Pertautan Persinggahan

Image by Kaique Rocha from Pexels

Setiap individu atau bagian terkecil dari dunia ini akan memungkinkan untuk saling berhubungan. Baik dari dimensi-dimensi pengalaman langsung, pertemuan, perpisahan, dan atau bentuk-bentuk perwujudan fisik lainnya. Bahkan yang hanya sekadar pernah mendengarkan, membayangkan, memimpikan, kebetulan, tanda-tanda, atau sekadar melalui ketidaksadaran seseorang — memungkinkan semuanya untuk saling bertautan.

Sebagaimana individu pernah memimpikan atau mengandaikan suatu bentuk peristiwa pada dunia akal/ide-nya, maka tanpa ketentuan yang tidak diketahuinya, unsur-unsur pembentuknya pun akan tersusun secara perlahan. Boleh jadi ia menggapai alam ide tersebut mutlak 99, – sekian % atau hanya sekadar 0,0 – sekian % saja akan terbentuk pada dunia realitasnya. Tentu metode atau alat ukur disini sangatlah kontekstual, tidak serta hanya berwujud dalam dunia nyata, namun perwujudan dalam dunia ide sendiri sudah termasuk bagian dari dunia nyata itu sendiri bukan?

Layaknya mimpi-mimpi kecil seorang anak manusia untuk sekadar menyantap kudapan spesial yang dihidangkan sedemikian rupa oleh iklan di layar tv atau smartphone nya. Bayang-bayang samar keinginan tersebut secara perlahan akan membangun konsepsi berupa kehadiran kudapan penuh selera itu sendiri.

Proses tercapainya impian atau keinginan seorang anak tersebut dapat dilalui oleh varian tautan yang beragam; bisa saja melalui jalur-jalur: memohon kepada orangtuanya, menabung uang saku dan membelinya sendiri, diwujudkan oleh sanak yang mendapatkan uang lebih dan seketika mentraktirnya, atau ketika hanya membayangkan dan mencoba mencicipinya melalui alam idenya sendiri — tanpa perlu menghadirkan sajian tersebut pada rongga dan mulutnya.

Nah uniknya, dunia akal/abstrak/ide ini terkadang begitu mumpuni untuk menghadirkan rasa yang sangat sesuai oleh selera seorang manusia/individu itu sendiri. Dan, malah tak jarang kenikmatan manusia justru disamarkan sendiri oleh rasa yang ditumbuhkan atas kelima inderanya.

Perpindahan pertautan ini terkadang memang tak dapat dikendalikan sendiri oleh seorang manusia. Layaknya para netizen yang setia bercuap di berbagai akun selebgram atau youtuber kenamaan. Sadar dan atau tanpa kesadarannya, jari-jari mereka menautkan berbagai macam link untuk sekadar memuja dan atau (tak jarang) menghujat. Alogaritma dunia maya yang menyajikan tautan demi tautan sedemikan rupawannya, adalah ketidakterjangkauan manusia maya (netizen) dalam memilih tautan mana yang akan disinggahinya barang sejenak, atau barangkali hingga habis kuota paket datanya.

Meski terkadang sajian tautan sudah mereka pilih sesuai selera mereka sendiri — dengan cara aktivasi tombol mengikuti dan atau subscribe. Namun kita tak bisa menahbiskan ketersediaan tab explore, dan atau jalur magis tombol share; guna membagi tautan: konten-konten yang tak bisa kita pilih dan pilah. Bahkan tak jarang, dari unsur ketidaksengajaan jempol kita mementaskan tautan tersebut, malah kita rela menghabiskan menit-menit kita untuk singgah cukup lama di pelataran tayangan tersebut. Ternyata dunia maya pun menyajikan pertautan persinggahan yang tak dinyana juga yah.

Pertanyaannya kemudian adalah, daya atau kekuatan apa yang mendasari tautan-tautan tersebut muncul dan bahkan membonceng kita pada persinggahan-persinggahan yang sangat masif dan tak jarang tertebak itu?

Ketika kembali mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini saling bertautan dan segala sesuatu ini merupakan ketidakterjangkauan, bagaimana dengan doa, harapan, cita-cita, atau apa pun itu yang asalnya dari pikiran dan atau hati manusia adalah tautan-tautan yang sekadar singgah atau justru dapat disinggahi lebih lama oleh manusia? Saya jadi ingat kata atau kalimat singkat yang disampaikan atau diujarkan oleh para guru/ustadz/mursyid/kyai/mbah/orang tua/sedulur-sedulur di sekitar kita semua yang berbunyi: La hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.

Lainnya