Rasa Takut yang Konstruktif dan Proporsional

Siapa yang akan meragukan ketulusan sahabat Abu Ubaidah Al Jarrah ra.? Curriculum vitae hidup Abu Ubaidah selalu berada di samping Nabi saat berperang. Bukan untuk bersembunyi, tapi ia malah memposisikan dirinya menjadi perisai hidup buat baginda Nabi. Kelak dia dikenang sebagai “si tampan yang ompong”. Dua gigi depan milik Abu Ubaidah rompal, setelah mencabut perisai besi yang menancap di wajah Rasulullah saat perang Uhud. Nabi Saw. menggelarinya dengan sebutan “orang yang kuat lagi terpercaya”.

Dan siapakah juga yang dapat menyangsikan keberanian dan ketegasan prinsip seorang Umar bin Khattab ra.? Curriculum vitae hidup Umar seolah-olah menjelaskan bahwa “saraf takut” pada diri Umar telah hilang. Umarlah sahabat pertama yang menyarankan agar risalah dakwah disampaikan secara terbuka di publik. Umarlah sahabat yang berhasil menundukkan superpower dunia ketika itu, Persia. Dan Umarlah yang tercatat dalam sejarah membuka kawasan-kawasan berpenghuni banyak dalam peradaban umat manusia (oukemene) masuk dalam rengkuhan Islam. Firasat dan prediksi perenungan masa depannya sering dibenarkan oleh Al-Qur’an. Nabi Saw menggelarinya dengan “Al-Faruq”, yang artinya orang yang mampu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Pernah Nabi Saw. memujinya dengan pujian yang tidak pernah ia berikan kepada siapapun “Jika setelahku masih ada Nabi maka ia adalah Umar bin Khattab”.

Mereka berdua, Umar bin Khathab dan Abu Ubaidah, merupakan sahabat utama Nabi, termasuk orang-orang dalam lingkaran terdekat Nabi. Keduanya oleh Nabi bahkan termasuk di antara dari sepuluh orang yang dijamin pasti akan masuk ke dalam surga.

Namun pernah di suatu event, Abu Ubaidah “berbeda pandangan” dengan Umar bin Khattab ra. ketika menyikapi pandemi. Ketika Abu Ubaidah menjadi gubernur Syam, negerinya dilanda wabah Amwaz; suatu penyakit menular yang dibawa oleh orang-orang Roma. Ia mempertanyakan sikap Umar bin Khattab selaku Khalifah yang membatalkan kunjungan ke wilayah kerjanya (di Syam) karena alasan wabah.

Takutkah engkau Umar?,” tanya Abu Ubaidah. Umar menghela “Duhai Abu Ubaidah, Aku berharap pertanyaan begini tak muncul dari dirimu”. Dan Umar pun menegaskan, “Benar saya lari (takut) atau berpaling dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain”.

Umar tidak denial (menyangkal) ancaman bahaya wabah dan juga tidak membabi buta mengatasnamakan bertawakkal lalu maju nekat menghadapi wabah. Umar Al-Faruq yang dikenal sangat pemberani pun memilih “menjaga jarak dan mengambil jurus menghindar”. Kelak mikrobiolog di abad ke-21 mengkonfirmasi “bahwa manusia mustahil menang apabila perang secara vis-à-vis melawan mikroorganisma”. Bahkan bukan hanya soal perang, boleh dikatakan manusia mustahil dapat hidup tanpa kehadiran mikroorganisma. Jasad renik yang hidup bersama di dalam tubuh manusia diperkirakan jumlahnya 10 kali lebih banyak dari jumlah sel-sel di dalam tubuh kita sendiri. Konon bila seluruh mikrobioma ini ditimbang pada orang dewasa, bobotnya bisa mencapai 2 kg. Mereka disebut “mikrobioma”. Sehingga kini berkembang semacam pandangan, kumpulan komunitas mikrobioma ini dimungkinkan juga merupakan organ penting tersendiri dalam tubuh kita. Bila bukan organ dalam pengertian secara struktural, (seperti jantung, paru, ginjal dsb.), populasi keberadaan mereka berperan secara fungsional di dalam tubuh. Triliunan bakteri, jamur, virus yang menjadi kumpulan mikrobioma itu bukan sekadar numpang iseng tinggal didalam diri kita. Di permukaan kulit, mikrobioma ini melindungi kulit dengan melawan invasi dari bakteri yang patogen oportunistik, bahkan dikatakan mereka terlibat membantu dalam penyembuhan luka. Di dalam tubuh, mereka dapat berperan sebagai agen rahasia yang memperkuat sistem kekebalan tubuh dan menghasilkan molekul pensinyalan yang mudah menguap yang penting untuk komunikasi di dalam tubuh dan sistem saraf. Di dalam rongga usus, wadah populasi terbesar dari mikrobioma ini bahkan bersifat mutlak dalam bertugas membantu pencernaan kita. Tanpa bantuan mikrobioma dipastikan pencernaan manusia akan terganggu. Mereka menghasilkan enzim untuk pencernaan karbohidrat kompleks dan ekstraksi nutrisi dari makanan yang kita konsumsi. Hidup pada hakikatnya merupakan jalinan kerjasama antar dan intra organisme.

