Kebon (205 dari 241)

Prajurit Nabi Musa dari Purworejo

Foto: Adin (Dok. Progress)

Aku datang ke beribu-ribu tempat di seantero nusantara dan dunia, tetapi itu tidak membuat orang-orang yang berjumpa denganku mengenalku. Yang mereka kenali adalah batas pengenalan mereka sendiri tentang yang disangkanya aku. Ini bukan kesimpulan dalam rangka menyalahkan mereka. Ini sekadar menabung silaturahmi siapa tahu ada manusia yang bersungguh-sungguh dalam upayanya mengenali sesuatu termasuk aku.

Siapakah aku. Siapakah diriku. Diri yang mana aku. Diri yang memang aku ataukah diri ayang-ayang di sekitarku. Diriku yang Allah menciptakan dan mengkonsepnya ataukah diri yang seakan-akan belaka dalam bias pandanganmu. Yang manakah di antara aku aku aku yang engkau bersentuhan dengannya?

Ini aku bukan sedang mendramatisir diriku dan siapa aku. Sebab sama juga kasusnya dengan aku terhadapmu. Yang kukenali padamu hanyalah batas pengenalanku yang mungkin bias atasmu. Sebagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah bukanlah Allah. Tak akan pernah aku benar-benar berjumpa dengan engkau sejatimu, sebgaimana tak kan pernah engkau bertemu dengan aku sejatiku. Mungkin itulah sebabnya Allah menekankan bahwa modal utama setiap manusia adalah sikap taqwa. Sikap waspada. Hati-hati keluar maupun ke dalam. Waspada atas apa dan siapapun saja dan waspada atas dan kepada diri sendiri. Rendah hati. Tawadldlu’. Jangan terlalu terlena apalagi bangga menjadi bagian dari sistem sosial yang sok tahu, kebudayaan klaim-klaim dan peradaban “la ya’rif wala ya’rif annahu la ya’rif”.

Apakah aku adalah aku-ku. Atau aku keluargaku, atau aku nasabku. Aku sejarah turun-temurunku. Atau aku setiap makhluk sejatinya adalah Aku Khaliq. Aku harus pakai celana dan baju untuk menutupi diriku. Maka aku bukanlah pakaian itu. Aku tidak pernah membuka aurat asal-usulku. Aku tak pernah tidak menutupi diriku dengan kostum-kostum sosial budaya. Aku tidak akan membuka-buka bagian dalamku. Aku tidak pernah tidak menyembunyikan aku. Sampai akhirnya engkau semua keliru memandangku. Salah sangka atasku. Salah paham terhadapku. Salah persepsi atasku. Bias dan kabur pengetahuanmu atasku.

Dan demikian pula aku kepadamu. Itulah sebabnya kita perlu saling menjaga. Saling tidak menikmati bias dan kekaburan di antara kita. Saling merawat harga diri di antara kita. Saling tidak menyakiti. Saling tidak mencederai. Saling tidak menganiaya dan tidak membunuh di antara aku-aku dengan engkau-engkau.

Agar supaya muatan silaturahmi di antara kita adalah “tahadduts bin-ni’mah”. Merayakan kenikmatan dari Allah. Mempestakan rahmat-Nya atas kita semua. Bukannya saling nyolong dan mencederai. Maka dalam Maiyahan-maiyahan sering bersama KiaiKanjeng kami mengkomposisikan tiga kelompok Jamaah berselang-seling membawakan “Alhamdulillah was-syukru Lillah”. Kemudian “Wa kullu hammin hammana yahunu bismiKa ya ‘Adhim”. Kami semua merasakan kebahagiaan dan ketenteraman yang luar biasa. Mungkin ini yang disebut “tanazzulul rahmah wal hidayah”.

Supaya setiap pertemuan kita, langsung atau tak langsung, tatap muka atau tidak, ketemu darat atau online, adalah “liqa`un ‘adhim”. Perjumpaan agung. Supaya setiap peristiwa silaturahmi di antara kita selalu diombyongi oleh para Malaikat yang ikut turun dan ikut berkerubung Maiyahan.

تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ

Turun berduyun-duyun para Malaikat Allah, serta bahkan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kalau aku mencari dan melacak diriku kembali, sebagaimana engkau dan setiap diri siapapun saja melakukannya, menapaktilasi diri sepanjang sejarah, dengan mata pandang diri yang mana dan bagaimanakah semestinya? Mata pandang eksistensi? Mata pandang ambisi? Mata pandang kejujuran sejarah? Atau mata pandang Allah itu sendiri?

Aku menelusuri kembali diri di rumah Bu Hadjid dan Pak Carik Gontor. Di kamar seberang kamar Abbas “one eye jack” Sukarto. Di rambut kental keriting Sarwo Edhie Ismail Am-amena Malakalu. Di tempat penampungan kos Ponorogo tempat Damanhuri Panjahitan diusir dari Pondok Gontor sebelum aku. Atau sepanjang Gontor Gandhu Jetis Tegalsari Malo hingga Mlarak. Di SMP tampungan darurat Muhammadiyah VIII seberang bioskop Permata Yogya.

