Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, edisi Agustus 2021

Proses Bersentuhan dengan Cahaya Tuhan

Dok. Bangbang Wetan

Kamis malam (19/8) telah berlangsung rutinan Bangbang Wetan edisi Agustus 2021 yang diselenggarakan di roof top gedung MI Tarbiyatus Syarifah Pekarungan Sukodono Sidoarjo Jawa Timur. Rutinan kali ini kami selenggarakan dengan mengundang jamaah Maiyah terdekat dan terbatas. Bagi jamaah lain yang ingin bergabung tetap dapat mengikuti Maiyahan melalui link Zoom Meetings yang telah kami bagikan.

Siang hari sebelum malamnya kita melaksanakan Maiyahan, telah berlangsung take tanya jawab bersama Mas Sabrang yang pada edisi Bangbang Wetan kali ini hadir membersamai kita. Tema bahasan tanya jawab bersama Mas Sabrang tersebut seputar: KIZANO, antara kesiapan bagi masa depan dan fasilitas yang meninabobokkan; dari kereta api, keyboard sampai ke bumbu kacang; dan Jamaah Maiyah, kekuatan yang istiqomah struktural atau koloni “rasa” kultural. Tayangan tanya jawab tersebut akan ditayangkan berkala di kanal Youtube Bangbang Wetan.

Bangbang Wetan edisi Agustus ini mengangkat tema “Halaqah Pengendara Cahaya”, yang berdasar pada prinsip dari apa yang pernah disampaikan Mbah Nun, bahwa perjumpaan kita di setiap Maiyahan merupakan perjumpaan yang kita sadari banyak membuahkan perubahan terhadap nasib dan sikap hidup kita—menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Artinya, menurut Mas Amin memantik diskusi, bahwa perjumpaan kita di Maiyah bukan suatu aktivitas yang percuma. Sebab banyak dari kita setelah pulang dari Maiyahan merasakan mendapat bekal dalam menjalani hidup.

Bersaksi dan Menyadari Islam

Setelah grup banjari pemuda desa Pekarungan menampilkan nomor Sluku-sluku Bathok, Bangbang Wetan, dan Padhangmbulan, Mas Sabrang merespons tema ‘mengendarai cahaya’ dengan pertanyaan, apakah cahaya itu merk motor yang bisa dikendarai? Tapi menurut Mas Sabrang, dari kata yang bisa kita serap bukan hanya makna dari kata, tapi juga nuansa dari kata tersebut. Nuansa dari kata tersebut, yang ditangkap jamaah, bagaimana kita mengalami keberuntungan dan merasakan Islam sebagai penyelamat nasib hidup melalui Maiyahan.

Kemudian, pertanyaan dari Mas Sabrang, Islam itu sebagai keistimewaan kita sadari atau hanya percaya karena dikasih tahu? Masing-masing hal Itu menghasilkan sesuatu yang berbeda. Seperti telur, kalau ayam di dalamnya menyadari keayamannya, dia akan keluar dari telur dirinya sendiri. Dia menyadari cangkang telurnya dan memahami betul bahwa dirinya dilindungi dalam cangkang tersebut. Ada juga yang memberi tahu dari luar bahwa telur itu dipecah dari luar. Akibatnya telur itu tidak akan menjadi ayam, melainkan menjadi telur ceplok.

Jadi, tentang keistimewaan Islam, yang utama bukan dipercayai melainkan disaksikan. Syahadat menurut Mas Sabrang mengajak kita bukan percaya kepada Tuhan dan Kanjeng Nabi, tapi bersaksi. Bersaksi itu mengalami dan melihat sendiri bahwa misalnya, berdoa itu membuat kita ayem dan kepercayaan kepada Tuhan tidak membuat kita putus asa terhadap keadaan. Walaupun keadaan kita sangat jauh dari cahaya. Seperti halnya kita tetap bisa kumpul Maiyahan terbatas di dalam kondisi serba sulit dan terbatas ini merupakan suatu cahaya, karena kesempatan bertemu menjadi hal yang istimewa.

“Kadang-kadang keistimewaan itu bukan dari barangnya tetapi dari pemaknaannya. Dan pemakanaan itu tidak bisa terjadi kalau tidak ada konteksnya atau latar belakangnya,” tambah Mas Sabrang.

Misalnya kalau latar belakangnya berkumpul saja tidak boleh, kita punya kesempatan berkumpul saja sudah menjadi cahaya. Tapi kalau tidak ada larangan, momen berkumpul tidak ada harganya. Maksudnya tidak seberharga ketika kita susah berkumpul.

