Psikologi Karyawan di Bawah Dua Model Pimpinan

Image by Markus Spiske on Unsplash

A : “Monic, Suruh semua karyawan ke sini! Ini bagaimana urusan inventori kok gak beres-beres, bisa kerja gak sih?”

B : “Baik Pak.”

A : “Kalian tahu kenapa saya kumpulkan di sini?”

B : “Membahas masalah stock Pak.”

A : “Sudah berapa kali meeting seperti ini dilakukan? Bukankah kemarin sudah ada MoM. Sudah dilaksanakan belum catatan-catatan kemarin.”

B : “Sebagian poin sudah Pak, cuma prakteknya di lapangan ternyata tidak sesederhana itu. Maaf Pak, banyak barang yang tidak tercatat di kartu stock. Barang diambil katanya disuruh Bapak tapi pengembaliannya sering miss.”

A : “Lho sudah tahu kebiasaanku begitu kok kalian tidak melakukan inovasi? Emang benar bos tidak pernah salah, jadi kalian yang harus mengakali kekurangan bosmu. Kalau sesekali saja miss sih gak apa-apa tapi kalau keterusan mau dibawa ke mana perusahaan ini. Masa tiap beberapa hari harus ada meeting khusus untuk membahas masalah ini. Pekerjaan lain bisa terbengkalai kalau cuma buat ngurusin stock.”

B : “Ya maaf Pak, kami belum bisa membuat inovasi agar masalah stock terselesaikan.”

A : “Jadi selama ini kalian hanya diam saja? Tidak mampu memberikan feedback kepadaku, kalian tidak berani menegurku jika aku salah?”

B : “Ya Pak, kami tidak mempunyai keberanian. Kami sangat takut Bapak marah jikalau kami berterus terang.”

A : “Lho bukan begitu dong caranya. Kalau seperti ini terus masalah ini gak akan kelar.”

B : “Ya, kami mengerti.”

A : “Dengan kondisi yang seperti ini, jika memang kalian tidak cocok dengan lingkungan kerja ini, kenapa kalian tidak mencari peluang lain? Dan mengapa kalian masih tetap betah kerja di sini?

B : “Karena kami tidak punya pilihan lain, kami takut kelaparan, kami tidak berani keluar dari zona nyaman, kami takut bersaing memperebutkan sepotong pekerjaan yang diincar banyak orang, kami takut miskin.”

A : “Sudah kuduga, kalian memang orang-orang bermental kerdil. Dikasih penderitaan tapi kalian tidak punya daya tonjok psikologis untuk mengubah keadaan kalian, hahaha.”

Potongan dialog di atas seolah menyindir para karyawan-karyawan yang mesti bekerja di bawah atasan yang tidak menyenangkan. Dan kejadian seperti itu tampaknya jamak dialami banyak orang. Siapa juga yang mensyarati seorang atasan harus menyenangkan, itu kan keinginanmu. Pada kenyataannya itu terserah si bos, dia mau otoriter atau demokratis. Lha wong perusahaannya sendiri. Hal seperti itu wajar saja, sebagai konsekuensi yang harus diterima tatkla kerja ikut orang lain. Karyawan harus ikut aturan dan cara bos. Bahkan ada atasan yang sangat otoriter sehingga anak buahnya sama sekali tidak memiliki kebebasan berkarya sesuai dengan cita rasanya.

Apa benar bawahan berposisi “disalahkan” dan atasan selalu benar? Iklim dalam sebuah perusahaan yang menganut level-level fungsional memang berpotensi demikian. Setidaknya bawahan akan selalu mendapatkan pressure dari atasannya. Bawahan seperti makna kata itu sendiri berarti posisi berada di bawah sedangkan atasan adalah orang yang berada di atas. Secara makna kata saja sudah jelas masalahnya di mana.

Namun suatu organisasi tak terkecuali sebuah perusahaan akan harmonis jika hubungan kerja antarkaryawan dan juga atasan berjalan berdasarkan prinsip simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Kita akan sangat terbantu jika mempunyai teman kerja yang kooperatif dan supel. Karyawan juga menginginkan seorang atasan yang mempunyai empati terhadap beban pekerjaan karyawannya. Begitu pula karyawan harus paham tugas dan kewajibannya sebagai pekerja. Keseimbangan peran inilah yang menjadi sebuah prototype ideal kerjasama dalam perusahaan.

Mungkin kita mengharapkan seorang pemimpin yang bukan hanya seorang generalist tapi juga seorang yang memperhatikan detail. Orang yang tidak hanya bisa memerintah tapi juga menunjukkan bagaimana semua itu bekerja. Lebih bagus lagi kalau seorang pemimpin mau dan sadar diri untuk mau diberi saran atau masukan dari bawahan. Tapi yang terakhir ini agaknya suatu hal yang jarang kita temui. Sebab rata-rata pemimpin berkarakter dominan dan kuat.

Masalah dalam Dunia Kerja

Salah satu PR kenapa lingkungan kerja kurang nyaman mungkin salah satunya adalah karena tidak berjalannya komunikasi yang nyambungantar anggotanya. Masalah yang sering terjadi lebih banyak bersumber dari komunikasi yang tidak tepat. Baik antarkaryawan maupun dengan atasan. Ada banyak pekerjaan yang terbengkalai gara-gara masalah yang sepele yaitu kurang jelasnya komunikasi. Terutama ada anggapan yang berkembang bahwa orang teknik kurang bisa berkomunikasi dengan efektif. Orangnya terlalu kaku dan straightforward. Tampaknya orang teknik harus bisa melakukan pemberontakan stereotype ini. Hehe.