Illustration for museum exhibit display showing the pathway in the brain of the fight or flight response in humans. © Wendy Beth Jackelow

Wujud “rasa takut” Umar ibn Khathab masuk zona merah mungkin lebih tepat disebut sebagai sikap “waspada”. Sikap ini sebenarnya bersumber dari anjuran Rasulullah Saw sendiri, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya”. (Hadits Bukhari-Muslim).

Mbah Nun kerap menjelaskan bahwa defenisi taqwa secara mudahnya adalah menjalani hidup penuh kewaspadaan. Menafikan alarm bahaya dan bersikap denial terhadap suatu stimuli yang secara nyata mengancam adalah sebuah kebodohan. Maju nekad tanpa pertimbangan keilmuan adalah sebuah sikap kesembronoan. Mentadabburi sikap pilihan Umar bin Khatthab untuk menghindar hemat saya berkaitan dengan “rasa takut yang proporsional” dalam konteks menghadapi wabah.

Rasa takut itu tidak serta merta buruk. Takut pada hal yang membahayakan sesungguhnya bersifat alami dan merupakan bagian dari fitur yang memperkaya naluri manusia. Pengolahan rasa takut ada pada area emosi di otak yakni di sistem limbik. Lebih spesifiknya berada di piranti anatomi yang terletak jauh dan dalam serta berpasangan yang bernama amigdala.  Rasa takut menjadi unsur penting dalam upaya bertahan hidup.

Ketika amigdala di otak kita mempersepsi adanya ancaman, maka tanpa perlu dipikirkan, spontan ia akan membunyikan saklar “alarm bahaya” lewat jalur sistem saraf. Amigdala menyiapkan seseorang untuk menghadapi setiap ancaman bahaya lalu mendorong orang memilih respons sikap “kabur atau bertempur” (fight or flight). Sistem saraf merupakan suatu sirkuit jaringan kabel yang akan mengirimkan pesan secara elektrik supercepat (432 km/jam) ke seluruh tubuh kita untuk berespon menanggapi ancaman tersebut.

Di dalam tubuh manusia, ada dua sistem saraf otonom yang bekerja secara berlawanan yang jaringan kabelnya terhubung ke seluruh organ tubuh kita. Pertama, sistem saraf simpatis yang tugasnya memberi tahu tubuh kita kapan harus siaga. Kedua, sistem saraf parasimpatis yang bertugas memberi tahu tubuh kapan dapat melakukan relaksasi. Kerja di antara kedua model saraf ini analog dengan “gas dan rem” dalam sebuah kendaraan. Ketika berada dalam keadaan tenang, sesungguhnya kedua model saraf itu bekerja saling dorong dan bertahan dalam sebuah tata harmoni keseimbangan yang sempurna. Kondisi yang seimbang, proporsional antara “tegangan dan regangan” merupakan default dalam fisiologi keseharian. Ketika kita berada dalam kondisi stres, maka sistem saraf simpatislah yang dominan mengambil alih kendali. Ketika sistem saraf simpatis ter-stimulasi, maka tubuh melepaskan hormon-hormon stres yakni “adrenalin dan kortisol”. Pacuan simpatik itu mengakibatkan perubahan fisiologis yang dramatis di dalam tubuh yang dapat kita kenali dengan mudah tanda-tandanya. Berlimpahnya hormon-hormon stres dalam darah akan menyebabkan sensasi fisik yang bahkan dapat kita kenali gejala-gejalanya seperti: denyut jantung berdebar-debar, frekuensi jumlah tarikan nafas bertambah, otot-otot menegang siap untuk lari atau melawan, telapak tangan berkeringat, hingga pupil mata melebar penuh. Dan nun jauh apa yang terjadi di dalam tubuh kita juga kondisi perubahan metabolik yang dramatis; liver melepaskan cadangan gulanya ke dalam darah untuk menyiapkan ledakan energi yang besar.

