Kebon (127 dari 241)

Pencak Harus Silat

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Dunia Maya atau medan internet adalah universitas paling canggih di abad ke-21. Medsos adalah profesor guru besar yang mengajarkan kepadaku sangat banyak hal: manipulasi, eksploitasi, adu domba, ghibah, kidzbah, dan akdzubah, mblèhar, ngawur, sembrono, “yufsiduna fil ardli wa yasyfiqud dima’”, baththas dan barbariyun, “adigang adigung adiguna”, yang secara keseluruhan dinomenklaturkan oleh Allah sebagai “dhaluman jahula”. Atas jasa medsos, pengetahuanku dan mestinya juga pengetahuan seluruh ummat manusia, mengungguli masyarakat Jin dan bahkan mungkin Malaikat. Tidak pernah ada wacana, informasi atau narasi di Kitab apapun saja yang menceritakan bahwa Malaikat lebih pandai berdusta dibanding manusia. Apalagi berkerja dengan takaran rècèh, cèpèran, remeh-temeh, ngglèthèk, mak kluthik, cengeng, dan lebai sebagaimana manusia.

Juga Indonesia. Atau apalagi Indonesia. Indonesia adalah media ta’lim, jagat ta’rif dan semesta mu’ammaqul ‘ilmi yang terkaya bahan-bahannya dan tercanggih sistemnya. Sungguh tak terhingga rasa syukurku atas anugerah Indonesia. Yang memberiku pelajaran dan pengajaran tentang perlunya mizanul fikri dan ta’lilul ‘ilmi.

Tentang segala probabilitas, formula, bentuk, dan cara-cara yang sangat kaya alternatif bagaimana mensiasati demokrasi, bagaimana membolak-balik nilai, merusak keseimbangan dan harmoni. Tentang apa kriteria pemimpin. Bagaimana kualitas seorang Presiden seharusnya. Syarat-syarat kelengkapan menjadi pejabat publik. Indonesia adalah guru besar mata kuliah hipokrisi dan teknologi kemunafikan.

Siapapun yang tidak pernah mengalami Indonesia, tidaklah akan maksimal apalagi sempurna pengetahuannya tentang kemunafikan, dusta, tipu daya nilai. Juga tak akan pernah mengalami apa dan siapa saja dalam hidup ini yang menjengkelkan, menjijikkan, memuakkan, sampai kadar dan tingkat tinggi sedemikian rupa. Siapapun yang ingin membangun dunia yang berkemashlahatan dalam setiap peristiwa relasional sosial budaya dan politiknya, berkedaulatan dalam kesimbangan, maka belajarlah kepada Indonesia.

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafik ada tiga. Kalau berkata, dusta. Kalau berjanji, mengingkari. Kalau dipercaya, berkhianat.

Rasulullah Muhammad hanya mengkuliahkan terminologinya seperti itu. Tetapi kalau ingin empiris, mengalami dan praksis langsung, maka kuliah kerja nyatalah di Indonesia. Dan alamilah:

فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا

Maka mengapa orang-orang munafik itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

Waktu kanak-kanak kita bernyanyi keras: “Pribang pribangsaku. Ayo maju ayo, ayo maju ayo, ayo maju”. Sungguh mendalam rasa syukurku kepada Allah atas Indonesia. Hanya karena pendidikan Indonesialah kita tidak bisa dibikin bingung atau marah oleh orang Madura yang menyanyikan: “Enam belas Agustus tahun empat lima….”. Sebab kalimat berikutnya adalah: “Besoknya hari kemerdekaan kita….”

Itulah juga sebabnya salah satu perayaan syukurku adalah menulis buku di tahun 1979 “Indonesia, Bagian Dari Desa Saya”. Sebab kalau tidak ada unsur Indonesia di desa saya, Menturo, di Gontor kemudian Yogya, mungkin hidup saya hambar, steril, “wagu” dan “sepõ”.

Dalam situasi penuh syukur atas dunia medsos dan Indonesia itulah, anak-anak saya Kenduri Cinta berkumpul pada 6 Maret 2021 yll di Gedung SMK Jakarta Pusat, memperingati ulang tahun Covid-19 dan menikimati pengembaraan ilmu melalui pintu gerbang ilmu “Sambung-Sinambung Silaturahmi”.

Sejalan dengan aspirasi KC itu, Sabrang menuturkan bahwa ada ahli yang mendefinisikan “Society adalah komunikasi dan komunikasi”.

