Kebon (78)

Pencak Silat(urahmi)
dan Tapak Reget Saya

Foto: Adin (Dok. Progress).

Salah satu yang saya sesali dalam hidup saya adalah saya tidak memperoleh pewarisan atau kontinuitas transformasi ilmu dari kakek-nenek moyang saya. Baik berupa kitab kuning, ilmu-ilmu kebatinan dan kanuragan, atau apapun. Saya hidup tanpa pegangan apa-apa kecuali iman polosan dan tauhid garingan kepada Allah Swt.

Jadi ketika diundang oleh sebuah perguruan silat terkenal di Madiun beberapa kali, serta di Grobogan, sampai juga murid-murid undangan dari mereka di Malaysia, saya gembira campur prihatin, senang campur sedih, bersyukur campur nelongso.

Apaaa…saya ini. Kitab-kitab Islam tidak mengerti, sekolah modern mogol, tamat SMA rekayasa, sarjana nggak, apalagi doktor profesor. Menjadi Guru SMP saja saya tidak memenuhi syarat. Karier sepakbola tugel di tengah jalan.

Qiro`ah mertanggung, suara rusak oleh begadang 5 tahun di Malioboro. Nyanyi ndak potongan. Teman saya mengejek setelah mendengarkan saya nyanyi di sejumlah album KiaiKanjeng, “Kok ngoyo mekso nembang barang to Cak?” Kenapa saya menganiaya diri sendiri dengan memaksakan diri bernyanyi. KiaiKanjeng memang kurang ajar, saya disuruh-suruh nyanyi: “Jalan Sunyi”, “Engkau Menjelang”, “Kekasih Tak Bisa Menanti”, dan banyak lagi. Bahkan saya berGR-GRria ngarang lagu-lagu segala macam. Padahal nggak ngerti struktur nada, jiropatmonempi maupun solmisasi. Apalagi sampai Bayati, Sikah, sikah gigi, sikah mental dst.

Pencak juga ndak bisa, paling pol silat ditambah urahmi: Silat(urahmi), ya seperti yang saya kisahkan bersambung, dari Menturo, desa dan Pondok Gontor, Dipowinatan, Patangpuluhan, Kasihan hingga Kadipiro sekarang. Isinya “garingan” semua seperti solo-ludruk Markeso, meskipun saya punya teman Markesot.

Apalagi undangan ke Madiun itu ada yang dengan misi merukunkan kembali komunitas persilatan yang terpecah menjadi “madzhab-madzhab” dan bentrok satu sama lain. Baik yang dari satu perguruan, maupun yang antar perguruan. Sampai-sampai saya nekad mengajak para pendekar muda dari berbagai perguruan silat naik panggung. Saya ajak berdiskusi tentang filosofi silat, asal-usulnya, arah tujuannya untuk kemanusiaan dan bebrayan. Saya minta mereka memperagakan contoh kuda-kuda, jurus, tangkisan, pukulan, tendangan, sempok, gingkang dll. Terus saya sesekali berlagak gini gitu supaya massa di lapangan menyangka saya juga bisa main pencak silat.

Padahal jelas mereka semua memanggil saya “Mbah Nun”. Saya seorang Kakek tua renta yang badannya sudah “remek” dan “engkrik-engkriken”.

Dulu di Malioboro saya punya teman akrab yang kebiasaannya sehari-hari adalah menggerak-gerakkan kedua tangannya, dari jari hingga sikut, diputar-putar, ditekuk, naik-turun dan bermacam-macam gerakan lagi. Setiap orang yang menyaksikan itu otomatis berpikir “Ini orang pasti pendekar silat”. Saya tidak menuduh atau menyimpulkan atau bahkan juga tidak menduga bahwa ia melakukan itu supaya orang menyangka ia adalah pendekar silat. Saya hanya berkisah tentang kesukaannya menggerak-gerakkan tangannya. Sebagaimana sejumlah teman yang setelah berlatih karate atau kempo beberapa minggu, kalau ke mana-mana biasanya kedua tangannya diplulat-plulitkan.

Di masa kecil idola saya adalah Haji Ikhsan, kakek saya sendiri, Bapaknya Ibu saya. Kalau dari Menturo kami ke Kauman Tuban, rumah beliau, malam tatkala kami tidur, Mbah Ikhsan membawa lampu teplok ke tempat kami tidur, banyak nyamuk berkeliaran dan beliau menangkapi nyamuk-nyamuk itu dengan dijepit pakai jempol dan telunjuknya. Saya dan kakak adik saya pura-pura merem padahal melirik menikmati adegan itu. Kalau siang bahkan beliau menangkap lalat dengan dicawuk dan digenggam.

Kakek Ikhsan itu bersaudara dengan Haji Syarif dan Haji Maki, trio pendekar muridnya Mbah Busyro Syuhada Banjarnegara, lahir 1872 keturunan Pangeran Diponegoro. Trio-Pendekar yang rumahnya di Cukir itu melatih silat santri-santri Tebuireng, menjadi penasihat IPSI Jatim, tetapi tidak pernah meresmikan atau menginstitusionalisasikan perguruan silatnya. Murid-muridnya seperti Pak Sampan Nglele dan sejumlah sesepuh di Menturo juga tidak resmi perguruannya. Tidak ada nama perguruannya. Tidak ada proses pewarisannya juga.

Padahal aliran silat Mbah Busyro Syuhada yang pengayom keluarga Kolopaking itu ketika sampai di Yogya menjadi “Tapak Suci”. Lha saya sendiri yang cucu pendekar hanya punya “Tapak Reget”, atau bahasa Menturonya “Tapak mBlungko”. Saya sekeluarga tidak punya kemampuan pencak silat apapun. Hanya ketika kanak-kanak pernah menyaksikan anak turun perguruan Mbah Busyro itu berlaga di halaman rumah Bang Ya, sebelah area Padhangmbulan sekarang. Pertandingan silat yang sampai hari ini tidak bisa saya pahami, karena pohon-pohon roboh ditimpa badan mereka, termasuk Lesung alat penumbuk padi diangkat-diangkut untuk senjata.

Sampai usia setua ini tangan saya seperti hanya saya kalungkan di leher bagaikan pemalas. Sebab untuk mengulurkan tangan, misalnya melakukan gerakan sosial, revolusi politik, apalagi seperti yang dilakukan oleh FPI, saya tidak pernah mampu menemukan rumusan dan formula yang tepat, dengan kadar dan batas yang mashlahat bagi semua pihak.

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ
وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”

Benar-benar itu dilema yang rumit. Apalagi untuk keadaan Indonesia yang absurd, ajaib, dan banyak sihir-sihir besar berseliweran, sampai-sampai bisa menghadirkan semacam Nabi baru yang dipuja-puja dan dibela-bela melebihi para Nabi dan Rasul dahulu kala dibela.

Lainnya