Perempuan Pemasak Batu

Photo by Parij Borgohain on Unsplash

Kemarau tiba. Sumber mata air kering. Tetumbuhan meranggas. Bahan makanan menipis. Kelaparan merajalela.

Malam itu, Umar dan Aslam keliling kampung, untuk kesekian kalinya. Di hamparan ladang yang kerontang, terlihat nyala api dari gubuk reyot. Semakin mendekat terdengar rintihan dan tangisan seorang anak gadis kecil.

Bersijingkat mereka mengintainya. Terlihat seorang ibu menjerang air, sesekali mendiamkan anaknya.

Sabar nak, sebentar lagi masak.” Sang anak terdiam sesaat untuk kemudian menangis lagi.

Sudahlah nak, tidur dulu.”

Umar dan Aslam uluk salam.

Assalamu’alaikum.”

Acuh tak acuh sang ibu menjawab salam. Ia tak peduli, kembali sibuk mengaduk air jerangan.

Siapa yang menangis?” Umar bertanya.

Anakku,” jawabnya lirih, tetap dengan acuh tak acuh, tak peduli.

Sakitkah?” Umar bertanya lagi.

Tidak, anakku kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka berdiam diri dengan cukup. Namun, gerangan masakan apakah yang tidak kunjung dihidangkan kepada anaknya, yang tetap saja menangis.

Apa yang kau masak Bu, kenapa sedari tadi tak kunjung dientas?

Lihatlah sendiri,” jawab si ibu.

Umar dan Aslam terbelalak. Umar bertanya, “Apakah kau memasak batu?

Perempuan itu menganggukkan kepala.

Lanjut Umar, “Untuk apa?

Perempuan itu bersuara lirih, menjawab pertanyaan Umar.

Aku masak batu hanya untuk mendiamkan anakku yang sedang kelaparan. Inilah kejahatan negara, pemimpin, khalifah. Dia tidak pernah melihat rakyatnya sendiri, apa yang dibutuhkan rakyatnya, rakyatnya kelaparan. Aku perempuan janda. Lihatlah. Sejak pagi, aku dan anakku belum makan apa-apa.”

Menghela nafas. Tamparan kata-katanya belum tuntas.

Aku meminta anakku berpuasa dengan harapan tatkala waktu buka mendapati rejeki makanan. Ternyata tidak. Waktu magrib tiba sebiji kurma pun tak ada. Anakku tidur dengan perut kosong. Kucari bebatuan kecil, kumasukkan dalam panci dan kujerang dengan air. Aku memasak sebagai kamuflase. Membohongi anakku, aku berharap anakku terlelap sampai pagi. Ternyata tidak. Karena lapar, sebentar bangun dan menangis meminta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan.

Apa dayaku? Sungguh Umar tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu itu, Aslam, pendamping Umar, akan menegur perempuan itu. Namun Umar mencegahnya. Dengan air mata berlinang Umar bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Kota. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul bahan makanan di punggungnya, untuk diberikan kepada janda miskin yang sengsara itu.

Umar terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang memikul karung itu…..”

Dengan merah padam Umar menjawab, “Aslam, jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari akhir kelak?

Aslam terdiam mematung. Ia menyaksikan seorang pemimpin, khalifah, tersuruk-suruk memikul sekarung gandum. Ia Khalifah Umar Ibn Al-Khattab.

Lainnya