Kebon (121)

Puja-Puji Para Pemimpin Bangsaku

Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Kita teruskan perayaan syukur kepada Allah Swt atas anugerah Indonesia raya. Kita lantunkan puja-puji buat para pemimpin bangsa. Orang-orang besar keturunan orang-orang besar. Yang ditiupkan ke dalam jiwa mereka kekuatan bumi dan langit sekaligus. Sehingga sangat mudah menaiki singgasana, sangat kuat tatkala berkuasa, dibela sangat banyak orang dengan seluruh jiwa raga dan hidup matinya.

Mungkin pemimpin-pemimpin besar bangsa Nusantara hingga Indonesia merupakan fakta terkabulnya doa Bapak Brahmana Peradaban sekaligus sesepuh semua Rasul Nabi, yakni Brahm, Abraham atau Ibrahim ‘alaihissalam.

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ
قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan perintah dan larangan, lalu Ibrahim menunaikannya, sehingga Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: Dan kumohon juga semua anak turunku. Allah berfirman: Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim.

Dari Brahmana Ibrahim yang kekuatan langit dan bumi berhimpun dalam jiwanya. Ke Ismail As hingga Rasul pamungkas Muhammad Saw. Terus ke dzurriyatuhu Walisongo yang memperoses kepemimpinan Majapahit ke Demak, Pajang, Mataram, Sultan Agung, Pakubuwanan, Bung Karno, menetes hingga pemimpin hari ini.

Andaikan aku ini manusia yang tergolong paling dekat dengan Allah, misalnya 100 besar urutan di bawah 25 Rasul. Yang pasti kuperjuangkan adalah mendapatkan pengakuan dan ridla dari Allah Swt bahwa pemimpin Negeri kami sekarang ini adalah pemimpin terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Lebih berprestasi mempersatukan bangsa dibanding Gadjah Mada. Lebih inovatif dan berintegritas budaya melebihi Sultan Agung. 1945 hanyalah kemerdekaan politik. Tetapi sejak 2014 kita mencanangkan kemerdekaan karakter dan kepribadian. 2019 kita meneguhkan kemerdekaan budaya, kemerdekaan ilmu, pengetahuan, dan peradaban.

Andaikan aku adalah Muslim alim saleh sehingga sekurang-kurangnya dalam sebulan 2-3 ditemui oleh Rasululah Muhammad Saw melalui mimpi maupun langsung dalam ibadah shalat malam saya. Yang harus kupastikan adalah restu dan peneguhan dari Kanjeng Nabi bahwa Pancasila dasar Negara kami adalah prinsip dan filosofi paling berkualitas di antara semua Negara-negara di dunia.

Andaikan aku rajin menjelajah semesta-semesta dan jagat-jagat raya ciptaan Allah, ulang-alik ‘Alam Nasut, ‘Alamul Mulki, ‘Alamul Malakut dan ‘Alamul Jabarut. Saya akan menghimpun tanda tangan dari para penghuni alam-alam itu yang mempersaksikan dan memuji bahwa Pemerintah NKRI kami saat ini benar-benar sanggup menggelar dan menggerakkan rahmatan lil’alamin untuk bangsa dan tanah airnya.

Andaikan aku populer dan punya akses tidak hanya di bumi, tetapi juga termasyhur di langit. Andaikan aku viral tak hanya di bumi, tapi juga memperoleh miliaran “like” dari para penghuni sab’a samawat, tujuh lapisan langit. Saya akan melakukan wawancara dan menghimpun rekaman video sebanyak-banyaknya dari para penduduk langit yang menuliskan pernyataan bahwa bangsa dan para pemimpin Indonesia sudah mencapai raputasi besar menciptakan “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur” yang akan berfungsi sampai ke masa depan anak cucu bangsa Indonesia.

