Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, Minggu 24 Januari 2021

Petahana Tahun Imun

Dok. Bangbang Wetan.

Majelis Bangbang Wetan mengawali tahun 2021 dengan tema “Petahana Tahun Imun” melalui daring, dan tersambung dengan para narasumber via zoom seperti awal-awal pandemi.

Masa berlaku Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ini membuat kami tetap mengadakan majelis secara terbatas yaitu pada Minggu siang (24/1) bertempat di salah satu ruang kelas MI Tarbiyatus Syarifah gedung 2. Karangnongko, Pekarungan, Sukodono, Sidoarjo.

Sekolah itu dikelola oleh Mas Alik bersama istri, salah satu sesepuh Bangbang Wetan yang selama ini bertugas mendokumentasikan rutinan Bangbang Wetan.

Bekerja sama dan Berkah Mempersiapkan Rutinan

Acara dipersiapkan sejak Sabtu malam. Persiapan dan penataan ruangan majelis dinahkodai oleh H. Rohman ditemani oleh Toni dan Eka Putra. Kami berangkat dari Surabaya ke lokasi habis Isya’ dengan cuaca gerimis.

Sesampai di sana, kami langsung bergegas menyulap sebuah ruang kelas menjadi studio rekaman ala Maiyah. Maksudnya setting ruangan rekaman dengan suasana kebersamaan lesehan dengan gelaran karpet tanpa bangku dan kursi, serta backdrop Majelis Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan dibalut kain hitam menjadi latar belakang.

Bersamaan proses mempersiapkan ruangan itu, rezeki makanan terus berdatangan. Pertama Mas Alik, sang tuan rumah datang dengan satu tas jajan. Disusul oleh Mas Aris, sang penggiat senior yang rumahnya tak jauh dari tempat rutinan datang membawa gitar mini, jajan Terangbulan dua kotak dan sebungkus rokok.

Pada pukul tiga dinihari, Cak Toha, jamaah Padhangmbulan sejak SMA sekaligus pemilik warung Mbah Kung yang lokasinya tak jauh dari tempat rutinan itu, datang menemani dan mengajak H. Rohman membeli nasi goreng untuk dimakan bersama.

Paginya, beliau membuatkan wedang kopi satu morong, untuk meredakan rasa kantuk kami dan menghangatkan badan di pagi yang dingin. Beliau menemani kami begadang sampai pagi menjelang siang. Setelah itu pulang mengistirahatkan badan di rumah karena sorenya harus jaga warung kopi miliknya.

“ya Allah, Mas Alik. ya Allah Mas Aris.”, ungkapan rasa syukur H. Rohman, sang nahkoda, ketika menyaksikan berbagai makanan yang tersedia selesai tandang.

Mendengar ungkapan itu kami tertawa gembira. Selain karena mensyukuri rezeki dari Allah, juga karena yang mengungkapkan itu H. Rohman. Yang membuat kita tertawa karena jarang dia menyebut Allah secara terang-terangan. Selama ini kami mengenalnya sebagai orang abangan, namun ternyata dia selama ini dekat dengan Allah. Sehingga tak tahan untuk tak mengungkapkan rasa syukurnya ketika melihat berbagai makanan yang datang.

Belajar dari Pengalaman di Tengah Puasa Semesta

Pada pukul satu siang Pak Dudung membuka majelis dengan hadiah Al-Fatihah dan diteruskan dengan mendaras Al-Qur’an surat Ad-Dukhan. Pak Samsul, sesepuh simpul Paseban, yang siang itu turut hadir dari Mojokerto, langsung berwudhu dan duduk di samping Pak Dudung. Menemani Pak Dudung bergantian mendaras Al-Qur’an.

