Pilihan Sikap di Tahun Ajaib

Photo by Fikry Anshor on Unsplash

Di Eropa pada tahun 1665 sampai dengan 1666 sempat terjadi wabah besar, “Great plague of London”. Dugaan penyakit pes yang menewaskan sekitar seperempat penduduk London. Akibat wabah tersebut Universitas tempat Isaac Newton belajar ditutup. Hal itu memaksanya untuk kembali ke rumah dan menghabiskan waktu terbaiknya untuk melakukan berbagai pengamatan.

Salah satu hasil penemuannya yang populer adalah ditemukannya teori gravitasi saat menjalani Work From Home. Adanya wabah/pandemi justru membuka jalan bagi Isaac Newton untuk belajar secara eksklusif. Ia dapat melakukan berbagai progres dari pengamatannya, melakukan praktikum, mengembangkan ilmu optik, menulis makalah dan berbagai penelitian lainnya, sehingga tahun itu menjadi tahun ajaib baginya atas karya-karya yang telah dihasilkan. Itulah sekilas kisah tentang pilihan sikap bapak fisika klasik saat menghadapi pandemi.

Kalau Isaac Newton menemukan hukum gravitasi yang terinspirasi dari beberapa apel yang jatuh ke kepalanya saat ia berada di bawah pohon, maka selama pandemi ini berlangsung saya juga menemukan aplikasi Symbolic.id yang itu saya takjubi sebagai penemuan revolusioner dalam mewarnai perjalanan saya menimba ilmu di Maiyah. Dari eksplorasi saya di Symbolic, saya menyelamdalami makna dari hukum kebermanfaatan (teori utilitarianisme). Bagaimana memaksimalkan kebermanfaatan diri dengan jalan Sinau Bareng secara online, mengolah opini bersama-sama dengan mereka yang bisa jadi berbeda sudut pandang, beradu argumentasi dan data di dalam sebuah forum diskusi yang amat fair, dilakukan secara anonim kadang rumit tetapi lebih banyak serunya.

Saya benar-benar menikmati pergaulan saya dengan aplikasi Symbolic.id yang oleh Mas Sabrang sang founder masih terus-menerus di-upgrade dan dikembangkan. Watak berupa jiwa ingin memaksimalkan manfaat bahkan saya merasa itu terbawa hingga ke dunia nyata di kehidupan sehari-hari.

Contoh sederhana, semisal ketika saya memaknai kemanfaatan dari sholat yang saya kerjakan. Apa manfaat diriku ini untuk orang lain? Jika aku tidak shalat, apa manfaatku untuk orang lain bertambah atau berkurang? Jika kamu muslim apa manfaatmu untuk orang lain, jika kamu tidak muslim, apa manfaatmu untuk orang lain.

Dengan menghidupkan metakognitif dan bertanya menggunakan konsep seperti itu maka leburlah semua perbedaan, dan yang di cari hanyalah sumbangsih dan manfaat atas apa yang kita lakukan.

Contoh lain lagi, menyikapi Covid-19. Bagaimana sikap diri yang paling maksimal kemanfaatannya. Saya sendiri memilih untuk tidak mau terjerembab dalam silang sengkarut berita yang beredar. Karena menurut saya saat ini covid-19 masih tidak bisa dianggap remeh, keberadaannya masih membuat resah masyarakat. Yang lebih bermanfaat untuk saya lakukan adalah tetap eling dan waspada. Eling bahwa adanya wabah menjadi kesempatan untuk introspeksi diri dan waspada terhadap analisa dari sebuah berita, agar tidak terjebak dalam noise information. Semoga setiap individu dapat mengambil hikmah dari “mahaguru” bernama pandemi ini.

Lainnya