Puncak dari Harapan adalah Keyakinan

Catatan Kenduri Cinta edisi 20 Juni 2021
Dok. Kenduri Cinta

1 Tahun Wafatnya Syeikh Nursamad Kamba

Momen bulan juni, memang sepertinya akan menjadi momen yang berkesan bagi Kenduri Cinta. Mbak Fatin, istri dari almarhum Syekh Nursamad Kamba kemarin juga hadir. Juga Mas Sudjiwo Tedjo, dengan gayanya yang khas, namun sudah tidak gondrong.

Mbak Fatin bercerita bagaimana Kenduri Cinta pada awal-awal mula muncul, karena Mbak Fatin sendiri merupakan salah satu jaringan penyair di Taman Ismail Marzuki. Dan sebenarnya, pada awal-awal lahirnya Kenduri Cinta, Syekh Nursamad Kamba ikut mengantarkan Mbak Fatin, hanya saja beliau menunggu di mobil, atau sekadar menyimak dari kejauhan.

Momen pertemuan pertama antara Mbah Nun dengan Syekh Nursamad Kamba terjadi pada saat Mbah Nun, Bu Via, dan KiaiKanjeng diundang oleh KBRI di Mesir. Kebetulan saat itu Syekh Nursamad Kamba sedang bertugas sebagai atase pendidikan KBRI di Mesir. Hal yang kerap juga disampaikan Syekh Nursamad Kamba.

Bagi Mbak Fatin, antara Syekh Nursamad Kamba dengan Maiyah dan juga Kenduri Cinta khususnya memang terjalin hubungan sangat erat. Mbak Fatin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Kenduri Cinta terutama juga Mbah Nun, karena bagi Mbak Fatin, Kenduri Cinta dan Maiyah sangat kompatibel dengan Syekh Nursamad Kamba, sehingga Syekh selalu merasa betah ketika hadir di Maiyahan.

Tidak hanya betah, tetapi juga membangkitkan semangat yang tidak seperti biasanya. Seringkali, saat Kenduri Cinta diselenggarakan, Syekh Nursamad Kamba mempersiapkan diri sejak sore hari untuk beristirahat, tidak jarang bahkan Syeikh Nursamad Kamba dan Mbak Fatin memesan satu kamar di Hotel Alia, seberang Taman Ismail Marzuki saat Kenduri Cinta diadakan, tentu saja untuk tempat transit.

Mbak Fatin kemudian berceloteh, bahwa pada akhirnya Mbah Nun dan Mas Tedjo yang awalnya adalah sahabat dari Mbak Fatin justru menjadi lebih dekat hubungannya dengan Syekh Nursamad Kamba, melebihi akrabnya Mbak Fatin dengan Mbah Nun dan Mas Sudjiwo Tedjo sebelumnya. Saking akrabnya, ada momen dimana Syeikh Nursamad Kamba merasa resah saat SMS beliau kepada Mbah Nun tidak direspons oleh Mbah Nun, dan baru direspons pada waktu yang lama. Namun ternyata, begitu juga yang dirasakan oleh Mbah Nun. Uniknya, baik Syekh Nursamad Kamba maupun Mbah Nun, memverifikasi keresahan itu melalui istri beliau. Mbah Nun mengungkapkan keresahannya itu kepada Bu Novia, sementara Syeikh Nursamad Kamba mengungkapkan keresahannya kepada Mbak Fatin.

Mas Sudjiwo Tedjo memiliki kenangan tersendiri. “Satu-satunya orang yang sukses memaksa saya shalat adalah Buya Nursamad Kamba,” ungkap Mas Tedjo. Momen itu terjadi saat ia diundang ke Jeddah dan tinggal di rumah Syekh Nursamad Kamba yang saat itu sedang ditugaskan menjadi Atase Haji KBRI di Jeddah. Saat memasuki kamar, ada sebuah sajadah yang sudah dihamparkan, tidak dilipat. Mas Sudjiwo Tedjo merasa sungkan untuk melipat sajadah itu, dan menganggap bahwa itu adalah pertanda dari Syekh Nursamad Kamba untuk dirinya.

