(Sinau Puasa, bag. 19)

Puasa Mudik

Photo by Jalal Kelink on Unsplash

Di akhir sepertiga bulan Ramadhan yang barusan berlalu ini muncul berita bahwa ada kenaikan kasus Covid-19 di India, termasuk dengan kenaikan jumlah kematiannya.

Hal ini menyebabkan antrean panjang di tempat-tempat kremasi, kebutuhan oksigen naik sangat drastis, kebutuhan ruang rawat inap yang tak bisa dipungkiri, sehingga ada satu tempat tidur di Rumah Sakit (RS) di India harus diisi 2 hingga 3 orang. ICU juga penuh! Maka bisa dibayangkan penderitaan para pasien, dan tentu kelelahan yang melanda tenaga kesehatan di pusat-pusat kesehatan di sana.

Kalau kita petani (urai), kita temukan banyak yang terlibat di dalam sebuah sistem rumah sakit. Garda depan tentu adalah perawat dan dokter, tukang sapu dan tukang pel, ahli gizi beserta anak buah yang mendistribusi makanan ke pasien, petugas farmasi rumah sakit, petugas laboratorium, petugas sanitasi, ahli IT, sopir ambulance dan tentu barisan manajemen RS yang mengelola semua ini.

Semua bekerja sama dan bergotong royong agar pergerakan roda RS bisa berjalan lancar. Sistem seperti ini hampir sama di rumah sakit besar maupun kecil. Bahkan di negara maju, kadang ditambahi dengan unit riset yang menunjang pelayanan di sebuah RS.

Kembali ke masalah kenaikan kasus Covid di India. Beberapa hari lalu tersiar kabar bahwa kasus positif di India mencapai lebih dari 400 ribu orang, dengan kematian lebih dari 4000 jiwa per hari. Sementara itu kemaren status lockdown secara nasional diberlakukan di negara tetangga, Malaysia. Saya baca di media bahwa status ini akan berlangsung sampai 7 Juni.

Lha bagaimana di daerah kita? Di grup sejawat saya beredar postingan yang menyatakan bahwa sebuah kota di Sumatera hampir kewalahan menangani lonjakan kasus Covid-19 ini, dan hal ini dibenarkan oleh sejawat yang ada di kota tersebut. Hampir kewalahan!

Ya Allah, kenapa pandemi ini tak kunjung henti?

Sebenarnya ‘badai’ pandemi ini sudah diramalkan beberapa ahli di bidang mereka, tetapi ada yang lengah, tetapi ada pula yang taat dalam mengantisipasinya. Yang lengah tentu akan menuai hasil ‘kelengahan’ mereka, dalam hal ini contohnya India, yang disebutkan bahwa badai Covid-19 ini berawal dari acara keagamaan yang melibatkan massa tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Inilah kelengahan mereka.

“Lho yang lengah kan India,” komentar Kyai Muzammil, pada suatu acara sinau bareng beberapa saat yang lalu.

“Iyaaa India yang lengah. Memang…,” kata saya. Mungkin kalau dilanjutkan akan begini, “Kita kan enggak lengah,” begitu kira-kira.

Maksud saya, pengungkapan fakta di India ini semacam warning bagi kita. Peringatan. Alarm bagi kita, agar kita tidak lengah. Kita tak boleh lengah seperti mereka, jangan sampai badai ini menyerang kita.

Bagaimana halnya dengan kita? Ketika lebaran tiba, berbagai persiapan menyambut lebaran sudah dilakukan, bahkan persiapan mudik sudah dirancang jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Ee ee… tiba tiba ada larangan untuk tidak boleh mudik. Bagi sesiapa yang mudik tanpa keterangan yang kuat maka bisa disuruh putar balik dan bisa pula didenda.

Bayangan sungkem kepada orangtua di kampung langsung lenyap. Bayangan makan ketupat dengan sambel docang dan opor ayam musnah. Inilah hari raya (lebaran) budaya yang lekat dengan kerlap kerlip baju-baru, sandal atau sepatu baru dan pesta makanan, sambil bertemu dengan sanak saudara dan orangtua di kampung. Tapi apakah ini esensi dari lebaran? Esensi dari hari raya? Esensi kemenangan? Kemenangan terhadap apa? Kemenangan terhadap siapa?

Bagi kita yang sudah digembleng dengan puasa sebulan penuh, baca Al-Qur’an dan maknanya, serta ibadah malam termasuk dzikir dan shalat malam, tentu akan menanggapi larangan mudik ini kita maknai dengan kesadaran penuh dan berdasarkan kasih sayang.

Tersiar kabar bahwa pada testing yang dilakukan secara acak terhadap pemudik di beberapa pos pemeriksaan, didapatkan bahwa 4.123 dari 6.742 positif Covid-19! Lebih dari 60% para pemudik itu mengandung virus Covid-19 di dalam tubuhnya. Apa jadinya kalau nanti sampai ke rumah, ketemu orang tua yang sudah uzur, dan sudah lemah (sistem imunnya?)

Marilah ber-khusnudhdhon dan kita lihat dari sisi positif dari pelarangan tersebut. Pelarangan ini sejatinya bukan tentang ‘tidak boleh’ akan tetapi bermakna ‘melindungi’.

(bersambung)

Lainnya