Perayaan

Photo by prananta haroun on Unsplash

Beberapa tahun silam.

Sebelum Covid-19 melanda, bulan Agustus lazim dipenuhi dengan pesta perayaan. Hiruk-pikuk lomba, panggung perayaan, tasyakuran kampung hingga pawai atau karnaval di sana-sini. Dari pawai mobil, pawai kuda, pawai kereta kuda, pawai sepeda hias, pawai anak-anak sekolah, hingga pawai manusia yang dihias beraneka ragam sedemikian rupa. Hias-menghias dilakukan di sekolah, kantor-kantor hingga di lingkungan sekitar. Sekalipun pojokan itu berhantu, bisa dipastikan akan penuh pernak-pernik, kerlap-kerlip dan bendera yang menjuntai. Lenyap sudah keangkerannya.

Terdapat beberapa versi cara penduduk negeri ini merayakan. Terkadang di sudut desa diadakan dengan kesederhanaan dengan sekadar memotong tumpeng dan memanjatkan doa dengan khusyuk dan kesungguhannya yang lugu. Supaya keberlangsungan negeri ini berjalan tenteram. Ada yang upacara bendera berpanas-panas di lapangan. Dan yang terakhir adalah perayaan dengan pesta meriah. Ingar-bingar dan seribu atraksi dan penampakan-penampakan yang tak pernah terpikir sebelumnya. Diadakan, dirayakan, dengan kegembiraan luar biasa tanpa paham mengapa bergembira.

***

Kepada perayaan pesta pora.

Ini pesta. Yang namanya pesta ya harus dihias. Masak pesta tidak dihias! Demikian, biasanya. Aku terheran-heran pada sorak-sorai pesta pada perayaan kemerdekaan ini. Batin terdalamku bertanya. Apa yang mereka rayakan atas kemerdekaan. Sekadark kemerdekaan berekspresi, sehingga sering pawai-pawai itu nampak sangat bagai sirkus. Suatu sudut pawai pernah aku melihat. Atau beberapa kali aku melihat yang sejenis. Pada sebuah pawai mobil. Nampak pria berdandan wanita dengan perut membesar bagai hamil 8 bulan berdiri di atas mobil pick up. Atau berdandan badut dengan wajah coreng-moreng. Lain waktu berdandan sejenis makhluk atau bagai hantu-hantu di film-film horor. Mobil itu dipenuhi sound system megah, musik disko disetel keras-keras dan ia berjoget binal di pick up itu. Entah apa yang ada di benak gerombolan musik jedag-jedug dan pria hamil yang berjoget itu atas kemerdekaan negerinya. Dan, itu direstui oleh kami semua yang menonton. Dan gembira pawai keliling kampung. Apa maksudnya, apakah korelasinya atas kemerdekaan? Kok seolah tidak mencerminkan sebuah kebahagiaan atas kemerdekaan. Hanya suka-suka tanpa makna. Saya yang naif barangkali, atau memang zaman yang berubah cara dalam merayakan sebuah kemerdekaan.

***

Saat pandemi Covid-19.

Lagi-lagi. Perlulah lakon pemuda-pemuda dalam surat Al-Kahfi layak kita renungi. Belajar di gua. Mungkin saatnya pesta usai. Atau kita ganti cara berpesta. Atau bukan pesta, namun sejenis introspeksi berlandas ucap syukur sungguh-sungguh dari kedalaman hati betapa bahagia diberi merdeka sejak 17 Agustus 1945 silam. Layaknya pemuda-pemudi desa yang kepada nasi tumpeng pesta sederhana mereka merayakan. Dan berencana dalam hati untuk bergerak sungguh-sungguh kepada negeri ini bagai dahulu kala para pahlawan sangat serius dalam berjibaku dengan darah, derita, dan perjuangan.

Atau mungkin dengan Covid-19 ini kita layak renungi, betapa kemarin pesta kita terlalu ramai. Terlalu ingar-bingar barangkali sehingga tak terdengar yang seharusnya menyuara. Suara tentang kabar kemerdekaan yang sesungguhnya. Benarkah kita merdeka. Benarkah kita sudah tidak dijajah? Sadarkah kita atas kemerdekaan yang sesungguhnya? Sadarkah siapa penjajah yang sesungguhnya? Atau kita yang penjajah atau kita yang suka dijajah. Atau kita dijajah tidak sadar? Atau kita telah menjadi penjajah namun juga tak sadar? Siapa yang dijajah, siapa penjajah? Sadarkah? Tahukah? Mungkinkah kesadaran dan kepekaan pendengaran kita atas makna merdeka kabur oleh pesta pora bagai diskotik tahunan yang meriah di seluruh penjuru negeri?

***

Kini.

Tak ada pesta. Tak ada lomba-lomba. Bahkan tasyakuran sederhana bersama-sama di rumah pak RT atau di teras Balai Desa juga tak ada. Semuanya, harus ‘sembunyi’ di rumah saja.

Tak perlu berduka bahkan tak usah merasa loyo seolah kurang greng perayaannya. “Sembunyi” ini baik untuk kesadaran. Sembunyi ini melahirkan kontemplasi mandiri di diri-diri dan juga melahirkan rasa syukur tak terkira dalam gua lockdown masing-masing. Dalam sunyi tanpa ramai-ramai.

Pada sebuah kemerdekaan ini, Simbah (Cak Nun) menulis sedemikian rupa atas kemerdekaan yang sesungguhnya pada 12 Mei 2013 di Caknun.com. “Aku hidup tidak merdeka, dan tidak ada kenikmatan melebihi hidup tidak merdeka. Aku hidup tidak merdeka dan aku syukuri keadaan tidak merdeka ini siang dan malam, di pagi dan sore, di semua menit dan detik, di setiap peluang sesempit apapun. Aku bersyukur, aku bersyukur, aku bersyukur, karena Allah tidak membiarkanku melangkah merdeka. Aku bersyukur, aku bersyukur, aku bersyukur karena Allah mengikatku, memelukku erat-erat dan tidak mengizinkanku keluar dari pelukan-Nya”.

Kalimat Simbah tersebut sangat tepat menghunjam jantung kalau kata lagu Tompi. Demikianlah merdeka di pandemi sekarang ini. Karena ketakmerdekaan gerak karena PPKM pada posisi pandemi inilah justru eratnya pelukan Allah kepada kita. Agar kita senantiasa terhindar dari pesta pora yang terkadang lebih sering mubadzir di luar sana. Dan lantas berhenti di dekapan-Nya. Memaknai merdeka yang sebenarnya dari kedalaman batin kita masing-masing. Sehingga lebih bernilai, khusyuk, dan sakral. Walau dirasa sedikit lugu dan naif. Namun ini murni dan sejati. Sejenis introspeksi yang bertanya pada masing-masing penduduk negeri ini, apakah sudah benar-benar mengisi kemerdekaan 76 tahun ini dengan hal-hal yang setimpal dengan pengorbanan para pahlawan-pahlawan. Sehingga layak untuk berpesta pora dengan beraneka ragam ini itu?

Wallahu a’lam.

Lainnya