Membaca Surat dari Tuhan (12)

Penggemar Standar Ganda

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Pulang dari merantau ke Jakarta yang di sana miskin angin kejujuran saya memutuskan untuk tidak tinggal di Kotagede, tetapi memilih tinggal di kota Yogyakarta. Istilah waktu itu, Jakarta terlalu cepat irama hidupnya dan Kotagede terlalu lamban irama hidup masyarakatnya. Yogyakarta yang tengah berubah, terasa pas irama hidup masyarakatnya. Para perantau yang masuk Yogyakarta itulah yang saya rasakan bisa mendinamisasi masyarakat. Sebab para perantau mewarnai kamar-kamar kos di tengah kampung, memenuhi kamar di asrama daerah kemudian mereka mengalir mewarnai pinggir jalan kota sebagai pedagang kaki lima. Setelah kuliah selesai sebagian mereka kembali ke tanah asal dan sebagian lagi bekerja di Yogyakarta dan hidup sebagai warga Yogyakarta yang sukses.

Kaum migran dan sekaligus urban ini terus bertambah dan kalau disensus barangkali tidak ada satu RT yang warga aslinya seratus persen. Paling tidak ada warga yang datang dari lintas kabupaten atau kota. Yang datang dari lintas provinsi jelas banyak. Ada yang menyebar, ada yang membentuk klaster-klaster lapangan kerja dan klaster-klaster tempat tinggal.

Waktu itu hampir semua kampus ada di tengah kota dengan asrama mahasiswa daerah di kampung agak pinggir.

Memang sebelum kehidupan menyatu betul dan memerlukan penyesuaian pernah beberapa kali terjadi konflik antara perantau dengan warga asli. Biasanya karena perbedaan budaya yang menyebabkan munculnya salah paham. Dan ketika saling pengertian terbentuk maka harmoni kehidupan pun terjaga. Biasanya yang memulai bentrok adalah perantau yang belum memahami budaya asli Yogyakarta. Dan ketika musim bentrok usai maka musim rukun dimulai. Warga kampung asli pun merasakan untungnya punya tetangga yang perantau ini.

Bahkan kekayaan kuliner di Yogyakarta tumbuh oleh perantau. Sate ayam menyebar oleh perantau dari Madura. Masakan Padang menyebar oleh kerja keras orang Minang. Bakmi Jawa oleh perantau sari Gunungkidul. Soto lentuk juga dari sana. Soto Lamongan disebarkan oleh orang Lamongan, soto Kudus, soto Surabaya, soto Makasar, soto Betawi, soto Sokaraja dan soto Banjar disebarkan oleh perantau asal soto ini.

Lalu orang Sunda berdatangan merantau mendirikan pabrik kerupuk, membangun jaringan warung burjo yang sekaligus menjadi ujung tombak pemasaran mie instan dengan mengenalkan mie rebus, ditambah pasukan somai, batagor, cilok. Orang Minang mengenalkan lontong sayur untuk sarapan, sate Padang untuk makan malam. Orang Arab mengenalkan nasi kebuli, nasi biryani dan kebab. Pernah ada orang dari pantura mengenalkan nasi gandul dan aneka masakan ikan bakar, kue terang bulan, dan martabak.

Sebagian orang Sunda kemudian mendirikan restoran masakan Sunda yang diwarnai masakan berbahan dasar ikan. Kemudian para perantau memunculkan aneka menu lokal Amerika yang telah mengglobal seperti hamburger, fried chicken, hot dog, pizza lengkap dengan kentang goreng dan minuman bersoda. Lalu datang gelombang orang Klaten, Bayat persisnya, membangun jaringan warung angkringan malam hari dan ketika cari kerja sulit muncul jaringan warung koboi siang hari. Dalam hal ini warga kampung sudah mulai ikut bermain di kuliner ini. Kemudian muncul kudapan dengan kereta dorong berupa sosis bakar, tenpura bakar dan sejenisnya.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk dinamika sosial dan kuliner ini saya sempat “mengembara” menjadi juru kontrak alias kontraktor yang tiap beberapa tahun pindah rumah kontrakan di delapan kampung, yang bersamaan dengan itu kantor koran tempat saya bekerja juga berpindah lokasi dan berganti nama sampai akhirnya dipertahankan dalam bentuk edisi online. Saya kemudian hijrah ke majalah.