Kalau kita mau merefleksikan, sebenarnya cahaya itu datangnya dari kesusahan juga. Karena tanpa mengalami konteks kesusahan kita kadang-kadang susah menghargai sesuatu yang biasa. Hal yang sepertinya biasa karena tidak ada kesusahan, tapi ketika ada kesusahan hal yang biasa itu menjadi luar biasa.

Realitas Materi dan Realitas Makna

Kalau mau berbicara cahaya, menurut Mas Sabrang, cahaya itu sebenarnya “kenyataan” di luar kita, bukan datang dari dalam. Karena kita bisa menangkap cahaya hanya dari sebuah indera yang bernama mata. Pertanyaannya kemudian, seberapa cahaya yang bisa kita tangkap? Kalau cahaya itu berada di luar diri kita, bagaimana kita menganggap realitas? Karena dunia di luar kita biasanya kita sebut sebagai realitas.

Realitas di luar diri itu ada yang namanya material, yang kita lihat hanyalah yang materi. Realitas yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang, didengar, dan dibau dianggap tidak ada. Tapi ada sebuah realitas lain yang sebenarnya kita jalani setiap hari tanpa kita menyadari, bahwa menurut Mas Sabrang itu merupakan realitas paling realis, yang beliau sebut sebagai realitas makna. Karena materi yang berada di luar diri kita ini, tidak akan berarti apa-apa kalau tidak punya makna. Tidak akan kita ingat kalau tidak punya makna.

Kalau kita mempunyai ingatan tentang masa lalu, Mas Sabrang berani memastikan bahwa yang kita ingat itu mempunyai makna bagi kita. Jadi, sebenarnya realitas kita terdiri dari realitas memori dan realitas di luar diri. Filternya adalah ketika kita merasakan realitas itu menjadi sebuah makna. Sehingga, kalau kita bisa berkumpul Maiyahan dan membuat kita bergembira serta cerah bercahaya wajah kita, yang membuat bergembira dan cerah bercahaya wajah kita itu yang disebut sebagai realitas yang mempunyai makna baru bagi hidup kita.

Proses Bersentuhan dengan Cahaya Tuhan

“Hal yang membuat kita bergembira itu merupakan cahaya-cahaya yang ditangkap bukan oleh mata, tapi cahaya-cahaya yang ditangkap oleh perjalanan makna. Cahaya yang berasal dari pemaknaan tidak kalah penting daripada cahaya yang kelihatan oleh mata,” tutur Mas Sabrang.

Dok. Bangbang Wetan

Mengapa demikian? Karena, untuk memahami dan menangkap cahaya Tuhan dan membuktikan keberadaan-Nya adalah dengan merasakan badan yang kita miliki. Kita bisa mengumpulkan menjadi informasi untuk memahami, menangkap cahaya Tuhan dan membuktikan keberadaan-Nya adalah dengan menjadikan itu semua sebagai sebuah makna.

Menangkap cahaya Tuhan adalah dengan cara memaknai hidup. Sambat atau senang boleh, asal semua itu mengandung makna. Cahaya yang kita tangkap dari semua kejadian adalah cahaya dari Tuhan.

Cahaya itu tidak pernah bergerak pada kesadaran cahaya. Pada kesadaran cahaya tidak ada waktu dan tidak ada ruang. Pada kesadaran manusia, jika kita mengendarai cahaya berarti kita seperti cahaya dan ketika seperti cahaya tidak ada yang kita, tidak ada ruang dan waktu. Semua jadi berhenti. Hal itu yang menurut Mas Sabrang, kita bayangkan maknawiyah yang bernama kesejatian. Pada kesadaran dan entitas cahaya itu sendiri tidak mengalami waktu dan ruang. Kita yang melihat ilusi cahaya bergerak pada ruang dan berjalan berdasarkan waktu.

Penjelasan tentang cahaya ini tidak bermakna bagi kita karena latar belakang yang digunakan untuk memahami adalah latar belakang fisika. Ruang kemungkinan memahami cahaya itu salah satu komponennya dengan memahami fisika. Kita yang tidak mempunyai latar belakang fisika, tidak mempunyai kesempatan lain kecuali percaya kepada Mas Sabrang yang memahami fisika.

Tapi ada cahaya lain di balik penjelasan Mas Sabrang, apakah sesuatu yang tidak kita pahami secara sadar ini membuat kita menjadi lebih tenang untuk bisa menangkap makna cahaya? Kalau itu sudah membuat kita bereaksi dan lebih bisa menyerap cahaya Tuhan, menurut Mas Sabrang, itu adalah refleksi dari proses kita bersentuhan dengan cahaya Tuhan.

