(Sinau Puasa, bag. 17)

Puasa Masih Panjang Lagi

Dok. Pribadi dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.

Saat awal sekolah lagi pada tahun 2008 bertepatanlah dengan bulan Ramadhan. 1 September 2008 berbarengan dengan 1 Ramadhan 1429. Mendarat di Schiphol sudah disambut oleh kawan yang lebih dulu mukim di Amsterdam.

Walaupun ini bukan kali pertama kunjungan saya ke Belanda, tapi tetap gagap juga kalau tidak ada yang menjemput. Ternyata calon induk semang saya ikut menjemput, namanya Sarni, tipikal nama Jawa. Memang Sarni adalah seorang Jawa-Suriname, yang orang tuanya dibawa Belanda ketika zaman penjajahan untuk dijadikan ‘kuli kontrak’.

Berasal dari desa mBaki (Bakkie) distrik Commewijne, Suriname, ternyata Sarni adalah keponakan Om Wongso dan Tante Tinni. Rumahnya sangat rapi, bersih, dan cukup lega untuk ukuran rumah di Amsterdam. Tinggal bersama anak ragilnya, Elion, satu-satunya cowok dari 3 bersaudara. Kedua kakak perempuannya sudah mentas, dan dia yang tinggal bersama emaknya. Elion sudah menyelesaikan SMA-nya dan akan mencari sekolah di perguruan tinggi.

Kamar tidur kos saya lumayan kecil, namun saya merasa homy tinggal di rumah ini. Keluarganya hangat, selalu menanak nasi dan lauk pauk yang sangat Jawa. Jadi jangan dibayangkan bahwa sekolah di Belanda trus enggak ketemu nasi, dan hanya makan roti. Salah besar! Pernahkah terbayangkan bahwa puasa di Amsterdam, makan sahur dengan nasi pecel, dan buka puasa dengan soto ayam?

Kemudian hari berikutnya, sahur dengan ceker ayam bumbu kecap dan berbuka dengan bakmi goreng? Semua bikinan dari tangan Emak Sarni dan dimasak dengan bumbu yang sangat Jawa. Tetapi seenak-enaknya masakan tersebut dalam suasana puasa seperti ini kita tidak bisa melahap banyak. Sedikit makan saja rasanya sudah terlalu kenyang.

Menurut saya, rasa kenyang ini berasal dari makanan itu sendiri dan dari kehangatan suasana pada waktu kita menyantapnya. Si Emak Sarni selalu menemani makan pada waktu berbuka puasa, di mana buka puasa waktu itu sekitar jam 20:30 dan mulai puasa jam 4:00. Pada waktu buka kadang juga ditemani oleh Elion bersama-sama menyantap soto ayam ‘Sarni’ yang sangat sedap itu. Tetapi juga nggak bisa makan banyak.

Bukankah tuntunan Nabi mengatakan bila kita makan maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk udara. Maka sejalan dengan tuntunan: Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.

Sebenarnya tuntunan itu bukan tuntunan tentang makan, melainkan tuntunan tentang puasa. Tentang menahan diri, tentang mengontrol kemauan, mengontrol nafsu. Jadi bukan makannya yang ditonjolkan, akan tetapi menahan dirinya itu yang perlu digarisbawahi.

Bayangkan soto ayam segar dengan balungan ayam dari leher serta kepala ayam lengkap dengan telor rebusnya dan sambal ‘iblis’ tentu saja. Saya bilang sambal iblis karena sangat pedas. Dibikin dari lombok rawit Brazil (madame Janette). Bagaimana seni kita berhenti sebelum kenyang.

Sebenarnya bukan hanya mulut saja yang berpuasa, tetapi seluruh organ tubuh kita termasuk panca indera kita harus berpuasa. Mulut harus berpuasa dari makanan dan minuman, dari bicara yang tidak perlu. Mata harus berpuasa dari hal yang mestinya sang mata boleh melakukan pekerjaannya, yaitu melihat (nonton)! Demikian juga telinga, hati, dan pikiran melakukan hal yang tidak disenangi, dan tidak melakukan apa yang disenangi.

Dalam hal puasa ini bahkan termasuk tingkat sel ikut juga berpuasa. Maka kalau sekadar tidak makan atau tidak minum untuk kurun waktu tertentu, anak SD pun bisa melakukan, bahkan hewan pun sangat bisa melakukan.

Puasa-puasa selain puasa makan dan minum memang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu.

Pada waktu Nabi Zakaria As ingin sekali mempunyai keturunan, padahal usia sudah lanjut dan isterinya mandul pula. Tetapi beliau tetap berusaha dan berdo’a dengan bahasa yang sangat lembut, serta melakukan puasa tidak berbicara selama 3 hari 3 malam.