Memang pada akhirnya, Mas Sudjiwo Tedjo memiliki hubugan yang juga sangat dekat dengan Syekh Nursamad Kamba, bahkan menulis buku bersama. Sampai pada suatu hari Syekh Nursamad Kamba berwasiat kepada Mas Sudjiwo Tedjo untuk membawakan lagu “Titi kolo mongso” pada saat pemakaman Syekh Nursamad Kamba, dan hal itu benar-benar ia lakukan saat hari pemakaman Syekh Nursamad Kamba di TPU Kampung Dukuh, tahun lalu.

Begitu juga pada momen ketika Mas Sudjiwo Tedjo rekaman lagu “Asmaul husna”, Syekh Nursamad Kamba dan Mbak Fatin ikut terlibat, bahkan Syekh NUrsamad Kamba ikut urun melengkapi syair lagu tersebut.

Mbah Nun kemudian berkisah bahwa Bu Novia juga memiliki keakraban yang unik dengan Syekh Nursamad Kamba. Hampir di setiap momen pertemuan antara Mbah Nun dengan Syekh Nursamad Kamba, jika Bu Novia ikut hadir, selalu saja keduanya saling bertukar khasanah humor dan tebak-tebakan. Sehingga, acapkali ketika ada momen perjumpaan antara Bu Novia dan Syeikh Nursamad Kamba, dari kejauhan, keduanya sudah saling tertawa, karena sudah pasti masing-masing akan menyiapkan tema humor dan tebak-tebakan yang baru.

Kado Istimewa 21 Tahun Kenduri Cinta dari Mas Ian L. Betts

Mas Ian L. Betts sebenarnya sudah berada di Indonesia, sudah kembali dari Thailand. Namun, karena protokol kesehatan, Mas Ian masih harus menjalani masa karantina di rumah, sehingga tidak bisa bergabung pada momen Kenduri Cinta edisi Juni kemarin.

Dalam kesempatan ini, Mas Ian menitipkan sebuah puisi yang kemudian dibacakan oleh Mas Iwan Gunawan setelah penampilan dari Krist Segara.

21 tahun Kenduri Cinta

1000 ketemuan dan acara Maiyah. Apa yang tercapai dalam perjalanan yang panjang ini, jalan yang sampai ke manca negara dan dilakukan dengan niat untuk membangun nilai yang berbasis Islam tetapi inklusif dan progressif, jalan yang panjang tetapi sunyi sekalian sekeras suara guntur

21 tahun Kenduri Cinta…

Sekarang sudah satu generasi yang bermaiyah. Kenduri Cinta, yang berasal dari hijrah dari kekacauan reformasi, kepada cahaya yang cerah. Dipimpin oleh Cak Nun dengan bantuan dari tokoh yang signifikan, dan yang penuh arti masing2. Cak Fuad, Syekh Nursamad Kamba, Mas Toto, Mas Uki, Andi Priok, Pak Franky Welirang, Mbah Surip dan masih banyak lagi, we love you full! Yang sudah wafat, kami ingat dengan cinta yang tinggi. Yang tetap sama kita, kami sangat bersyukur. Mas Gandhie, Rony, Syahid, Adi: Sekretaris, administrator dan pendamping yang setia dan konstan, kami sangat berterima kasih. Letto, Sabrang, bagian besar dari Kenduri Cinta, nadanya sebelum cahaya, ruang rindu, guru muda untuk generasi yang datang dan yang akan berikut. Kontribusi anda adalah yang sangat besar.