Kelengkapan Cahaya Tuhan dan Hakikat Penciptaan

Mas Sabrang menagajak kita untuk lebih presisi dalam memahami cahaya. Dari spektrum cahaya, kalau kita mau melihat cahaya itu dasarnya dari gelombang elektromagnetik. Dari spektrum cahaya tersebut yang bisa dilihat manusia hanya sedikit. Kita tidak bisa melihat cahaya misalnya ada Inframerah, X-Ray dan Gamma-Ray, yang itu semua cahaya, sama persis dengan cahaya yang bisa kita lihat. Kita tidak bisa melihat cahaya putih secara utuh — yang  tidak kelihatan kecuali hanya sedikit, karena mata kita beradaptasi menggunakan medium cahaya untuk mendapatkan informasi, sehingga tidak kelihatan cahaya utuhnya.

Supaya bisa menjadi bahan pemikiran kita, Mas Sabrang melemparkan pertanyaan untuk melebarkan perspektif kita dalam memahami cahaya. Kalau ada cahaya merah dan hijau, apakah cahaya merah dan hijau itu diciptakan? Cahaya merah dan hijau itu bukan karena ada cahaya merah dan hijau, tapi ada cahaya putih yang tidak lengkap — sisanya adalah cahaya merah dan hijau.

Ketika ada kelengkapan cahaya, kita tidak bisa melihat. Ketika ada ketidaklengkapan cahaya, baru kita bisa melihat.

Mas Sabrang memperpanjang pembahasan kepada hakikat penciptaan. Semua ciptaan Tuhan bisa kita lihat. Seperti cahaya hijau dan cahaya merah yang dijelaskan oleh Mas Sabrang. Menurut perspektif Mas Sabrang, penciptaan itu bukan dari tidak ada menjadi ada. Karena tidak ada itu tidak ada. keberadaan Tuhan itu ada. Hanya saja, jika ada yang bukan Tuhan itu berasal dari kelengkapan yang dikurangi. Karena kalau lengkap tidak kelihatan, seperti cahaya putih. Tapi ketika kehilangan yang lain menjadi kelihatan sisa cahaya hijau atau merahnya.

Mengapa ada tanah dan kenapa ada manusia? Karena ketidaklengkapan dari Tuhan tersebut. “Manifestasi” yang tercipta oleh Tuhan adalah “tuhan yang tidak lengkap”. Sehingga terjadi adanya potongan-potongan ketidaklengkapan.

Jadi kalau kita mau lebih mendekati Tuhan, caranya adalah melengkapi potongan-potongan masing-masing dari kita, bersambung menjadi semakin lengkap. Bekerja sama dan bersahabat dengan alam atau yang lain, untuk melengkapi potongan cahaya kita agar lengkap. Ketika cahaya kita lengkap, diri kita hilang. Seperti cahaya putih yang tidak bisa dilihat.

“Amsal Tuhan ada di depan mata kita semua. Semua bisa kita alami dan pahami tergantung interpretasi dan kelengkapan alat kita dalam menangkap amsal atau cahaya dari Tuhan,”, tegas Mas Sabrang.

Kesadaran dan Bawah Sadar

Mas Sabrang melihat peta kita dalam menangkap cahaya itu mengenai kesadaran dan menyadari. Menyadari itu punya limitasi yang sangat besar. Karena dalam otak, data yang kita tangkap dan ikut dalam kesadaran yang kita sadari sebagai kesadaran itu hanya 9-12%. Lebih banyak hal yang kita tangkap tidak melalui kesadaran yang kita sadari.

Ada penelitian yang mengatakan bahwa dalam satu detik yang kita tangkap datanya dengan kesadaran yang kita sadari itu 40 bit. Sedangkan yang masuk ke bawah sadar, ada yang mengatakan 11 juta dan ada yang mengatakan 20 juta. Informasi bawah sadar jauh lebih banyak dari informasi yang kita sadari.

Definisi bawah sadar adalah sesuatu yang tidak bisa diraih oleh kesadaran.

Cara menggali bawah sadar ini, menurut Mas Sabrang dengan memiliki jarak dan perspektif. Contoh sederhana melihat bawah sadar dengan melihat postingan Twitter atau Facebook kita dua tahun yang lalu. Ketika kita punya jarak dengan postingan di akun media sosial dua tahun lalu itu, kita akan merasa “jijik” atas apa yang telah kita posting tersebut. Pada saat itu kesadaran kita ketika memosting itu adalah yang terbaik, tapi ketika kita lihat lagi postingan kita dua tahun lalu akan merasa malu sendiri, karena bawah sadar membuat kesadaran kita berkembang.