Masalah lain juga akan timbul terkait dengan model pendelegasian pekerjaan dari bos ke anak buahnya. Kalau mengamati di lapangan, ada dua macam model: (1) otoritatif dan (2) demokratis. Pada model pertama semua pekerjaan sudah dijelaskan bagaimana SOP pengerjaannya. Metodologi pengerjaan danjangka waktunya. Artinya karyawan tinggal mengikuti aturan tersebut. Satu sisi memang bagus tapi di satu sisi lainnya akan mematikan imajinasi dan kreativitas karyawan. Karyawan kurang bisa menggali kepada kemungkinan-kemungkinan lain terutama yang berkaitan dengan perbaikan SOP, misalnya. Sebab dengan segalanya serba diatur maka karyawan tak ubahnya seperti robot.

Berbeda dengan model demokratis. Pada model demokratis, metodologi dan jangka waktu penyelesaian pekerjaan ada di tangan karyawan sendiri yang menentukan atau mengaturnya. Karyawan diberi kebebasan untuk bekerja dengan gayanya sendiri. Terserah mau langsung tancap gas atau alon-alon waton kelakon. Namun pada model yang kedua ini jika kita tidak pandai mengatur dan memanajemeninya bisa menjadi senjata makan tuan. Sebab di tengah banyaknya deadline pekerjaan yang ada, jika kita tidak terampil menentukan skala prioritas dan target apa yang ingin dicapai bisa jadi kita akan keteteran dengan beban pekerjaan tersebut. Jadi, baik model pertama maupun kedua ada kelebihan dan kekurangannya. Sebagai karyawan yang baik, kita harus membuat workflow sendiri serta bekerja dengan cerdas.

Kenyamanan Bekerja

Perusahaan adalah rumah kedua bagi seorang karyawan. Ungkapan ini mungkin didasari pada sebagian besar waktu yang dihabiskan di kantor, selain tentunya di rumah. Maka kondisi atau suasana yang nyaman dan kondusif dalam bekerja sangatlah penting. Ada kalanya seorang pemimpin perlu ngobrol dari hati ke hati dengan anak buahnya. Berbicara bukan sebagai bos dan anak buah tapi sebagai seorang manusia — yang punya banyak sekali keterbatasan, kekurangan maupun kelebihannya. Mungkin dengan cara seperti ini akan terbangun rasa empati yang pada ujungnya juga berpengaruh pada produktivitas kerja. Saling memahami tugas dan tanggung jawab pekerjaan.

Ada beberapa orang meskipun sudah dapat pekerjaan di perusahaan bonafide sekalipun, baru sebentar bekerja langsung memutuskan resign. Sebuah penelitian mengatakan banyaknya karyawan yang resign disebabkan oleh buruknya situasi lingkungan kerja. Hal ini bisa dari tidak harmonisnya hubungan karyawan dengan atasan ataupun karyawan satu dengan karyawan lainnya. Penelitian ini memberi tahu kita bahwa ada faktor penting lainnya selain gaji yang menjadi penyebab karyawan resign, yakni kenyamanan dalam bekerja.

Ya, tentunya orang akan jauh lebih senang di samping mendapatkan gaji yang besar juga lingkungan kerja yang menyenangkan. Betapa beruntungnya hidupmu jika hal ini benar-benar kau alami. Memang susah-susah gampang masuk dalam lingkungan kerja baru, bertemu dengan macam-macam orang. Ada karakter toxic people, friendly, muka dua, pengunjing, dll. Gesekan dan konflik memang lebih sering terjadi dengan rekan kerja yang bermacam-macam ini. Oleh sebab itu kita dituntut untuk selalu memposisikan diri dengan tepat dalam segala situasi.

Penutup

Kalau mencermati lapangan pekerjaan di Indonesia memang tidak seimbang antara pencari kerja dengan lapangan pekerjaannya. Banyak orang yang memilih menjadi karyawan daripada membuka usaha sendiri. Hal itu mengindikasikan jiwa entrepreneurship kita masih rendah. Kita masih suka diatur-atur bukan mengatur. Kita masih suka didikte bukan mendikte.

Mungkin hal itu dapat dijelakan sebagai kecenderungan dasar manusia. Sudah menjadi tabiat manusia untuk tidak mau mengambil risiko terlalu besar. Maka lebih banyak orang yang “mengabdi” untuk orang lain. Ada kawula lan gusti. Ada raja ada pelayan. Orang bukan tidak mau untuk berdikari (selain mungkin karena risikonya lebih besar) juga karena sebagian besar masyarakat kita memang bermental kawula. Ia ingin mengabdi pada orang lain. Orang lain ini– bukan hanya sembarang orang, tapi harus yang bisa menjamin kelayakan hidupnya, menjamin distribusi beras di dapur masih terjaga, dan menjamin besok masih bisa makan.

Seorang bawahan bisa jadi orang yang sangat pro terhadap atasannya tanpa pernah mau untuk mengambil pilihan yang berbeda. Apalagi sebuah keberanian untuk berbeda pendapat atau mendebatnya untuk sesuatu yang memang harus diperdebatkan. Padahal dalam hati atasan diam-diam ia menginginkan bawahannya untuk adu argumen dengannya. Supaya menumbuhkan iklim kritis dan partisipatif berargumentasi. Karyawan-karyawan yang mau menyumbangkan idenya untuk perbaikan perusahaan. Bukan karyawan yang pasif. Juga supaya terbiasa dengan iklim diskusi yang hangat seperti itu. Semoga saja harapan itu terwujud dalam lingkungan kerja Anda.

Lainnya