Semua perubahan-perubahan fisiologis yang dramatis itu, pada dasarnya merupakan refleks-refleks yang didesain Tuhan, agar manusia memiliki refleks cepat ketika berhadapan dengan bahaya dan ancaman.

Takut pada Corona sebenarnya adalah hal yang wajar, karena memang faktanya Novel Corona adalah virus yang berbahaya. Rasa takut dalam kondisi pandemi seperti ini, membantu kita bertahan hidup, menanamkan sikap waspada yang pada akhirnya mengafirmasi sikap untuk mengikuti aturan-aturan yang sama-sama telah disepakati untuk mengantisipasi penyebarannya. Takut yang proporsional berada di antara sikap-sikap ekstrem, di antara sikap abai (denial) dan rasa takut overdosis (phobia).

Sikap-sikap denial terhadap wabah, atau sekedar meremehkan sudah ada sejak awal pandemi. Orang mengubah sikapnya misalnya ketika ia mengalami langsung secara empirik penyakit Covid-19 atau mungkin karena menyaksikan orang-orang dekatnya terdampak wabah, tapi juga tetap ada yang kekeuh istiqomah dalam per-ngeyelan-nya. Mengapa sebagian orang bersikeras tetap bersikap denial? Tentu banyak faktor yang berpengaruh, sejak aspek informasi, tekanan ekonomi, pengaruh kultural atau paham religius. Membanjirnya penyebaran infodemik atau berita hoax di media sosial dan ketidakjelasan penanganan di pusat atau daerah sedikit banyak juga mempengaruhi sikap orang-orang. Sikap-sikap denial juga dapat mengambil bentuk yang tampaknya anjuran positif tapi sebenarnya bermuatan penyangkalan, misalnya anjuran seperti: “Jauhi tontonan tentang Covid, berhentilah membaca berita-berita pandemi, hentikan segala tindakan testing dan tracing dsb bila semua itu dilakukan niscaya Covid akan hilang dengan sendirinya. Terakhir mungkin kita pernah mendengar pemberitaan yang pesannya hendak disamarkan, bahwa misalnya “indikator kematian Covid tidak akan dikeluarkan secara permanen”. Tanpa data-data objektif, sesungguhnya kita berada dalam kegelapan dalam mengatasi pandemi ini. Salah satu strategi berhadapan dengan mikroorganisme yang mewabah justru adalah data-data yang mengantarkan kita mampu melakukan pemetaan. Dari data-datalah kita bisa menilai fluktuasi naik atau melandainya kasus yang riil terjadi.

Di sudut ekstrem lainnya; ada phobia atau rasa takut berlebihan pada Covid, juga dapat melumpuhkan akal sehat. Dalam fisiologi, ancaman rasa takut itu baik yang objeknya nyata secara fisik ada, ataupun yang berasal dari sesuatu konsep abstrak “yang dibuat-buat”, maka otak akan meresponsnya secara sama. Tarikan gas dalam irama fisiologi tubuh akan terjadi terus-menerus jika rasa takut itu tidak terkelola dengan baik atau disikapi secara proporsional.