Al-Qur`an menyerukan kita untuk sesekali berada dalam suasana sunyi senyap untuk mengingat Allah Swt, sebagaimana dalam firman-Nya: “Sunyi senyaplah segala suara karena (takut) kepada Allah Yang Maha Pengasih, sehingga tiada Engkau dengar kecuali suara halus (bunyi telapak kaki)” (QS Thaha – 20:108).

Artinya adalah mengendalikan diri untuk tidak mengumbar pembicaraan baik melalui oral (maupun media sosial), sangat dianjurkan dan nilainya sangat besar di mata Allah Swt.

Cak Nun bilang, puasa itu mengerjakan apa yang tidak kita sukai dan tidak mengerjakan apa yang kita sukai. Bisa bermakna juga, sebenarnya kita berhak mengerjakan tapi tidak kita kerjakan.

Di umur seusia saya banyak teman saya yang sedang suka-sukanya praktek, bekerja dari pagi sampai malam, agar bisa membeli mobil rumah dan lainnya, lha saya malah belajar lagi, menulis lagi, dan itu pun saya lakukan di tempat yang sangat jauh, berpuluh ribu km dari rumah, di Amsterdam.

Di sini saya melakukan pekerjaan yang tidak saya senangi, yaitu belajar! Termasuk mencari literatur, jurnal, membacanya, menyimpulkannya, sebagai bahan menulis artikel dari peneletian yang saya lakukan. Kemudian saya menulis, mengkonsultasikan ke supervisor saya, 2 kali seminggu, kemudian mensubmit ke jurnal yang sudah ditentukan.

Dalam proses konsultasi ini pun saya harus tahan banting, sebagaimana cantrik yang harus nyantrik di sebuah padepokan untuk bisa ditulari ilmunya dari sang begawan di padepokan. Sumpah serapah, cacian, marah merupakan hal-hal yang saya dapatkan pada awal-awal menghadap ke supervisor saya tersebut. Apakah ada PR untuk mahasiswa tingkat doktoral? Ahh tentuuu! Bahkan PR tersebut hanya sabda yang keluar dari mulut beliau. Seperti:

Coba kamu cari insidensi leukemia di Indonesia?”

Baik prof…”, jawabku.

Kalau tidak nemu maka itu PR-mu untuk menulis tentang insidensi tersebut!

Matek! itulah yang terjadi pada pertama kali perjumpaanku dengan beliau, di samping membuat kerangka tulisan-tulisan artikel dari penelitan yang datanya siap dianalisis dan ditulis. Setelah mencari, ternyata data tentang insidensi tersebut memang tidak ada. Belum ada satu tulisan pun yang saya jumpai dalam penelusuran jurnal maupun artikel ilmiah yang ada di perpustakaan.

Saya lakukan seminggu penulusuran itu, tetap saja tidak ketemu. Lalu saya berpikir lagi, inilah awal simpul dan pertanyaan, kenapa pengobatan tentang kanker anak masih jauh ketinggalan dengan negara-negara lain. Lha wong data dasar saja nggak ada, mau bilang evaluasi? Apa yang dievaluasi? Apa yang akan dibandingkan? Dengan apa pembandingnya?

Lain lagi dengan supervisor yang lain, yang bisa sebagai ‘obat’ atas babak bundas saya dihajar di hari Selasa. Supervisor saya yang jadwalnya setiap hari Kamis selalu berbicara dengan sangat halus, selalu ngajak makan dulu sebelum bimbingan.

Maaf saya sedng berpuasa…”, jawabku.

Loh puasa kan nggak boleh makan, kalau minum tetap boleh kan?” masih berupaya mengajak lunch.

Ah enggak, puasa ya enggak makan dan enggak minum dan hal lain yang membatalkannya.

Beliau mengangguk, dengan sedikit heran.

Ternyata konsep puasa ini mereka belum/tidak tahu. Karena memang tidak pernah ada yang memberitahu atau mengajarnya.

Saya melakukan pekerjaan yang tidak saya sukai dan sekaligus tidak melakukan pekerjaan yang saya sukai (hobby) seperti: memotret, bersepeda gunung dan dolan. Padahal banyak objek wisata, arsitektur, human interest, landscape yang sangat seksi untuk direkam pada kamera.

Tas ransel saya terasa berat, karena berisi laptop kuno yang tebel dan kamera yang selalu saya bawa kemana-mana, barangkali ada kesempatan untuk memotret dalam perjalanan berangkat atau pulang dari perpustakaan.

Tapi saya tidak sendirian, ada teman lain seperti Pak Pudjo, teman senasib, teman sekantor dan program yang sama. Ada mbak Susan, Jajah dan Bu Mei yang lebih dulu ambyur dalam nyantrik program doktor ini. Bagiku inilah puasa!. Masuk dalam kawah candradimuka. Dan ini baru awal dalam nyemplung ke kawah itu. Perjalanan masih panjang.

Puasa masih lama, masih empat tahun lagi!

(Bersambung)

Lainnya