Kadang-kadang untuk melihat diri, kita butuh cermin. Cermin dari orang lain, cermin dari kita dulu, dst, itu alatnya yang Mas Sabrang menyebutnya sebagai metakognitif. Metakognitif adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri, dengan melihat pola-polanya.

Pecahnya Kontrak Sosial

Mas Sabrang melebarkan pembahasan atas apa yang sedang kita gerahkan terhadap pemerintah saat ini. Kalau didefiniskan, apa yang sebenarnya sedang kita gerahkan? Alasannya ada yang mengatakan bahwa bumi tidak beres dan ada yang mengatakan bahwa pemerintah tidak adil pada hukum. Hal itu benar, karena menurut Mas Sabrang hanya trigger yang bisa kita sadari.

Sebenarnya ada fundamental “garis merah” yang tidak disadari tapi dimiliki oleh setiap orang, yang bernama pecahnya kontrak sosial. Kita gerah terhadap pemerintah karena ada fundamental bawah sadar kita yang paham bahwa terjadi kontrak sosial yang dipecah. Contohnya, singa laki-laki tidak pernah ikut berburu. Tapi ketika singa-singa perempuan yang berada dalam pengayomannya mendapat buruan, yang mempunyai hak makan pertama adalah singa laki-laki. Bahkan singa laki-laki tidak ikut mengurusi anaknya. Hal itu terjadi karena ada kontrak sosial.

Singa laki-laki mendapat hak enak dengan mendapat makan terlebih dahulu dan tidak ikut merawat anak, karena dia mempunyai tanggung jawab melindungi kawanan. Kalau kawanan terancam, yang maju duluan adalah singa laki-laki sebagai pemimpin. Dia merisikokan dirinya untuk mati duluan kalau ada ancaman, dan kawanannya tahu itu. Semua itu sudah menjadi bawah sadar pada mekanisme kehidupan kawanan singa tersebut.

Bercermin dari kontrak sosial kawanan singa itu, kita merasakan yang dilakukan pemerintah tidak sama seperti singa laki-laki yang menjadi pemimpin. Pemerintah yang mendapat gaji dan fasilitas paling besar dari kita, pada keadaan krisis seperti sekarang ini, pemerintah seharusnya yang paling duluan menderita untuk melindungi rakyatnya.

Kita sebagai rakyat yang bersedia di bawah dan memberikan kenikmatan kepada pemerintah, merupakan kontrak sosial bahwa ketika kita sedang susah pemerintah tidak boleh enaknya sendiri. Pemerintah harus paling duluan merasakan susah, minimal meminta maaf kepada rakyat dan bersedia menjalani hidup susah bersama rakyat.

Penderitaan yang Berharga

Semua kesulitan yang kita miliki untuk menatap dan memahami cahaya — yang hasilnya adalah dekat dengan cahaya itu, apakah kesulitan itu cukup berharga untuk membayar kedekatan kita dengan cahaya? Sebab menurut Mas Sabrang, hidup itu sama dengan penderitaan.

Dok. Bangbang Wetan

Berangkat dari hidup itu pasti penderitaan, pertanyaan Mas Sabrang kemudian, apakah penderitaan itu cukup berharga untuk dilakukan? Lha yang membuat penderitaan cukup berharga untuk dilakukan, karena kita yang memberi makna kepada kehidupan.

Memang berat. Misalnya kita mbecak setiap hari untuk menghidupi keluarga dan anaknya agar mendapat nasib masa depan yang cerah. Apakah hal itu tidak berat? Berat. Tapi berharganya orang yang mau “berkeringat” demi keberlangsungan hidup keluarga dan anaknya. Memang kesulitan, tapi pemaknaan atas apa yang dilakukan itu yang berbeda.

Mas Sabrang mengatakan bahwa karena kehidupan itu adalah menu penderitaan yang lengkap, kita tidak mungkin menghindar dari menu penderitaan, yang bisa kita lakukan adalah memilih menu penderitaan tersebut.

Kita memilih untuk menderita karena tidak mengetahui makna atau memilih penderitaan nggayuh makna. Karena yang bisa kita lakukan adalah penderitaan.

Perjalanan itu, menurut Mas Sabrang meneguhkan jamaah, pasti berat untuk apapun yang kita lakukan. Karena sesuatu yang berharga itu tidak mudah untuk mencapainya. Kalau mudah mencapainya berarti tidak berharga.

Surabaya, 21 Agustus 2021.

Lainnya