Kebon (222 dari 241)

Perang Sampai ke Alam Barzakh

Dok. Progress.

Suatu siang saya mendapat surat panggilan untuk datang ke kantor polisi. Kiai Tohar pusing kepala. Dia lurahnya Patangpuluhan. Bagaimana ini kok ada urusan dengan polisi segala. Saya baru pulang agak terlambat dua hari dari Australia, sehingga janji menjadi moderator di sebuah acara yang bertempat di Gedung RRI Gejayan tidak bisa saya penuhi. Padahal saya sudah dikasih DP Rp.100 ribu Rupiah.

Panitia marah dan saya dilaporkan ke polisi atas tuduhan penipuan. Saya bilang Kiai Tohar, biar saya sendiri saja ke kantor polisi, tidak perlu diantar oleh anak-anak Patangpuluhan. Duel itu ya sendirian, kalau dengan rombongan namanya tawur. Di kantor polisi mereka langsung mengetik Berita Acara Perkara. Saya taati sepenuhnya. Bahkan “penipuan” 100 ribu Rupiah saya sebutkan 5 Juta Rupiah. Petugas bingung karena tidak sama dengan teks gugatannya. Ketika sampai ke alinea akhir, saya bikin pernyataan: “Saya harus diadili sampai tuntas. Kalau saya tidak diadili, saya akan lakukan sesuatu yang saya belum bisa bilang sekarang. Saya harus dihukum minimal 5 tahun. Kalau kurang dari itu, saya akan lakukan sesuatu yang belum bisa saya katakan sekarang…”

Sampai di tahap ini petugas kepolisian bingung. “Niki pripun to Cak?”, dia mengeluh. Kemudian berdiri dan berjalan menemui komandannya. Komandan datang. Tanya ini itu dan jawaban saya sama: “Ya begitu itu. Persis seperti yang sudah diketik di Berita Acara”. Kemudian terjadi dialog lebih luas dan jauh. Akhirnya komandan menelepon pihak yang menggugat. Dan lewat telepon saya dipersilakan bicara langsung. Saya katakan: “Mau perang berapa lama dan sampai ke mana? Sampai alam kubur, alam malakut, alam jabarut, alam lahut, alam barzakh atau terus sampai neraka?

Akhirnya si penggugat saya minta datang ke kantor polisi. Kemudian bersama Komandan saya persilahkan naik ke Jeep 1940 saya, lantas saya bawa ke Warung Soto Sawah dan makan bersama.

Sebuah toko komputer, terbesar di Yogya, didatangi sejumlah preman. Sekitar 10 preman berbagi menuju sekian monitor, kemudian bersama-sama mengangkatnya dan siap membantingnya. Manajer toko segera mengantisipasi dan menemui salah seorang, kemudian dijawab: “Ayo sekarang nyatakan minta maaf kepada Cak Nun. Kalau tidak, kami banting semua komputer ini dan kami obrak-abrik seluruh tokomu”. 

Usut punya usut, ternyata mereka pasukannya Gun Jack, salah seorang anak saya, yang marah karena mendengar omongan yang sangat menyakitkan tentang saya berhubungan dengan kasus Reformasi dan Pak Harto. Akhirnya pemilik toko itu berlari ke Kadipiro. Saya menemui dengan Bu Novia. Setelah beberapa tahap pembicaraan, saya perintahkan di pemilik toko ini dan semua karyawannya besok siang datang ke Mlangi, di sebuah Pesantren, untuk saya traktir makan bersama. Bu Novia langsung memerintahkan Rahmat Mulyono untuk membeli kambing, untuk disembelih dan makan bersama besok di Mlangi.

Acara “tabayyun” di Mlangi berlangsung rapi dan hangat besok siangnya. Tapi Gun Jack agak menyesal dan membisiki saya: “Sebenarnya kalau Cak Nun tidak terlanjur perintah ke Mlangi, bisa kita gorok dulu sejumlah uang untuk nafkah anak-anak buah saya…

Saya minta maaf kepada Gun Jack, tapi berikut-berikutnya saya susunkan strategi untuk “mendapatkan nafkah yang halal”. Sambil saya takjub kepada Allah Swt yang melimpahi saya peristiwa-peristiwa yang aneh-aneh dan tak terduga. Sampai-sampai saya bingung siapa sebenarnya saya ini. Siapa keluarga yang menggerombol di Menturo Jombang sana itu sesungguhnya? Tetapi Cak Mad dan Bu Halimah sendiri, sejak saya balita diajak ke Batuampar dll, beliau berdua tidak pernah memberitahukan siapa sebenarnya keluarga Menturo ini.

Seorang Dukun Santet teman lama Cak Mad bertamu menemui Cak Mad untuk mengeluh bahwa order santetan dia yang terakhir ini sangat alot dan selalu gagal. Setelah diidentifikasi dan diproses, ternyata sasaran santetnya adalah Cak Mad sendiri.

Tapi orang bisa membantah. Lho, bagaimana faqad ‘arafa Rabbahu kalau tidak ‘arafa nafsahu? Harus jelas nasabmu sampai sejauh-jauhnya dalam sejarah di belakang. Juga pengetahuan tentang peran nenek moyangmu bisa sangat membantu energi perjuanganmu, identifikasi peran dan wujud amal salehmu, bahkan jenis nasibmu. Jangan-jangan dari Rasulullah Saw ke Ali ke Hasan dan Husein turun ke bawah bercabang-cabang kemudian memuara kembali ke satu titik, sehingga ke-Habib-anmu tidak sekadar Syarif tapi juga Sayyid. Jangan-jangan dari kakekmu beberapa jurusan semuanya pada sekian generasi berjumpa di titik yang sama yakni Kanjeng Nabi sendiri.