Pak Suko, wallpaper e apik. Buku thok wallpaper e”, Mas Amin ditemani oleh Pak Dudung, Mas Hari dan Lik Ahid, menyapa Pak Suko Widodo, sebagai narasumber yang tersambung via Zoom. Siang itu Pak Suko mengungkapkan apresiasinya kepada teman-teman Bangbang Wetan, yang mampu menyesuaikan diri dari kondisi alam yang sedang terjadi pandemi, tetap bisa melaksanakan Maiyahan di siang hari dan dalam jumlah terbatas. Meskipun pada dasarnya hal tersebut tidak nyaman karena tak biasa dilakukan sebelumnya.

Pak Suko berbagi pengalamannya dalam menyesuikan diri di tengah pandemi ini, dengan melakukan hal-hal yang bisa dilakukan sendiri. Misalnya menanam, merawat, dan memotong kayu tanaman di halaman rumahnya sendiri.

Langkah yang tepat di tengah pandemi ini menurut Pak Suko adalah mengurangi target harapan hidup kita yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Dari yang sebelumnya kita menargetkan 10, sekarang dari 10 itu, berapa yang dapat kita lakukan. “ini adalah puasa semesta yang harus kita ikuti saat ini,” tambah beliau.

Dok. Bangbang Wetan.

Pandemi mengantarkan Pak Suko kepada pengalaman hidup untuk lebih ikhlas menerima segala hal dan tak tega melihat orang rekoso. Misalnya ketika Pak Suko pulang ke rumah melihat Satpam komplek rumahnya, beliau bertanya ketika lapar apakah ada makanan yang dimakan, maka Pak Suko tak tega untuk tidak memberinya makanan. Kondisi batin ikhlas dan tak tegaan itu yang membuat Pak Suko lebih nyaman menjalani hidup.

Pesan untuk Menghindari Depresi Ekonomi

Ndak usah kagetan, ndak usah meramal siapa yang akan mati besok, dan mengurangi komentar yang tidak penting. Lebih Menyepi. Menyepi tidak berarti tidak peduli kepada orang lain, tetapi lebih mengenali diri sendiri,” pesan Pak Suko

Selain itu Pak Suko berharap kita terus menjalin komunikasi koloni, kesadaran baru untuk saling menguatkan. Di tengah kondisi seperti itu kita lebih banyak mendengarkan, berdoa dan melakukan hal-hal yang bisa dilakukan.

Sebab yang ditakutkan Pak Suko adalah apa yang disebut depresi ekonomi. Ketika ekonomi tidak bergerak, produksi tertutup, orang saling menunggu, maka potensi kerusuhan akan muncul. Kalau sudah seperti itu siapa yang bisa kita mintai tolong selain Allah. Dosen atau profesor juga bisa terkena covid-19. “Maka mari kita berdoa bersama, kita butuh koloni, kita butuh persaudaraan baru untuk saling menguatkan. Berkomunikasi setiap minggu untuk saling mendengarkan kabar,” Pungkasnya

Kembali ke Kesadaran Utama

Selain itu ada juga Mas Karim dari simpul Mafaza yang turut mewarnai diskusi. Beliau yang menurut Mas Amin memiliki jenggot seperti Metallica ini tengah berproses menuntaskan sekolahnya di Belanda. Mas Karim mengungkapkan bahwa jumlah penduduk yang terpapar dan meninggal di Belanda meningkat, yang membuat pemerintah Belanda memberlakukan kebijakan lockdown dan jam malam di sana.

Selanjutnya Mas Karim merespons tulisan Mbah Nun dalam rubrik Kebon, yang menurut beliau mengisyaratkan kita yang sudah saatnya kembali ke kebon kita masing-masing, Maiyah. Kita kembali ke kebon Maiyah untuk membangun kesadaran dalam banyak hal. Kita jangan lupa kepada sosok Mbah Nun yang menginisiasi gerakan membangun kesadaran ini, yang beliau awali dari menulis puisi.