Di kelas gedheg bambu Muhi. Melawan Pak Yud dan Pak Kastolani hal seragam celana dan rambut gondrong. Bikin Majalah Primavista dan Kuntum yang tak kenal pendirinya. Berkelahi di lapangan Mancasan dan duel Tapak Suci di jembatan Tamansari. Di papan koran Suluh Marhaen Gondomanan Yogya yang aku menulis cerita pendek pertama sebelum segala tulisan ribuan lainnya. Di pojok Gudang Percetakan Radya Indria Harian Mertju Suar aku demam tergeletak sendirian. Remaja Paling Kreatif Yogya 1969. Jalan kaki tiap malam menyisir Malioboro melingkar Alun-alun, ke timur lantas utara lagi hingga bioskop Rahayu balik Tugu dan Malioboro utara lagi.

Di belakang Pasar Sentul rumah manusia antik Suwarno Pragolapati. Pengajian pertama di kampung Jogoyudan. Ceramah-ceramah di mana-mana omong entah apa sampai ke Dies Natalis HMI 1973 ganti Ketua dari Ridwan Saidi ke Chumaidy Syarif Romas. Sampai kelak merintis kembali Demo Anti Kekerasan di Boulevard UGM menokohkan sejumlah aktivis mahasiswa yang sebagian kelak menjadi pengkhianat. Mengambil mahasiswa-mahasiswa yang ditahan di Korem sampai kelak membela penjual buku Pramoedya Ananta Toer di Pengadilan Yogya, mengambil tahanan buku indikasi PKI di Polda Metro Jaya.

Aku jadi enthung ora ngerti lor ora ngerti kidul di Maryland. Di tepian Geelong pojok tenggara Australia. Aku menggelandang sobo airport Chicago, berteman dengan para pejuang Lech Walensa tokoh buruh Polandia. Atau menggelandang di Central Stasioon Amsterdam dan mengasuh para gelandangan pengungsi dari Afrika. Memeluk dan menampung tangis Bapak-Bapak Kakek-kakek gelandangan di stasiun bawah tanah U-Bahn Berlin yang jaketnya tebal berisi botol-botol minuman keras. Jumpritan dengan komunitas Kanguru dan bergurau dengan monyet. Tapi bukan kera Sangeh yang mengerti beda antara lembar ID dengan uang, bahkan beda antara lembar uang Dollar dengan Rupiah. Komunitas kera yang tidak pernah berpopulasi, yang jumlahnya ajeg dari abad ke abad, sampai-sampai diasumsikan sebagai kera hasil kutukan atas manusia di zaman Nabi Musa.

فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”.

Betapa sempit pengetahuan kita. Betapa rendah ilmu kita. Betapa sangat sedikit khazanah wacana kita. Bingung membaca Firman Allah:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ [٢:٦١]

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Rombongan asal mana prajurit Nabi Musa itu, sehingga bosan memakan kurma. Sehingga rindu pada kebun dan kuliner kampungnya: yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya. Apa itu pasukan rekrutan dari Purworejo, Wonosobo, Mojokerto atau Wonogiri? Negeri Timur Tengah mana yang tumbuh di tanahnya bawang merah, sayur mayur, bawang putih dan kacang adas? Kecuali Israel dan Mesir yang dihadiahi biji mangga Probolinggo oleh Bung Karno dan mereka bikin industri perkebunan mangga terbaik yang Indonesia sendiri tidak mengurusinya?

Mungkin memang ada tanah-tanah di Negeri sekitar Arab dan Timur Tengah yang bisa ditanami bawang, kacang dan sayur mayur. Tetapi penduduknya lebih terbiasa dengan kurma atau satu dua jenis buah dan makanan lain. Adapun prajurit yang merasa kangen kepada brambang abang, bawang putih, kacang adas dan sayur mayur, pantasnya berasal dari Asia Tenggara, utamanya Pulau Jawa.

Jangan pernah merasa kau mengerti aku. Sedangkan aku sendiri tidak benar-benar mengerti siapa diriku. Siapa itu yang di belakangku dalam suatu jarak, yang pasti bukan manusia, yang seakan sosok tapi hanya terdiri dari pancaran cahaya.

Ya Allah aku ada di tebaran beribu-ribu celah sejarah, di hamparan ribuan titik-titik koordinat ruang dan waktu. Tanpa sejarah, ruang dan waktu mengetahuinya. Kalau masing-masing titik itu kudatangi kembali, kuselami kembali, berapa ribu tulisan yang harus kuketik?

Beribu-ribu aku bertaburan di darat dan angkasa sampai aku itu sendiri melupakannya. Ya Allah apakah aku itu tetap aku ketika itu sampai kini. Apakah itu sebabnya maka dulu Ibu dan Ayahku selalu menggosoki seluruh tubuh kehidupanku dengan minyak peluas “Lillahi Ta’ala” tanpa boleh memakai yang lain-lainnya. Karena hanya Allah yang tak pernah lupa. Hanya Allah yang maha ingat atas segala-galanya. Maha menghargai apapun saja yang seharusnya dihargai.

Lainnya