Ketika mengembara dari kampung ke kampung saya menemukan metode untuk adaptasi dengan kampung baru yang saya tinggali. Metodenya sederhana. Saya dan keluarga selalu berbelanja di warung terdekat sehingga mudah mengenali pemilik warung, tetangga yang berbelanja di warung ini, dan kebiasaan setempat. Metode ini kami lengkapi dengan selalu aktif menjadi anggota arisan kampung, aktif menjadi anggota regu ronda bahkan ikut ramai-ramai berwisata keluar kota bersama warga kampung.

Metode srawung ini sebenarnya warisan ketika saya masih tinggal di Kotagede dan punya banyak teman di lintas kampung.

Dari pengalaman mengembara di banyak kampung di dalam kota saya menjadi mengenal dinamika ekonomi mikro tingkat kampung lengkap dengan plus minusnya. Saya pun bisa membaca surat dari Tuhan berisi informasi tentang kebiasaan berekonomi masyarakat setempat. Baik yang ideal atau yang kurang ideal.

Uniknya, saya kemudian menyadari bahwa saya menjadi memperhatikan dinamika kuliner yang tumbuh di tengah kampung sampai sudut kota ini karena saya pernah membaca ayat dalam sebuah surat di juz ‘Amma, “Maka hendaklah mereka memperhatikan makanannya (juga minumannya)”.

Sampai-sampai saya waktu itu masih menemukan soto lawasan yang segar dan sedap karena diberi bumbu kunir. Soto kuning, dengan potongan lemak kuning dan sate ayam berwarna kuning ini dijajakan dengan masih menggunakan pikulan. Keluarga saya sering membeli soto yang sekarang langka atau malah sudah tidak dijual lagi.

Demikian juga penjual getuk dari pisang yang disebut tetel, dengan ditemani otek rebus dan canthel yang diberi parutan kelapa sungguh unik rasanya. Sekarang juga langka. Barangkali hanya dijual di dalam pasar Patangpuluhan. Demikian juga minuman lawasan seperti wedang semelak yang terbuat dari buah pace masak, rujak ceplus yang pedesnya minta ampun, atau minuman legen atau arak aren yang dijual dengan wadah klenting dari tanah liat. Atau minuman segar bernama Pleret yang isinya kue dari beras, manis diberi kucuran santan encer dan juruh manis. Atau kudapan bernama jenang nongko yang hanya dijual di satu tempat di Kotagede sore sampai malam hari.

Ayat tentang “hendaknya mereka memperhatikan apa yang mereka makan” ditambah dengan ayat tentang jual beli yang halal dan riba yang diharamkan membuat saya juga menjadi pengamat yang gemar mengamati pasar tradisional. Sampai kemudian saya menemukan kalau pasar tradisional ini punya karakter dan ciri khas. Modalnya, pasar Karangkajen yang khusus menjual ketela pohon dan ketela rambat. Dari mana ketela ini dikirim dapat dilihat dari nomor polisi mobil yang ada kode daerahnya. Penjual ketela hafal betul dengan jenis ketela pohon dan bisa membayangkan rasanya hanya dengan menyentuh barangnya. Ketela jenis ini bagus dimasak anu dan ketela yang itu tepat diolah menjadi itu, mereka hafal betul. Penjual gorengan pun belajar . membedakan jenis ketela dengan bertanya kepada pedagang dan pedagang dulunya bertanya kepada petani yang menyetor dagangan.

Kemudian Pasar Sentul yang selain menjadi pasar sembako, juga dikenal sebagai pusat penjualan pisang dan jagung. Ini dapat dilihat dari secara periodik datang mobil pembawa pisang mentah dari mana saja dan jagung segar yang habis dipanen oleh petani dari Piyungan. Saya pernah mengamati pasar Sentul hampir sepuluh tahun sampai mengenal jam berapa rentenir masuk pasar untuk menagih hutang. Lokasi penjual barang tertentu juga saya amati, lengkap dengan percakapan mereka. Hasilnya, dari mengamalkan ayat suci dalam kitab suci ini saya bisa menulis puisi berjudul “Kesaksian Pasar Sentul” yang menjadi juara pertama lomba penulisan puisi yang diselenggarakan oleh Purna Budaya Yogyakarta tahun 1989.

Kemudian Pasar Beringharjo yang selain dikenal sebagai pasar induk aneka barang mulai dari sayuran sampai batik, ternyata juga merupakan pasar induk untuk empon-empon atau bahan jamu atau bahan obat herbal dalam jumlah yang cukup banyak. Mau cari brotowali yang pahitnya level sembilan, pule yang pahitnya level delapan, sambiloto yang pahitnya level tujuh ada. Juga kayu manis, kemukus, jahe, kencur, temu lawak tapi tak bisa ketawa, temu giring, temu ireng yang pahitnya level enam atau puyang yang pahitnya level lima pun ada.