Pada 1976 puisi pertama Mbah Nun yang telah dibukukan berjudul “M” Frustrasi. Di dalam buku tersebut ada 3 puisi yang berjudul “M” Frustrasi. M dalam tanda petik itu ditadabburi oleh Mas Karim sebagai Muhammad Rasulullah, M kedua adalah Muhammad Ainun Nadjib, dan M ketiga adalah Manusia.

Mas Karim merefleksikan buku “M” Frustrasi itu dengan kondisi sekarang ini, siapa sih yang tidak frustasi. Dalam buku itu Mbah Nun mengajak kita merefleksikan apa dan kenapa sih kita harus frustrasi. Salah satunya solusi tepat untuk tidak frustrasi adalah menata batin, kembali ke Allah. Kembali ke kesadaran utama yang kita butuhkan untuk kita mintai pertolongan, hanya Allah.

Menurut Mas Karim, yang menarik dari metode pendekatan Mbah Nun membangun kesadaran bersama di setiap Maiyahan adalah memperlombakan berbuat baik. Tetapi dalam banyak hal, yang diutamakan beliau justru membangun keindahan melalui puisi, shalawat, dan musik KiaiKanjeng.

Mbah Nun membalik teori pendekatan mainstream dari benar-baik-indah, menjadi indah-baik-benar. Misalnya di setiap Maiyahan beliau selalu mengawali dengan menyentuh tata nilai keindahan dengan shalawat dan musik. Setelah itu mulai ngomong yang baik-baik dan diteruskan bareng-bareng mencari yang benar menurut Allah seperti apa.

Beradaptasi dengan Lingkungan

Dilanjutkan Pak Suko dengan mengutip WHO bahwa salah satu cara adaptasi di tengah pandemi adalah vaksin. Meskipun vaksin mengalami banyak perdebatan. Kata adaptasi menurut Pak Suko bukan terhadap niat tindakan melainkan terhadap lingkungan. Mengenai bersahabat dengan alam, Pak Suko belajar dari tontonan dari film Outlander. Dalam film tersebut Pak Suko membaca tentang cara beradaptasi orang dengan lingkungan sangat alami, tidak ada kimiawi.

Film itu yang mengilhami Pak Suko menjalani cara hidup alami. Mengonsumsi dedaunan atau sayur-sayuran dan sebisa mungkin menghindari konsumi kimia dari obat-obatan. Kalau dalam khasanah Jawa cara hidup Pak Suko itu disebut poso ngrowot, hanya makan dedaunan.

Selain itu Pak Suko membaca perilaku Ki Sudrun yang sedang beradaptasi dengan alam. Sudah sebulan Ki Sudrun tidak memakai baju. Pak Suko sampai saat ini masih menjalin silaturahmi dengan Ki Sudrun. Ki Sudrun sering datang silarutahmi ke rumah Pak Suko.

Ki Sudrun dulu merupakan salah satu personel KiaiKanjeng, yang pada akhirnya memutuskan menyepi, menjadi petani, membangun pondok di Blitar. Ki Sudrun menjalani hidup sebagai petani, angon kambing dan ngaji dengan membiasakan tidak memakai baju akhir-akhir ini. Beberapa waktu lewat, Pak Suko bertemu Ki Sudrun dan menyaksikan bahwa Ki Sudrun yang tampak sehat sekali. Hal itulah yang ditadabburi oleh Pak Suko sebagai salah satu metode adaptasi terhadap lingkungan, bersahabat dengan alam.

Fenomena Influencer

Mas Amin mengutip insight dari Mbah Nun, tidak melihat siapa yang ngomong, melainkan apa yang diomongkan. Menjadi salah satu cara beradaptasi secara sosial agar tidak terbawa arus influencer yang menebar kekacauan dari berita klaim-klaim sepihak. Meskipun di saat lain kita juga perlu melihat siapa yang ngomong, baru mendengarkan apa yang diomongkan.

