Puasa dan Kesadaran Tepat Takaran

Photo by Thomas Claeys on Unsplash

Sejenak saya teringat mata pelajaran ilmu ekonomi ketika duduk di bangku sekolah menengah maupun bangku kuliah, tentang teori Hukum Gossen I yang intinya jika pemenuhan kebutuhan akan suatu jenis barang dilakukan secara terus-menerus, maka rasa nikmatnya yang mula-mula akan tinggi, namun semakin lama kenikmatan tersebut semakin menurun hingga sampai akhirnya mencapai batas jenuh.

Guru/dosen yang mengajar saya memberikan contoh lima buah gelas berisi air minum. Ketika seseorang merasa kehausan, ia akan merasakan nikmat saat meminum air pada gelas pertama, namun ketika meminum air pada gelas kedua, lalu ketiga, dan keempat, rasa nikmat meminum air semakin lama semakin menurun sampai pada gelas yang kelima jika diteruskan diminum maka yang terjadi adalah “blendangen”, bisa mual, muntah bahkan bisa sakit.

Saat kita puasa, terlebih pada siang hari ketika di depan mata melihat makanan dan minuman, baik itu makanan dan minuman yang nyata, maupun hanya sekedar gambar atau tayangan iklan ditelevisi, kebanyakan dalam benak pikiran kita membayangkan seolah-olah akan menyantap berpiring-piring nasi goreng, soto ayam, bakso, pecel lele, sate kambing, juga koyo-koyo o (seolah-olah) akan meminum bergelas-gelas jus, es sirup, susu dll. Padahal saat berbuka puasa tiba, segelas teh untuk kita minum dan sepiring nasi dengan lauk ikan ala kadarnya juga akan terasa lebih dari cukup, bukankah memang benar demikian?

Benar atau tidak, tanpa kita sadari pola pikir kita cenderung menuruti nafsu”keinginan” bukan “kebutuhan”, tertuntut berbagai hal di luar diri yang mengharuskan “lebih” dari pada sekedar memenuhi “cukup”.

Jika kita dengarkan Syair Lagu Tombo Ati keempat yang bunyinya “kaping papat, weteng irro ingkang luwe”, maknanya pernah dipaparkan oleh Mbah Nun dalam sebuah forum Maiyahan, kurang lebih paparan beliau bahwa puasa itu mematikan sel-sel buruk sambil memperkuat sel-sel sehat. Lapar itu baik, yang tidak baik adalah kelaparan, maka batasnya adalah jangan sampai kelaparan, begitu juga sebaliknya jika kekenyangan banget juga tidak baik karena semakin mudah terkena penyakit dan badan bisa semakin lemah. Rasulullah telah mengajarkan makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.

Setidaknya, sebagai Wong Jawa kita perlu belajar laku Sak Madya alias secukupnya saja, tidak lebih dan tidak kurang, sehingga dengan mengenali batasan, ukuran dan takaran kita bisa belajar menempatkan sesuatu maupun berlaku yang pas pada tempatnya.

Lainnya