Andaikan aku “Hashin” dan “Mani’” dari segala macam senjata Iblis, Dajjal, Ya’juj Ma’juj. Andaikan wudluku tak bisa dikotori oleh Walhan. Kekhusyukan shalatku tak bergeming oleh Khanzab. Penghidupan rumah tangga dan keluargaku “halal dan thayyib” tanpa kontaminasi Zalanbur. Tidurku hanya bermuatan para Malaikat tanpa seserpih Wasnan maupun Wahhar. Budaya sehari-hariku bebas dari Qafandar. Persuamiistrianku merdeka dari Zawal. Lisan dan tulisanku bersih dari Masuth dan Mathun. Maka saya pastikan bahwa saya menaklukkan semua mereka yang saya sebut namanya itu, melalui berbagai forum, seminar atau pengajian, agar mereka menyadari bahwa cahaya yang membuat sinar yang menjadikan langit dan seluruh alam semesta menjadi terang benderang, adalah sinar “gemah ripah loh jiwawi” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang memancar dari Negeri Kepulauan dari Sabang sampai Merauke.

Andaikan perjalanan Maiyahku tidak terhalangi oleh Haffaf. Bahagia dan deritaku tak diracuni oleh bakteri Tsabur. Wacana dan narasiku steril dari Laqus. Juga Hudais, Hudazvis, Jalbanur, Biter, Mansud, Al-Jin maupun As-Syaithan takkan sanggup menterlenakan jiwaku. Maka saya berjuang keras mensosialisasikan kepada tokoh-tokoh alam ghaib itu bahwa “Kunci Khilafah” atau metode pengelolaan kehidupan yang terbaik adalah prinsip “dzurriyyah” atau “’Asya`iriyah” atau “kekeluargaan” atau “oligarki”. Sebagaimana yang dipraktikkan oleh sejarah kepemimpinan Indonesia modern sampai hari ini.

Bangsa Indonesia yang berabad-abad lamanya dikenal dunia sebagai bangsa ahli bertapa, renungkanlah fragmen perjalanan Nabi Musa:

قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ
فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ
وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا

Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”.

Itu yang di Maiyah disebut sumber keajaiban kisah “majma’al bahrain”. Garis pertemuan antara air laut tawar dan asin. Hikmah tentang benturan. Di garis bentur itu ikan memerdekakan dirinya. Di setiap situasi konflik dan pertentangan, Allah menyediakan keajaiban. “Wattakhadza sabilahu fil bahri ‘ajaba” itu bisa terjadi pada ikannya Nabi Musa, bisa pada hidupmu, keluargamu, bahkan masyarakat dan Negaramu.

Dalam narasi Al-Qur`an, asistennya Nabi Musa melaporkan bahwa ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Apa kau berpikir ikan punya kecerdasan strategis untuk mengambil keputusan memerdekakan diri? Maha Subjeknya tetap hanya Allah Swt. Dan kau Khalifahnya Allah.

Maka kau punya akses kepada amrullah, iradatullah dan qadarullah. Jadi online-lah selalu dengan Maha Sumbernya. Tuntunlah dirimu agar memperoleh kemerdekaan pada posisi terjepit oleh benturan itu. Demikianlah engkau. Demikianlah keluargamu. Demikianlah Maiyahmu. Demikianlah keIndonesiaanmu.

Mungkin “majma’al bahrain” Indonesiamu hari ini adalah jepitan dua raksasa: RRC dan Amerika Serikat. Atau dilema-dilema politik, perekonomian, juga kebudayaan di antara dua arus besar global. Tapi bukankah simbolisme kehadiran Rasulullah Muhammad Saw tatkala berhijrah dari Mekah ke Madinah adalah “min tsaniyyatil wada’i”. Cahaya kemarin, hari ini hingga masa depan justru muncul dan memancar dari celah antara dua bukit kekuasaan global itu?

طلع البدر علينا
من ثنيات الوداع
وجب الشكر علينا
مَا دَعَى لِلّٰهِ دَاعْ
أيها المبعوث فينا
جئت بالأمر المطاع
جئت شرفت المدينة
يا خير داع مرحبا

Telah terbit rembulan atas kita. Dari celah dua bukit. Sejak 1945 memprogressi hingga 2021. Wajib kita mensyukurinya. Itulah panggilan dari pemanggil yang mulia. Wahai pemimpin yang diutus kepada bangsanya. Wahai Sukarno hingga Jokowi. Engkau datang untuk ditaati….

Lainnya