Menurut Mas Karim, influencer merupakan akibat dari sebab. Kalau ngomong petahana berarti kita ngomong soal rezim. Kalau ngomong rezim ibaratnya barat dan timur. Di barat rezim true of law, sistem masyarakat berjalan berdasarkan hukum. kalau ngomong efisien atau khasanah optimal dan maksimal bisa tercapai di negara hukum. Itu pun dibangun sangat panjang, dari TK sampai pemilihan menteri siapa menjadi apa. Itu pun belum menjamin khasanah optimal dalam menghadapi kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Sedangkan di Indonesia rezimnya gado-gado, ini sangat susah kita ikuti. Bisa dibayangkan misalnya kita menjabat sebagai dirjen, ketika melihat menteri baru, kita tidak tahu beliau itu siapa dan ahli apa, kita juga tidak bisa menjawab menteri itu expert di bidang itu atau tidak. Apalagi masyarakat yang tidak berada di pemerintahan. Belum lagi ngomong soal data dan koordinasi. Tetapi dalam perjalanannya, kalau ngomong dampak buruknya, Indonesia tidak terlalu ekstrem dengan rezim yang menganut true of law yang sangat rapi dan teratur itu.

Mas Karim berpikir ada titik keseimbangan di dalamnya yang perlu dielaborasi. Juga tidak harus gebyah-uyah dalam menjalani prinsip demokrasi, tidak harus sama seperti Amerika. Karena kita punya pengalamannya sendiri yang berbeda dengan Amerika.

Dok. Bangbang Wetan.

Mas Hari memiliki cara pandang baru dalam memandang pemerintah. Menurut Mas Hari, jika kita memandang pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas hidup kita, maka akan lahir banyak kekecewaan. Berbeda jika kita menganggap pemerintah sebagai bapak, maka segala urusan kita akan dilindungi oleh bapak kita, pemerintah. Bahkan Bangbang Wetan mengikuti arahan pemerintah yang melarang kegiatan malam, sehingga Bangbang Wetan menyelenggarakan acara siang hari.

Menemukan Khasanah Pandemi

Mas Acang menambahkan bahwa Allah menghadirkan pandemi karena sedang menelanjangi kita dalam semua hal. Secara syariat saja bisa gagal, misal kalau dulu shaf shalat harus dirapatkan, sekarang yang lebih baik adalah berjarak. Selain itu, pandemi juga membuka bahwa rapor pemerintahan di hampir seluruh dunia ternyata hanya segitu saja. Mulai dari Boris Johnson di Inggris. Dari sektoral pendidikan, pandemi mengarahkan anak untuk ‘pulang’ ke rumah untuk menemukan bapak dan ibu pendidikannya di rumah.

Pandemi menurut Mas Acang merupakan wicked problem, masalah yang tidak bisa disegmentasi hanya pada masalah kesehatan saja. Kalau ngomong pandemi, ini adalah medan perang. Kayaknya pemerintah saling bekerja sama, tapi berebut vaksin. Kayaknya ngomong kolaborasi, tetapi pemerintah di dunia saling berebut yang paling baik menangani Covid-19. Sepertinya ada yang janggal, karena saling bersaing.

Kalau melihat ke bawah, Mas Acang curiga bahwa jangan-jangan sistem ekonomi yang harus diubah.

Mas Acang menegaskan bahwa salah satu dampak dari pandemi yang dapat kita saksikan adalah ditelanjanginya demokrasi. Juga dampak kenapa suara para expert tenggelam dan digantikan oleh influencer, itu efek samping dari demokrasi yang menyebut one man one vote. Demokrasi yang menilai setiap orang, setiap suara itu sama. Walaupun kita sinau dokter selama 16 tahun, bobot suara kita sama dengan orang yang tidak tahu apa-apa.

“Perang saat ini bukan untuk saat ini. Kita harus berpikir ke depan harus berbuat seperti apa,” pungkas Mas Acang.

Tak terasa waktu menjelang petang. Dipimpin oleh Cak Lutfi, majelis dipuncaki dengan bershalawat bersama.

Surabaya, 25 Januari 2021

Lainnya