Radikal Meneladani

Photo by Amanda Lins on Unsplash

Allah Swt memberi kita kesempatan untuk memilih apa yang akan kita kerjakan, memilih menjadi mirip seseorang tokoh besar, memilih menjadi tokoh hebat di dunia atau fokus menjadi mirip seperti Nabi Muhammad Saw. Ada sebuah jebakan yang mungkin juga adalah sebuah jurus jitu dari syetan penggoda untuk menggoda kita dalam keseriusan menjadi peniru Nabi Muhammad Saw. Nabi adalah kekasih Allah yang memang sudah ditunjuk dan ditentukan jumlahnya oleh Allah.

Manusia seperti kita tidak akan mungkin menjadi seperti Nabi Muhammad. Jangankan menjadi seperti Nabi, menjadi seperti wali atau ulama saja mungkin membutuhkan proses yang kita kesulitan melaluinya.

Jadi, apa iya meniru Nabi Muhammad dengan serius, sungguh-sungguh, dan berkelanjutan bisa dikerjakan manusia? Atau cukup memotret Nabi Muhammad semampu kita dan itu yang kita tiru? Ini adalah jebakanya. Fakta-fakta Nabi Muhammad dan kenabian bisa “menjebak” kita untuk memilih optimalitas yang lebih rendah dalam meneladani Nabi Muhammad. Bisa juga kan, kita tabrak fakta-fakta bahwa manusia tidak bisa menjadi seperti Nabi Muhammad atau fakta tentang nabi Muhammad adalah nabi penutup atau penyempurna atau yang terakhir? Fakta ini kita tabrak untuk bisa menjadi dasar kusungguhan kita meniru Nabi Muhammad. Kesungguhan untuk terus menjadi seorang Al Amin, kesungguhan untuk terus tersenyum, nyedulur, bermanfaat, dan kesungguhan menjadi pengasih penyayang.

Jika kita cermati bahwa harus Nabi Muhammad yang viral di diri kita, bukan kita memilih orang lain yang viral dalam diri kita. Jika kita menyerah dalam hal meneladani atau menjadi seperti Nabi Muhammad dengan memilih titik optimal yang rendah dan tidak terus memperbaharuinya, maka kesadaran untuk berhenti meneladani Nabi Muhammad juga timbul. “Yowes aku ora Nabi kok, tak ngene ae lah”, “Iku lak Nabi iso sesabar iku, aku kan menungso biasa”. Mengandung sebuah keputusasaan dan keberhentian mencontoh Nabi Muhammad dalam sikap seperti itu.

Semoga kita semua menjadi seorang yang membabi buta dalam meneladani Rasulullah Nabi Muhammad Saw. Dan bisa menjadi cermin untuk memantulkan cahaya (Nur Muhammad) dalam setiap ruang yang kita ada di sana. Amin.

Beberapa tahun berkumpul dan mempelajari Maiyah, Maiyah menyuguhkan sebuah pandangan tentang kebebasan memotret Rasulullah, terserah kita dari angel manapaun dan pakai kamera apapun. Kebebasan ini yang menjadi jalan untuk radikal mempelajari Rasulullah, karena tidak berhenti pada potret-potret yang sudah ada. Tidak berhenti pada pemahaman ulama A, B atau C. Kita bebas memandang Rasulullah dangan mata dan keterbatasan kita. Tidak dogmatis harus memakai definisi si A B atau C. Menempatkan dan menugaskan otak dan hati agar mengolah sendiri dan merepresentasikan sendiri bagaimana Rasulullah. Dan sangat tebal tersirat dan berkali kali juga disampaikan dalam forum-forum Maiyah, bahwa Maiyah adalah sesuatu yang menjadikan Rasulullah satu-satunya panutan yang harus dianut. Selain Rasulullah boleh, tapi sifatnya bukan harus.

Lainnya