Jangan-jangan Kakekmu titik nasab kesekian generasi, kalau terus sampai Kanjeng Nabi, lantas bisa diindukkan lagi sampai ke Nur Muhammad. Setelah Allah memancarkan cahaya terpuji-Nya itu lantas mengurainya menjadi para Malaikat dan Jin, kemudian memadat dan mengkosong menjadi alam semesta, jagat raya, 37 galaksi dan triliunan tatasurya. Jangan-jangan yang dimaksud Malaikat bukan semacam makhluk tertentu sebagaimana Jin dan Manusia, batu atau padi.

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. 

Jangan-jangan Malaikat adalah rentangan kekuasaan Allah dengan petugas-petugas-Nya yang tak terhingga jumlahnya, yang tak teridentifikasi besar kecilnya maupun keras lembutnya. Jadi kalau Allah memastikan ada dua Malaikat mengawal depan dan belakang setiap manusia, mereka bukan “tertentu” seperti yang kita pahami secara “materiil” selama ini. Jangan-jangan Sunan atau Ki Ageng ini itu yang mengawalmu dan sering memandumu lewat mimpi atau kekhusyukan batinmu, adalah bagian dari frekuensi, gelombang dan spirit “rentangan Malaikat” itu sendiri pada level tertentu.

Jangan-jangan ada di antara engkau yang Malaikat pengawal di belakang dan di depanmu adalah level Nur Muhammad sendiri, atau terkadang dipergilirkan dengan kadar-kadar yang lebih rendah sesuai dengan keperluan hidayah dari Allah Swt. Bagaimana engkau akan tahu itu semua? Kitab kuning berjudul apa yang memperjelasnya? Ulama, kiai, ustadz, atau mursyid yang mana yang bisa memastikan “ma’rifat” tentang fakta sangat bathiniyah itu?

Tradisi kebudayaan Jawa populer tradisional menyebut para pengawalmu itu dengan istilah “prewangan”. Siapa prewanganmu? Yang diperintahkan oleh Allah untuk menuntunmu menempuh berbagai koordinat dan peristiwa dalam sejarah? Yang membuatmu dan aku nongol di sini atau terlibat di sana? Yang membikin kita merasa seolah-olah ada, padahal sejatinya hanyalah ayang-ayang-Nya. Jangan-jangan kau sembrono menyakiti orang yang dikawal oleh Sang Induk ciptaan yakni Nur Muhammad sendiri? Yang diperkenankan sanggup menjelma apa saja? Yang membuat manusia yang dikawalnya seakan-akan sanggup melakukan apa saja, seolah-olah mengerti ilmu dan pengetahuan hal apa saja? Padahal ia hanyalah “talang” yang menyalurkan supply dari Allah?

Di awal-awal Maiyah pernah saya perkenalkan ada Kiai Gentong, ada Kiai Ceret, dan ada Kiai Talang. Para ulama dan sesepuh Islam di zaman dulu rata-rata adalah Kiai Gentong. Santri-santri mendatanginya, kontrak pelajaran Kitab atau mata pelajarab tertentu. Lantas para santri itu membuat tempat tinggal, yang ketiga berkerumun semuanya lantas manjadi lingkungan yang disebut pesantren.

Berbeda dengan yang terjadi di kebudayaan Barat. Masyarakat perlu mendidik anak-anaknya, kemudian bikin lembaga pembelajaran yang bernama sekolah. Kemudian murid-murid berkumpul dan mereka carikan gurunya, yakni Kiai-Kiai Ceret, dengan spesifikasi atau spesialisasi “minuman” yang dipersiapkan dalam ceretnya masing-masing. 

Kelak karena persiapan masa depan anak-anak adalah sesuatu yang urgen dan substansial, maka berkembang menjadi komoditas perekonomian. Akhirnya sekolah-sekolah sampai Universitas menjadi Pasar di mana ribuan orang berdatangan membeli ilmu. Termasuk dalam taqlid persekolahan kebudayaan Barat seperti itulah tumbuh suburnya Sekolah-sekolah di kalangan Kaum Muslimin.

Adapun saya dengan Maiyah hanyalah mekanisme Kiai Talang. Siswa siswi Maiyah tidak perlu mendaftarkan diri secara resmi dan membayar uang masuk dan SPP. Maiyah tidak menjadi pasar yang mengkios-kioskan komoditas ilmu sebagai barang jualan. Padhangmbulan berlangsung setiap malam purnama hampir 30 tahun. Adik-adiknya di Yogya, Jakarta, Semarang, Surabaya, Lampung, Madura, Korea Selatan, Berlin, dan Amsterdam serta 63 Simpul gratisan di mana setiap Salikul Maiyah menelusuri sejarah ilmu dan hikmah hingga ke Nur Muhammad kemudian bertauhid ke Allah langsung.

Maiyah tidak menjadi warung, toko, Mal atau Perusahaan. Jangan menyinggung perasaan Allah dengan tidak mempercayai tanggung jawab-Nya untuk melimpahkan rejeki kepada semua ciptaan-Nya. Manusia cukup memastikan mensyukuri anugerah-Nya dengan terus bekerja keras dan beramal saleh, rezeki dijamin oleh Allah Swt. Jangan hidup hanya untuk mencari dan menumpuk harta benda. Jangan keterlaluan menghina Allah. Jangan dijungkir-balikkan skala prioritas nilai kehidupan yang Allah sudah tentukan. Mosok sudah sampai di Abad 21 masih saja tidak mengerti tata bahasa dan ilmu kata:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Lainnya