Pandemi yang durasi perlangsungannya lama tanpa kepastian kapan akan berakhir menimbulkan akumulasi dosis kecemasan dan ketakutan yang menetap juga akan menimbulkan malapetaka kesehatan lain yang cukup berbahaya. Tubuh manusia tidak dirancang untuk menghadapi stres kronis yang berlangsung lama. Ancaman bahaya yang memantik fitur saraf simpatis diperuntukan untuk menghadapi stres dalam jangka pendek. Adrenalin yang dilepaskan membanjir dalam darah diperuntukan mengatasi keadaan penyelamatan diri “bertempur atau kabur” seketika. Rasa takut menghadirkan stres, dan stres dalam dosis “yang tepat” diperlukan dalam hidup. Hidup ini perlu ada gairah perlu adrenalin, tapi hormon ini tidak boleh terus menerus membanjiri tubuh kita. Adrenalin merupakan jenis hormon pacuan yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Seorang dokter bedah digestif di Jepang, Dr. Shigeo Haruyama, pernah mengilustrasikan bahwa kekuatan hormon Adrenalin (juga Nor-Adrenalin) jauh lebih beracun dari bias seekor ular Kobra. Maka agar tubuh kita tidak selalu berada dalam mode fight or flight berkepanjangan dan permanen, perlu manajemen stres dan penyikapan pada persepsi ancaman secara lebih bijaksana dan proporsional.

Apa yang mungkin dapat kita lakukan untuk mengerem aktivitas simpatik itu?

  1. Latihan olah nafas

    Cara termudah melakukannya adalah dengan latihan olah nafas. Saat kita ambil nafas dalam, menurut penelitian, pesan keselamatan dikirim kembali ke otak, dan saraf parasimpatik (sebagai rem) mulai diaktivasi. Trik ini seperti menghidupkan “kode curang”, dengan “memanipulasi” sistem saraf kita untuk kembali seimbang. Setiap pagi sambil berjemur di matahari pagi, kita mungkin dapat melakukan semacam kegiatan relaksasi. Tarik nafas dalam 5 detik, lalu tahan lalu keluarkan dalam 5 detik. Rata-rata orang bernafas 12 sampai 20 kali per menit, tapi bila kita melambatkannya menjadi enam nafas, kegiatan itu secara signifikan dapat juga menurunkan frekuensi denyut jantung kita. Menarik nafas dalam dan menahannya sejenak, juga akan baik buat melatih elastisitas kantung-kantung udara (alveolus) di paru-paru kita agar tidak mudah kolaps. Novel Corona Virus terutama menyerang sistem pernafasan, menyebabkan keradangan pada jaringan paru yang pada ujung kefatalannya dapat menyebabkan gagal nafas. Melatih nafas adalah hal termudah, gratis, dan bermanfaat untuk dilakukan. Tentu akan menjadi lebih sempurna lagi melakukannya sambil disertai dzikir, melafadhkan asma-asma Allah yang mudah diucapkan. Asma-asma yang terdiri dari satu atau dua suku kata. Berlatih nafas sambal berdzikir, berarti “buy one gets two “! Paru-paru terlatih kuat dan hati menjadi tenteram. Al-Qur’an mengatakan “Hanya dengan berdizikir mengingat Allah hati menjadi tenang”.

  2. Hindari stimuli-stimuli yang bisa memicu stres yang tidak perlu. Terutama berita dan informasi yang bersifat hoax. Yang menyebar di masa pandemik bukan hanya virus, tapi juga infodemik yakni informasi palsu yang juga membanjiri kepala kita. Minimal berita-berita tersebut dibatasi.
  3. Tetap terhubung dan bersilaturahim. Terhubung dengan orang lain secara langsung dan otentik mungkin menjadi sesuatu yang semakin jarang kita lakukan di saat seperti ini. Padahal manusia didesain Tuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial. Tetap menjalin kontak, bersilaturahmi lewat berbagai acara (diskusi, pengajian, obrolan akrab meski itu sebatas diwadahi platform media sosial) adalah hal penting yang dilakukan untuk mengimbangi aktivitas simpatik.
  4. Opsi-opsi atau kiat-kiat sederhana untuk rest and digest atau mengaktivasi saraf parasimpatis tentu dapat diperluas dan dikembangkan lagi. Poin utama yang diharapkan adalah bagaimana dapat menghadirkan “ketenangan“. Ketenteraman adalah kondisi basal atau fase istirahat. Kondisi di mana keseimbangan bagi tubuh mencapai takaran maksimalnya. Dalam kondisi tenteram seimbang, imunitas manusia juga menjadi maksimal dalam bekerja.

(wallahu a’lam)

Lainnya