(Sinau Puasa, bag. 20)

Pertahankan Ramadhan dalam Kehidupanmu

Photo by Musthafa Hilmi on Unsplash

Ramadhan telah berlalu. Apakah artinya bulan yang penuh berkah, ampunan, dan pembebasan dari api neraka sudah usai? Kalau dalam keseharian kita akrab dengan sebutan Ramadhan dengan istilah bulan suci Ramadhan, lalu apakah berarti bulan selain Ramadhan tidak suci?

Kalau kita selalu merindukan Ramadhan dalam diri kita, dalam jiwa kita, yang datangnya setahun sekali, dan kita merindukannya setiap hari, seperti kalau seorang lelaki jatuh cinta kepada seorang wanita, pengen jumpa tiap hari, pengen dengar suaranya tiap hari, maka terhadap Ramadhan ini, PR kita sebenarnya adalah bagaimana kita selalu menghadirkan ‘Ramadhan’ di dalam kehidupan kita sehari-hari. Jiwa Ramadhan selalu ada di dalam kehidupan kita.

Saya akan memberikan contoh nyata tentang suatu penyakit yang bisa dijaga dan disembuhkan dengan hadirnya Ramadhan dalam diri kita.

Ceritanya, pada hari hari terakhir Ramadhan kemarin, saya menyusuri jalan Adisucipto menuju arah Tugu Jogja. Sesudah keluar dari gang kampung, saya mencoba jalan-pelan, tidak kesusu. Lumayan ramai jalanan sore itu. Berbagai macam jenis kendaraan berbaur jadi satu di jalan itu. Ada truk, bis kota, sedan dan berbagai kendaraan pribadi, sepeda motor dan juga sepeda ontel.

Di depan saya ada seorang anak muda naik motor, berada di sisi kanan jalan dan agak ke tengah. Saya hanya heran saja, lha wong dia juga nggak jalan cepat, dia kendarai dengan tangan kanannya saja, sedang tangan kirinya saya tak melihat, entah mengapa. Terkesan cara dia mengendarai adalah agak menghalangi kendaraan di belakangnya yang akan berjalan lebih cepat, mungkin karena keperluan tertentu, misalnya butuh cepat ke apotek untuk membeli obat karena anaknya sedang sakit, atau berbagai macam keperluan lainnya.

Bukankah ada aturan umum yang berbunyi bahwa kendaraan yang lebih pelan, jalannya di sebelah kiri sehingga memudahkan bagi siapa yang ingin mendahului. Saya yang ada di belakangnya memang sedikit agak geram dengan ulahnya itu. Kemudian saya salib dari sisi kirinya, memang sedikit agak mepet tapi masih ada ruang untuk menyalib, karena sebelah kiri saya juga ada mobil yang ingin mendahului saya.

Bukannya terus sadar diri dan memperbaiki posisi mengendarainya tapi malah balik menyalib saya dari sebelah kiri saya sambil memelototi plat no kendaraan saya. Saya heran dengan ulah itu, tetapi juga tidak heran… Lho lha iya karena begitulah keadaan jalanan di negara kita. Harus dipahami agar tidak bludrek. Jalanan adalah cerminan dari kondisi dari kehidupan kita sehari-hari. Ada egoisme, ada arogansi, ada minoritas, ada stratifikasi sosial dan juga ada kondisi ‘sakit’ baik itu secara moral, sosial maupun biologis (individual).

Secara biologis, hampir pasti tercipta kondisi hipertensi, atau bludrek (dari bahasa Belanda ‘hoge bloed druk’ yang berarti tekanan darah tinggi atau hypertensie). Karena kita sedang berada di jalan raya dan khusus untuk saya ditambah dengan ulah si pengendara sepeda motor tadi, walaupun saat itu saya sedang berpuasa, kondisi jalanan ini sedikit banyak akan mempengaruhi keadaan biologis saya.

Lalu apa hubungannya dengan puasa? Apakah berhubungan? Saya mencoba mencari tahu hubungan antara puasa dengan bludrek. Ada sebuah penelitian kecil-kecilan yang dilakukan oleh teman-teman perawat di daerah Pontianak, beberapa tahun lalu. Penelitian ini mencoba mencari tahu hubungan puasa (yang dijadikan moda pengobatan) terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. Hasilnya adalah, bahwa puasa memberi manfaat yang signifikan sebagai treatment hipertensi. Walaupun jumlah sampel penelitian ini tidak besar, tetapi hasilnya cukup representatif dan bermakna baik secara klinis maupun statistik.

Saya mencoba mencari penelitian yang serupa dalam skala yang lebih besar, dan mendapatkan sebuah penelitian di negara Jerman. Penelitian yang dilakukan di negara Jerman ini melibatkan ribuan sampel/objek yang diteliti. Dan hasilnya mengejutkan! di mana pada subjek yang menderita hipertensi dan mengkonsumsi obat anti hipertensi, maka dengan puasa akan menyembuhkan hipertensinya. Mekanisme bagaimana puasa bisa menurunkan tekanan darah adalah serupa dengan mekanisme obat antihipertensi yang mempengaruhi proses yang berperan pada hipertensi (natriuresis, sistem saraf simpatis, sistem renin — angiotensin — aldosteron, dan fungsi endotel).

Penelitian tersebut juga menjelaskan bagaimana puasa dapat menjadi strategi untuk menurunkan tekanan darah pada hipertensi, dan berfungsi sementara mengurangi atau bahkan menghentikan pengobatan antihipertensi. Hebat bukan? Puasa akan mengobati sakit tanpa obat! Di akhir kesimpulannya, peneliti dari Jerman tersebut menulis: Puasa tampaknya menjadi pelengkap nonfarmakologis yang menjanjikan dalam pengobatan hipertensi.

Masih penasaran saya dengan fenomena ini, saya cari bagaimana puasa itu mengatur kondisi tubuh ini. Saya mendapatkan hasil penelitian kawan-kawan peneliti dari Pakistan, Tunisia, Saudi Arabia, dan Singapura yang mendapati bahwa puasa bermanfaat pada tingkat kardiometabolik dan inflamasi (hal-hal yang berurusan dengan metabolisme jantung dan proses peradangan) terutama bagi individu yang berisiko. Saya yakin masih banyak lagi manfaat puasa bagi tubuh kita, bagi badan wadag kita dan bagi ruh kita. Baginda nabi bersabda “Berpuasalah, maka kalian akan sehat!”.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana manfaat puasa terhadap kondisi tubuh kita atau terhadap suatu penyakit. Masih banyak manfaat puasa yang berguna untuk tubuh kita, baik jiwa maupun raga biologis kita. Maka untuk mempertahankan biologis tubuh tetap dalam keadaan prima, maka hadirkan Ramadhan dalam kehidupan kita, ya sholat malamnya, ya dzikirnya, ya baca Al-Qur’annya, dan tentu puasanya. Jangan lupa selalu memohon dengan berdo’a kepada-Nya.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah Dzat Yang Maha membolakbalikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah Dzat Yang Maha Mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.”

Pada saat tubuh kita berpuasa, maka sel sel tubuh kita bekerja sebagai bengkel yang akan mereparasi tubuh kita.

Lainnya