘seram’ tersebut.

Di beberapa tempat yang sudah maju, di dalam dan di luar negeri, tempat perawatan anak sakit (kata lain dari RS) dibuat sedekat mungkin dengan kehidupan anak-anak. Mulai dari bangunannya di mana ruangannya yang dihiasi gambar khas dunia anak seperti tokoh kartun, hewan dan tetumbuhan/bunga bunga.

Para dokter dan suster pun mengenakan baju yang jauh dari kesan formal. Mereka memakai baju aneka warna dengan motif yang diambil dari dunia anak. Pokoknya jauh dari sesuatu yang formal. Disediakan tempat bermain, perpustakaan anak-anak, tempat belajar ataupun menggambar. Semua ditujukan agar anak-anak mendapat dukungan secara psikologis.

Anak-anak bukanlah miniatur dari orang dewasa. Mereka mempunyai dunia sendiri. Dunia anak-anak. Mereka punya sistem hormon yang berbeda dengan orang dewasa. Dan yang sangat membedakan anak dengan orang dewasa adalah bahwa anak anak masih dalam masa tumbuh kembang yang membutuhkan support fisik dan psikologis serta support lingkungan yang memadai.

Anak-anak yang dirawat di RS mengalami ketakutan, kebingungan, dan membutuhkan kepastian, penjelasan tentang apa yang akan terjadi, termasuk penyakit dan prosedur tindakan apa yang akan mereka jalani. Untuk itu mereka secara psikologis membutuhkan dukungan yang penuh.

Aktivitas di RS yang sangat terbatas juga akan menambah beban psikologis si anak. Kalaupun si anak secara fisik membutuhkan ‘istirahat’, secara psikologis belum tentu si anak bisa beristirahat. Hal ini mungkin sering menjadi pertimbangan kita kaum medis untuk memondokkan pasien atau tidak.

Perjalanan perubahan atau efek psikologis yang dialami oleh seorang pasien bisa juga disebabkan karena sesuatu yang dikonsumsinya.

Di dunia yang saya geluti, yaitu ‘kanker’ pada anak, penggunaan kortikosteroid menjadi sesuatu yang tidak asing dan sangat lazim dalam pengobatan. Efek terapeutiknya sangat dibutuhkan, tetapi efek sampingnya juga banyak. Salah satunya adalah perubahan mood, dan akhirnya adalah perubahan perilaku dari si anak. Biasanya mereka akan berubah menjadi pemarah, sensi, dan moody. Tetapi efek samping lainnya adalah makannya banyak. Berat badan jadi naik.

Di sini sangat terlihat bahwa perubahan fisik akan mempengaruhi sisi psikisnya. Dalam hal ini obat yang dikonsumsi untuk mengobati sakit fisiknya akan mempengaruhi kondisi psikisnya.

Ada pepatah tua yang barangkali pas untuk menggambarkan kondisi ini. Pepatah tersebut berbunyi ‘you are what you eat’. Pepatah ini mengandung banyak aspek. Apakah aspek input yang masuk ke dalam tubuh kita, bisa berupa makanan, minuman ataupun obat-obatan. Atau aspek yang keluar dari tubuh kita. Individu yang mengekspos dirinya lewat sosmed sangat gampang diketahui apa yang terjadi pada dirinya..

Individu yang sedang sakit, terutama pada anak-anak sangat membutuhkan pendekatan dari beberapa aspek. Baik aspek fisik, psikis maupun sosial. Kita tidak bisa begitu saja menganggap bahwa individu sakit hanya membutuhkan obat, pemeriksaan lab, dan rawat inap. Tidak bisa seperti itu! Maka ketika sesi menengok pasien (visite) pada pasien yang sedang rawat inap, maupun pada saat berada di ruang periksa maka suasana yang hangat dan akrab sangat dibutuhkan dalam upaya proses penyembuhan penyakit.

Mens sana in corpore sano (di dalam badan yang sehat, ada jiwa yang sehat)
atau
Mensano in corpore sana (di dalam jiwa yang sehat, ada badan yang sehat).

Lainnya