Kebon (68)

Rumah “Ireng Thuntheng Peteng Dhedhet

Dok. Progress

Rumah Kontrakan Patangpuluhan antara 1978-1998, namun sampai hari ini masih semi-aktif, adalah rumah yang jelek banget, sangat murah sewanya dan level arsitektural maupun kesejahteraan penghuninya sangat rendah. Rumah itu milik penduduk Prambanan tapi tinggal di Kaledonia Baru yang tidak pernah merasakan dinamika Rupiah, sehingga ia menentukan harga sewa rumah itu sangat murah. Sekitar sepertiga bahkan seperempat harga normal yang berlaku umum.

“Pulung” rumah itu diperoleh oleh Cak Adil Amrullah, adik saya yang memang dianugerahi Allah keistimewaan-keistimewaan khusus. Cak Dil juga menjadi kunci dari komunitas bebrayan dan pembelajarannya sendiri. Ia merintis, mendirikan, dan menerbitkan Majalah “Kuntum” Ikatan Pelajar Muhammadiyah DIY sejak pertengahan era 1980-an yang kabarnya masih terbit sampai hari ini.

Tentulah nama “Kuntum” yang romantik dan harum karena langsung terasosiasikan ke bunga itu sumbernya adalah firman Allah:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Posisi tata bahasa “kuntum” secara harfiah adalah “kalian telah menjadi”. Entah bagaimana maksud Allah. Kalau faktanya sama sekali tidak. Sejak 15 abad silam sepeninggal Kanjeng Nabi, Kaum Muslimin sama sekali belum menjadi “khoirul ummah”, meskipun Islamnya sangat luas menyentuh masyarakat dunia saat ini. Jadi mungkin maksud ayat itu adalah manusia plus Al-Qur`an adalah masyarakat terbaik di antara yang lain-lain di muka bumi.

Tidak ada indikator cukup kuat bahwa Ummat Islam cukup mensyukuri dengan sungguh-sungguh dianugerahkannya Al-Qur`an oleh Allah. Fakta syukur yang membuat mereka merasa nikmat mempelajarinya, mentadabburinya, menggali nilai dan hikmahnya.

Hal seperti itu masih belum menjadi “main mindset” kehidupan kaum Muslimin. Masyarakat Islam lebih menonjol eksistensinya sebagai “tabi’it-tabi’in”nya Nabi-nabi materialisme, kapitalisme dan liberalisme.

Khasanah nilai Al-Qur`an belum mengaktualisasi, belum mewujud atau tertransformasikan secara optimal dalam kehidupan kaum Muslimin apalagi masyarakat dunia keseluruhannya.

Tidak ada negeri Islam yang bisa diandalkan untuk menjadi sampel dari “Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Mungkin “baldatun thayyibatun”nya relatif untup-untup ada gejalanya, tapi “Rabbun Ghafur”nya bukan hanya samar tapi cenderung gelap.

Apalagi di Indonesia. Statistiknya jelas ummat Islam adalah mayoritas penduduknya, Tetapi wajah politiknya, perekonomiannya, kebudayaan dan akhlaknya, sama sekali belum “baldatun thayyibatun”, apalagi terlalu banyak kasus kedhaliman dan permalingan yang sukar dibayangkan Indonesia memperoleh “Rabbun Ghafur”.

Cak Dil sendiri sekian tahun sesudah ia merintis “Kuntum” dan kemudian bergiliran pengelolaannya, pada suatu malam ditolak untuk tiduran di bangku depan Kantor “Kuntum”. Seorang dari dalam bertanya: “Bapak ini siapa?”.

Tidak mungkinlah Cak Dil lantas menjawab: “Saya pendiri Kuntum”. Yang adik saya lakukan hanyalah bangun dari menggeletaknya, berdiri dan ngeloyor pergi.

Masih alhamdulillah anak-anak “Kuntum” cukup beradab sehingga tidak melaporkannya ke Pak RT atau Polsek sebagai tamu gelap yang mungkin mengincar akan mencuri sesuatu di kantor “Kuntum”.

Kita semua sudah sangat hapal dan mafhum kepada sangat rendahnya kesadaran sejarah bangsa Indonesia. Hanya saja jangan sampai suatu hari Kanjeng Nabi Muhammad Saw atau Nabi Khidlir tiduran di teras rumahmu, lantas kau tanya “Bapak ini siapa?”. Dan demi melindungimu beliau berdua tidak mengaku siapa beliau, melainkan hanya ngeloyor pergi.

Insyallah Kanjeng Nabi dan Nabi Khidlir juga tidak akan melakukan seperti yang biasa dilakukan oleh Gus Ud Kedungcangkring. Ia lewat di tepi jalan, ada dahan ranting daun dan buah yang keluar ke area jalan, padahal batangnya di halaman rumah. Gus Ud iseng memetik sebuah pencit atau mangga kemampo. Ketahuan oleh yang punya, diteriaki dan diusir. Gus Ud pun lari terbirit-birit. Besoknya pohon mangga itu mati, rontok semua daun-daunnya, menguning dan batangnya ambruk.

Itu sama dengan kejadian ketika dalam suatu acara Parade Terbangan (shalawatan) ISHARI yang disebut Kombinasi di Menturo, seseorang melihat Gus Ud berdiri buka sarung dan kencing di halaman Langgar Etan dekat area Padangbulan, kemudian dilaporkan. Tiba-tiba Gus Ud teriak marah-marah: “Tuwwaek arek-arek iki. Terbangan gak eplek kabeh”. Kemudian beliau berlari, merebut satu terbang dari tangan Sing mBawa` (yang memimpin shalawatan). Kemudian meneruskan teriak: “Ngene lho terbangan ikuuuu”. Beliau tabuh terbang itu dan “pettt” mati semua lampu petromak sehingga arena Kombinasi itu gelap pekat.

Setengah jam kemudian jamaah menyalakan lagi “damar-damar strongking” itu sambil menggerundah: “Waaah Mbah Ud iki ngrepoooti ae…”.

Andaikan saya seorang Waliyullah dan dianugerahi karomah seperti Gus Ud, saya akan ke Istana malam-malam. Saya padamkan semua nyala listrik. Saya hembuskan dari mulut saya “Sirep”. Kemudian saya sebar serbu “Rawe” ke seluruh ruangan. Nanti mereka semua penghuni istana dan para angggota Paspampres akan sibuk garuk-garuk seluruh badannya.

Tapi saya bukan Wali. Tetangga rumah Patangpuluhan membangun pagar mewah depan rumahnya, untuk menyaingi sehabis saya memperbaiki pagar bambu depan rumah Patangpuluhan. Saya minta Saiful Imron beli cat hitam banyak-banyak. Seluruh pagar, rumah, tembok, jendela, pintu, apa saja, bahkan lantai ruang depan, kami cat hitam.

Rumah Patangpuluhan benar-benar menjadi “omah ireng thuntheng”, suasananya “peteng dhedhet”. Padahal neraka saja terang benderang oleh nyala api berkobar-kobar di sana sini.

Lainnya