(Sinau Puasa, bag. 4)

Puasa Kok Malah Tambah Gemuk

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Pada tulisan sebelum ini, ada kalimat “ketika kadar glukosa tidak tersedia dan tubuh akan menggunakan lemak dan protein tubuh untuk membuat energi tubuh”. Kita bahas sekarang unsur lemak dahulu.

Apa pengaruh yang ditimbulkan oleh pembongkaran lemak tersebut?

Penggunaan lemak untuk dijadikan tenaga di dalam tubuh akan menggunakan timbunan lemak yang ada di dalam tubuh. Yang paling gampang diambil untuk metabolisme ini adalah ‘visceral fat’ (lemak jerohan perut) dan sekitar perut.

Oleh karena itu, lemak di sekitar organ tersebutlah yang paling gampang dibentuk dan paling gampang dibongkar. Makanya, kalau orang bertambah gemuk, yang akan kelihatan terlebih dahulu adalah bagian perut. Demikian pula kalau orang susut berat badannya, yang akan kelihatan adalah bagian perutnya.

Sayangnya, gendutnya perut ini berhubungan dengan risiko sakit jantung. Kenapa? Karena orang yang memiliki tumpukan lemak di dalam organ viseral/perut, cenderung mengalami gangguan peredaran ke seluruh tubuh yang merupakan tolok ukur performa jantung.

Makin besar lingkar perut seseorang, makin besar risiko terkena penyakit jantung. Sebuah studi yang dilakukan di Swedia menyimpulkan bahwa lingkar pinggang sangat erat kaitannya dengan penyakit jantung.

Risiko penyakit jantung? Bagaimana itu bisa terjadi? Ini bisa kita tinjau dari dua aspek, pertama, lemak viseral itu sendiri yang menyebabkan volume dalam perut membesar sehingga secara mekanis kerja jantung akan menjadi berat, dan kedua, perlemakan yang ada di dalam pembuluh darah jantung itu sendiri, di mana pembuluh darah jantung ini merupakan ‘nyawa’ dari si jantung itu sendiri juga.

Kalau terjadi perlemakan di dalam pembuluh darah jantung, maka suplai oksigen ke dalam jantung akan berkurang, sehingga akan memperberat kerja jantung. Sudah kerjanya berat karena lemak viseral masih diperberat dengan berkurangnya pasokan oksigen ke jantung.

Lalu apa yang menyebabkan tubuh menjadi gemuk? Jenis makanannyakah? Atau banyaknya makanan yang dimakan? Atau waktu makannya? Lalu apa hubungannya dengan puasa? Apakah puasa bisa berperan dalam pengendalian proses penggemukan tersebut? Ataukah malah bisa membantu untuk proses penyusutan? Atau justru puasa malah bisa bikin bertambah gemuk?

Dan, jika puasa sangat berperan dalam mengendalikannya (membantu menyusutkan berat badan), apakah itu disebabkan oleh volume makannya, waktu makan, ataukah jenis makanannya? Bagaimana?

Dan, jika puasa bisa juga berperan dalam penambahan berat badan, bagaimana pula?

(bersambung)

Lainnya