Kebon (153 dari 241)

Pencit Bukan, Mangga Belum

Dok. Progress.

Jangankan di era Kadipaten, sedang selama di “Universitas” Patangpuluhan saja saya gagal mengingat-ingat bagaimana dulu pola maintenan hidup sehari-harinya. Makannya bagaimana. Pembagian tempat tidurnya bagaimana. Nafkah dan perekonomian keluarga Patangpuluhan ditata secara bagaimana.

Mungkin diskusi rutinnya ingat, gaple tiap malamnya ingat, Yasinannya ingat. Tetapi makan sehari-harinya bagaimana. Apa mengumpulkan uang kemudian diterapkan bersama. Ataukah ada yang bagian mentraktir dan ditraktir. Apa ada dapur yang kompornya menyala sehari-hari. Itu semua saya benar-benar tidak mampu menapaktilasi. Penduduk Patangpuluhan ada yang mahasiswa, ada yang seniman swasta penuh, ada aktivis macam-macam pergerakan, ada sopir atau pekerja biasa, ada yang Markesot segala. Belum lagi Michael Bodden, yang sekarang Profesor di Wisconsin Amerika Serikat, tinggal beberapa tahun di Patangpuluhan tanpa saya ingat bagaimana manajemennya dulu.

Samar-samar kelihatan memang kami pergi ke warung bareng-bareng setiap saya pulang dari acara yang saya dapat honor. Tapi kan tidak selalu. Banyak panitia yang mewujudkan cintanya melalui pemberian vandel atau èblèk kayu atau logam. Jangankan yang lokal Yogya, sedangkan saya diundang ke Bogor oleh kumpulan mahasiswa Islam selama dua hari acara siang malam, pulangnya hanya diantar ke stasiun Gambir Jakarta dan dilepas begitu saja. Untung masih ada koin untuk telepon Mas Uki Bayu Sejati, sahabat sejati saya yang sangat setia sebagaimana Pakde Nuri di Yogya. Mas Uki yang kemudian membelikan tiket untuk balik ke Yogya dengan kereta Senja.

Salah satu contoh kasus ideologi vandel dan èblèk itu setelah suatu rangkaian acara di Surabaya, saya balik ke Yogya naik bis umum membawa satu tas besar berisi kumpulan vandel dan èblèk. Karena lumayan berat, ketika transit di terminal Solo, sengaja tidak saya bawa turun dari Bus dan memang sengaja tidak saya bawa pulang ke Yogya. Ternyata di tengah ngopi sebelum naik bis ke Yogya, ada pengumuman keras: “Mohon perhatian! Kepada Bapak Emha Ainun Nadjib, diberitahuhan bahwa ada tas dan barang yang ketinggalan dalam bis dari Surabaya. Mohon diambil di kantor….”

Kan mustahil saya datang ke kantor terminal untuk berceramah tentang bentuk-bentuk apresiasi, konsep penghargaan atau peta honorarium, bisyaroh atau apapun. Sejak tengah malam di terminal Solo itu saya belajar bahwa tidak semua hal bisa diungkapkan di semua tempat. Tidak semua tema bisa didiskusikan dengan semua orang. Tidak semua masalah bisa dipertanyakan kepada semua pihak. Setiap hal selalu ada konteksnya, ketepatan kontennya, proporsi ruang waktunya. Apalagi saya hidup di tengah sebuah bangsa dan negara yang sudah tidak mentah, tetapi belum matang.

Kalau saya bicara apa adanya tentang Indonesia, 17 Agustus 1945, Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY dan Jokowi, produknya pasti mafsadah atau kerusakan. Untunglah Allah Swt Maha Tahu fenomena puasa semacam ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

Indonesia, pemeluk teguh “agama” modernisme, posisinya adalah mangga kemampo. Pencit sudah bukan, mangga masih belum. Berdirinya Negara Indonesia adalah dibangunnya konsep modernitas dan modernisme semacam itu. Yang sejak pelok-nya sudah tidak mengambil dari kepribadiannya sendiri. Kemudian tidak pernah memahami bahwa ia kemampo, karena aspirasinya tentang mangga meniru dari kebun yang lain di dunia Barat. Maka saya juga tidak bermimpi atau mengemis untuk menjadi apa-apa atau siapa-siapa di tengah masyarakat Indonesia modern setengah-setengah ini. Saya tidak mendambakan untuk diakui dan siap lila-legawa untuk dianggap tidak punya prestasi dan reputasi apa-apa.

Sabrang anak saya mengatakan bahwa ideologi itu lahir karena ketidakberhasilan atau kemalasan manusia untuk memahami dan menyangga kompleksitas kehidupan yang mereka alami. Maka dibikin formula pragmatis dan alat simplifikatif yang bersifat sangat padat untuk menggerakkan sejarah, yang bernama ideologi.

Dan ideologi bernegara Indonesia adalah Pancasila. Sudah sedemikian sederhananya rumusan lima nomor dengan 26 kata, itu pun tidak benar-benar dipelajari, apalagi dilaksanakan dalam kehidupan bernegara. Jangankan alur kontinuasi arti dan transformasi makna dari sila ke sila. Sedangkan per-sila saja pun tidak benar-benar diteliti dan didalami. Jangankan per kalimat di sila-sila, sedangkan setiap kosakata yang dipakai dalam Pancasila juga tidak dicari hulu-hilirnya.

Maka sehebat apapun Pancasila, tidak bermakna apa-apa secara memadai di pikiran Pemerintahnya dan di hati rakyatnya. Bahkan secara sangat dungu Pancasila dipertentangkan dengan Islam atau apapun lainnya yang dianggap tidak kompatibel dengan sistem yang sedang berlaku. Itu pun tidak karena muatannya, tetapi karena pilihan kostum dan emblim penguasanya.

Gula dan garam menjadi bodoh kalau ingin diakui manis dan asinnya oleh orang yang lidahnya mati rasa. Keindahan bunga atau lukisan harus ikhlas tidak bermakna apa-apa bagi orang buta. Bledèg dan halilintar atau “shoihatan wahidatan” bukan peristiwa dan tidak bermakna apa-apa bagi orang tuli.

Sementara mereka yang tidak buta atau tuli tidak punya kemampuan untuk menata informasi di dalam pemetaan nilai dalam akal dan hatinya. Setiap ungkapan kebenaran ilmu, harus disesuaikan dengan kepentingan politiknya. Setiap ucapan kebaikan, menjadi dimaknai sebaliknya, jika tidak sejalan dengan pamrih kekuasaannya. Kita berdehem, disangka menyindir. Kita batuk dianggap mengejeknya. Kita bersin dianggap makar.

كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ
هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ

“Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?”

Coba baca kembali tulisan ini dari awal dan terjemahkan”kaannahum khusyubun musannadatun” dengan èblèk dan vandel.

Lainnya