Bahkan kalau mau membeli inggu dalam jumlah besar tersedia, yang barang ini hanya dijual sedikit di pasar Pawirotaman. Pasar Serangan tempat para pengusaha katering berbelanja juga saya kenali karena ada penjual kara benguk gurih yang pernah saya nikmati sampai kenyang ketika saya bertamu ke rumah Marjudin Suaeb di Lendah. Hanya bedanya kalau di tempat Marjudin, kami makan tempe benguk gurih dalam piring dengan ditemani susu kambing dicampur jahe panas, sedang benguk gurih pasar Serangan hanya bisa dinikmati bersama teh manis hangat di rumah sendiri.

Dan kabarnya, anak petani lombok dari pesisir selatan Kulonprogo menjual lombok kelas motor di pasar ini. Perlu diketahui, para petani pesisir selatan Kulonprogo yang ahli menanam lombok berkualitas ini menemukan teknologi sumur pantek untuk irigasi sawah pasir, menemukan teknologi pelindung pohon dengan anyaman daun kelapa dan menemukan sistem pemasaran yang tidak bisa didekte tengkulak. Petani justru dengan percaya diri mendikte tengkulak dalam soal harga lewat sistem pasar lelang, yang ini dikagumi oleh ekonomis Didik J Rachbini ketika diundang panen raya lombok di sana. Waktu itu saya hadir bersama Kiai Marzuqi Kurdi.

Pasar tradisional yang unik lainnya adalah Pasar Gading yang menjadi jujugan pengusaha katering dalam kota kalau mendapat pesanan mendadak yang kalau berbelanja di pasar induk Giwangan terlalu jauh makan waktu.

Pada waktu kontrak rumah di sebuah kampung saya menemukan gejala kanibal ekonomi di kalangan masyarakat bawah. Ada warung sembako kecil hampir bangkrut gara-gara para tetangga berbelanja dengan cara berhutang, tidak kontan. Model ekonomi kanibal ini saya temukan juga di kampung lain ketika ada penjual sayur matang barang yang dijual sama persis dengan barang masakan yang dijual tetangga dekat. Tentu pembelian awalnya berduyun ke penjual baru dan tetangga yang menjual sayur lebih dahulu sepi pembeli.

Dan yang sungguh mendebarkan adalah ketika kontrak rumah di sebuah kampung yang banyak warga berjualan buah di tempat wisata. Saya mendengar percakapan bagaimana seorang pedagang merayu tetangga agar berlaku curang dalam timbangan. Saya langsung teringat salah satu surat dalam juz ‘Amma. Surat Al-Muthoffifin atau surat Standar Ganda.

Bermain standar ganda ternyata tidak hanya dipraktkkan dalam perdagangan global, tetapi juga dipraktekkan dalam perdagangan mikro di tingkat kampung.

Bermain standar ganda ternyata tidak hanya dipraktkkan dalam perdagangan global, tetapi juga dipraktekkan dalam perdagangan mikro di tingkat kampung.
Ketika saya kemudian membaca surat Al-Muthoffifin ini sampai rampung punggung saya berkeringat. Sebab ayat-ayat dalam surat itu membongkar secara teknis praktik standar ganda dan risikonya di alam akhirat nanti. Tertulis “skenario” lengkap. Bagaimana manusia akan menerima kitab catatan amal perbuatannya yang tidak bisa dibantah lagi isinya. Juga tentang balasan bagi kelompok orang yang suka mentertawakan manusia beriman. Dijelaskan bagaimana manusia beriman di akhirat nanti duduk santai di balkon ganti mentertawakan kaum yang dulu mentertawakan mereka orang yang ingkar yang dulu suka mengedipkan mata menghina orang beriman kemudian tertawa terbahak-bahak ini tampak oleh orang beriman sedang digiring ke Al-Jahiim.

Skenario Tuhan yang pasti ada berlangsung nanti sebenarnya membuat saya ingin menasjhati tetangga yang hampir terbujuk menjadi penganut standar ganda. Untungnya, dia masih kuat imannya sehingga bujukan tetangga itu terpental. “Aku luwih apik tuna sathak ananging bathi sanak,” katanya. Saya lebih baik rugi sedikit dalam perdagangan ini tetapi saya mendapat keuntungan yang berharga, saya tambah sedulur atau mendapat saudara yang baru. Alhamdulillah, batin saya.

Yogyakarta, 26 Juni 2021.

Lainnya