(Sinau Puasa, bag. 14)

Puasa dari Ngluyur

Dok. Pribadi dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.

Gegara pandemi ini saya rajin membongkar file-file foto saya di bebarapa hard disk yang tersebar. Mendapatkan file foto Amsterdam tahun 2004, tahun di mana saya memulai training sebagai pediatric oncologist, di Vrije Universiteit Amsterdam.

Saya training di waktu musim dingin, mulai akhir bulan Oktober sampai akhir Desember. Tiba di bandara Schiphol dijemput dari pihak KWF (Koningin Wilhelmina Fond), lembaga nonpemerintah yang mensponsori saya untuk training ini…, eh ternyata saya bareng dr Irianiwati dari bagian Patologi, saya memanggilnya mbak Ir, karena beliau memang senior saya.

Mbak Ir akan menjalani training 3 bulan di Groningen, sebuah kota kecil paling ujung utara negeri Belanda. Jadilah saya ikut mengantar beliau sampai ke Groningen, sekaligus piknik gratis! Butuh waktu 3 jam untuk sampai di kota Groningen. Kota ini ternyata sangat cantik, tidak terlalu rame, tenang, sehingga cocok untuk atmosfer belajar.

Saya sendiri oleh pihak KWF diinapkan di sebuah keluarga Indonesia di daerah Sloterdijk, Amsterdam bagian barat laut. Butuh waktu 20 menit perjalanan dari stasiun Sloterdijk ke rumah pak Budi, tempat saya kost, di daerah Surhoffstraat. Dan hanya 5 menit jalan kaki dari rumah ke standplaat bis terdekat di dekat Surhoffstraat.

Kalau dari stasiun Sloterdijk menuju VU Medisch Centrum (Rumah Sakit VU), butuh waktu 25 menitan, ditempuh dengan Metro dan disambung dengan trem. Sehingga total waktu perjalanan saya kira-kira 1,5 jam, karena ditambah waktu tunggu bis atau kereta. Sistem angkutan publik dan penataan ruang tempat tinggal (kawasan perumahan) memang sangat bagus. Andaikata di negara kita bisa seperti itu, amboi… Sangat indahnya.

Tinggal bersama keluarga Pak Budi memang menyenangkan, mereka makan nasi, saya juga makan nasi, tinggal ambil saja, sudah ada lauknya juga yang disediakan oleh Bu Tin (isteri pak Budi) yang juga seorang perawat di RS di daerah Slotervaart.

Kira-kira seminggu tinggal di sini tibalah saat pula Ramadhan. Waktu puasa terpendek yang pernah saya alami, karena pada waktu musim dingin waktu malam lebih panjang, dan waktu siang lebih pendek. Pada awal Ramadhan waktu subuh adalah jam 6:15, dan harus selalu melihat aplikasi untuk perubahan waktu Shalat ini, karena berubah sangat cepat. Sedangkan waktu maghrib adalah jam pada waktu itu adalah jam 18-an. Tetapi makin bertambah bulannya makin maju waktu maghribnya. Di akhir masa training saya, maghrib adalah jam 16:30-an.

Ada sesuatu yang kurang dan hilang selama berpuasa Ramadhan di negeri orang ini. Yang pertama adalah enggak pernah terdengar suara adzan, apalagi shalawat Tarhim yang indah dan saya sangat sukai, yang biasa terdengar dari loudspeaker masjid di kampung saya. Gak ada itu. Blas gak seperti Ramadhan ing nDukuh (kampung saya), yang hangat, dan sangat damai. Kalau boleh dibilang, suasana Ramadhan di Belanda ini garing banget!

Yang kedua adalah suasana harian ya tetap saja sama bagi mereka, ya sarapan, ya makan siang, ada yang ngerokok dan aktivitas lainnya, pokoknya suasana juga blas berbeda dengan suasan di negara kita. Kamu puasa ya puasalah! Malah teman-teman di lab banyak yang menginterogasi aku.

Nettie (mentorku untuk urusan pemeriksaan sel darah di bawah mikroskop) tanya, “Ed, kalau kamu puasa tapi tetap boleh minum kan?”

“Lho ya enggak boleh, ” jawab saya.

“Lha lalu… Apakah seharian kamu berpuasa?”

“Iya dong…”

“Ahhh bayanganku kamu kalau puasa itu masih boleh minum, dan yang nggak boleh adalah makan”.

“Bukan, bukan begitu, malah puasa yang sebenarnya bukan sekadar makan dan minum saja,” balas saya.

Dan saya pun kemudian menjelaskan hakikat puasa ke Nettie.

Dok. Pribadi dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.

Begitulah suasana hari-hari ketika pertama kali menjalani puasa di negeri orang. Untungnya suasananya tidak panas, suhu udara sudah di sekitar 10 derajat C, dan waktu puasanya pun 2 jam lebih pendek. Sehingga puasa “hewaniah” yang saya alami tidak mengganggu aktivitas saya sehari hari.

Tetapi paling sedih adalah ya itu tadi, nggak ada suara adzan lho…, apalagi jamaah tarawih. Tapi terus saya ingat, Baginda Nabi pun hanya 3 hari berjamaah tarawih di masjid. Selebihnya beliau lakukan di rumah.

Waktu awal-awal itu memang saya belum menemukan di mana masjid, mushalla atau tempat semacamnya. Internet juga tidak sehebat sekarang ini, di mana dengan aplikasi kita bisa searching untuk melihat masjid terdekat. Setelah bertanya tanya saya pun mendapat jawaban di mana masjid terdekat untuk melakukan shalat Jum’at. Masjid itu berada di daerah Marnixstraat, ditempuh dengan bis kira-kira 30 menit, dan bisnya lewat setiap 25 menit.

Inilah berpuasa, dalam arti sebenarnya. Menahan untuk tidak makan dan minum adalah hal yang sangat mudah. Itu hewan pun bisa melakukan. Tetapi puasa dari ngeluyur, dolan pengen ngeliat kesana sini (mumpung di Eropa) adalah tantangan puasa sebenarnya.

Kalau puasa menggunjing kan sangat mudah, lha hampir enggak pernah ketemu orang yang dengan bahasa yang sama. Semua dengan holland sprechen, yang saya enggak dong (paham) sama sekali. Di sini tidak ada lho yang bilang ‘hormatilah bulan puasa’ atau ‘hormatilah orang berpuasa’ gak ada itu.

Bahkan kalau saatnya makan siang kucoba sekali dua kali gabung dengan mereka sekadar untuk ngobrol, tetapi mereka yang agak sungkan sendiri dan saya juga engga enak. Akhirnya saya pilih menuju perpustakaan mencari sumber pustaka, atau sekadar searching travelling yang menawarkan diskon, dan sambil membayangkan bagaimana ‘berlebaran’ nanti.

(bersambung)

Lainnya