21 tahun Kenduri Cinta…

KiaiKanjeng, yang menggembirakan hati kami setiap saat mereka pentas, dengan gamelan, koor, suara dan instrumen lain, kalian bisa menghadirkan wahyu setiap saat kalian hadir di acara Kenduri Cinta di TIM, Mbak Via dengan lagu Kalimah, nothing compares to u…

21 tahun Kenduri Cinta…

TIM adalah pusantnya, tetapi selama 21 tahun ini kita hadir kemana saja selain TIM? Ke ratusan masjid, lapangan yang terbuka, sekolahan, pesantren, madrasah, gedung pemerintah, kantor, gereja, bahkan katedral dan concert house. Acaranya diisikan di seluruh Indonesia, Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur, dan diluar negeri juga, ke Malaysia, Mesir, Moroc, UK, Jerman, Italy, Finland, Belanda dan Australia.

21 tahun Kenduri Cinta…

Ketemu siapa selama ini? Instansi pemerintah, pimpinan kelompok, fraksi, ormas dan partai, tokoh nasional, orang yang sakit, orang yang gila, orang yang beda, orang yang mampu dan, terutama, orang yang tidak mampu, orang besar dan orang kecil, tetapi terutama orang yang perlu. Dengan tujuan apa? Untuk menunjuk kerukunan budaya dan peradaban yang Islami dan otentis dalam gerakan Maiyah. Untuk meluruskan jalan yang sulit, dan masalah yang rumit, antara kelompok dan instansi. Untuk memfasilitasikan perubahan sosial. Untuk menghadirkan peluang yang “spiritual”. Untuk menyalurkan “power” yang hanya bisa dihadirkan saat bermaiyah. Untuk menyayangi dan mencintai semua yang memilih untuk ikut bergabung. Untuk membangun negara Maiyah dalam hati masing-masing. Untuk bersuara yang keras selama mengikuti jalan yang sunyi.

Cak Nun di tahun 2008 pernah menulis esai “9 untuk Finlandia”. Ini adalah “9 baru” untuk pendiri Kenduri Cinta, Cak Nun:

Yang menaman benihnya
Yang menyalur cahayanya
Yang menunjuk jalannya
Yang selalu temanya
Yang menulis bukunya
Yang mencintai Nabinya
Yang memimpin jamaahnya
Dan memeluk semuanya…
Saya bisa berlanjut, tetapi cukup disini, untuk sekarang.

21 tahun…terakhir

Tahu dari saya sebagai saksi dari luar, yang kita mengalami dalam Kenduri Cinta adalah sesuatu yang unik. Tahu dari saya sebagai saksi dari dalam bahwa Kenduri Cinta adalah cinta yang murni, yang sifat beriligi dan manusiawi. Tahu dari saya sebagai seorang “pilgrim” yang ikut jalan sunyi: jalan ini berakhir dengan Allah.

17 tahun yang lalu, kira-kira bulan April 2004 kalau tidak salah, saya diberi peluang untuk ikut Kenduri Cinta untuk pertama kali. Yang hadir sebagai narasumber disaat itu (atau acara yang berikut) adalah Anand Krishna, Pastor Nathan Setiabudi, Ahmad Dani dan banyak tamu yang lain. Banyak anekdot dari saat itu dapat dibaca dalam buku “Jalan Sunyi Emha”, yang juga berasal dari pengalaman saya secara langsung di Kenduri Cinta. Sebelum itu saya belum pernah ikut acara separtisipartif Kenduri Cinta.

Inilah Kenduri Cinta saya, Kenduri Cinta anda, Kenduri Cinta kita semua. Ayo, untuk 21 tahun yang datang, mau jalan kemana?

Kenduri Cinta Juni 2021 dipuncaki dengan momen potong tumpeng oleh Mbah Nun kemudian diserahkan kepada Ustadz Noorshofa oleh Tri Mulyana. Mbah Nun kemudian berpesan agar kita semua mengambil hikmah dari momen 21 tahun perjalanan Kenduri Cinta. “Rasa syukur kita terhadap 21 tahun Kenduri Cinta ini harus sebanyak mungkin kita penuhi dengan muatan-muatan rasa sayukur kepada Allah untuk supaya hari-hari berikutnya kita berada dalam situasi yang selalu maziidah, selalu ditambahkan rezeki oleh Allah, diberi kemudahan oleh Allah dan seterusnya,” Mbah Nun menambahkan.