Sambung-sinambung, kebersambungan atau ketersambungan atau relasionalitas adalah landasan kenapa sesuatu atau seseorang atau suatu subyek berkomunikasi. Sekaligus kebersambungan adalah sesuatu yang dicapai oleh kegiatan komunikasi.

Dalam perjumpaan darat 4 jam di SMK itu anak-anak saya mengeksplorasi: Siapa dan apa saja yang berkomunikasi? Dengan siapa saja dan apa saja mengupayakan sambung sinambung? Kenapa bersilaturahmi? Apa landasan niatnya, apa nilai-nilai yang dimuatnya, dan apa goal tujuannya?

Konteks instan dalam pertemuan SMK itu pastilah bagaimana para penggiat dan semua Jamaah Maiyah di Kenduri Cinta berupaya tetap bersambung satu sama lain meskipun situasi wabah nasional dan dunia memaksa mereka harus membatasi kebersambungannya. Bagaimana tetap ada cara dan bentuk untuk tetap Maiyahan, tetap “Sinau Bareng”, atau di luar itu tapi tetap menjalin perhubungan satu sama lain.

Ketika sampai di cakrawala keluasannya dan puncak pandangan semestawinya, anak-anakku merumuskan: “Maiyah adalah proses belajar untuk mengetahui bahwa tidak ada apapun dan siapapun yang tidak berhubungan dengan apapun dan siapapun. Coba tiap pagi atau malam menjelang tidur, ambil buku harian dan menuliskan pointers misalnya hubungan antara gombal dengan langit ketujuh. Kebersambungan antara sendal jepit dengan Malaikat Jibril. Kemenyatuan antara jualan online dengan Allah Swt. Keterkaitan antara wabah virus dengan Qabil bin Adam atau Kan’an bin Nuh. Relasi antara Bung Karno dengan Kalakathung, SBY dengan Nyai Kuring, serta Jokowi dengan A’wan.

Perluaslah pandangan dari narasi Demokrasi yang hanya menyebut penduduk manusia dan tidak menemukan kaitannya dengan Banujan, Jin dan Dajjal. Bahkan juga tidak dengan hutan dan tanah, iman dan qudrah. Nyamuk, lalat, dan lebah-lebah tidak pernah dilibatkan dalam proses demokrasi. Sebagaimana banyak suku-suku tradisional dulu. Atau sebagaimana Rasulullah melibatkan onta untuk teknologi pertanian dan tata ruang. Wacana ilmu-ilmu modern yang tidak punya wacana tentang tha’un yang menyangkut kejiwaan manusia, mentalitas, sistem roh yang berakibat pada habitat intelektualnya. Di Maiyah manusia-manusia berkumpul dengan landasan nilai “Al-Mutahabbina fillah”. Manusia Maiyah bersaudara dengan binatang, tetumbuhan, tanah, bumi, alam, Jin dan Malaikat.

قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ
قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama apa saja yang Allah mengajarkannya kepadamu”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Silaturahmi adalah setiap perhubungan atau relasionalitas yang dijalani dengan sumber kasih sayang dan benih cinta, serta mempersyaratkan dirinya untuk bersama-sama mencapai “ar-rahmu” atau “ar-rahimu”. Kalau yang berlangsung dalam persambungan antara manusia dengan segala sesuatu itu bermuatan “ad-dhulm”, “dhalalah”, “karhun”, sebagaimana yang miliaran kali orang alami dan lakukan sekarang ini di dunia dan Indonesia, maka ia bukan Silaturahmi. Melainkan sihlatud-dhulmi, shilatud-dhalalah, shilatul-karhi, shilatu-bughdli, shilatul’ada`I, shilatul-fasad. Hubungan saling menggelapkan. Hubungan kesesatan dan penyesatan. Hubungan kebencian. Hubungan permusuhan. Hubungan perusakan.

Mungkin itu yang mendasari kenapa “pencak” harus “silat”. Kehebatan bermain silat, kecanggihan jurus-jurus dan kesaktian yang bermacam-macam sampai Lembu Sekilan, Bajra Geni, Lembu Sekilan, hingga Panglimunan, bukan untuk saling mengalahkan, mencederai dan memusnahkan. Melainkan untuk membangun dan meneguhkan silaturahmi, hubungan cinta dan kasih sayang antar manusia serta dengan makhluk apapun lainnya.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ
ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah dan tali dengan sesama manusia. Dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Tuturkan dan ceramahkan kepadaku habitat, spektrum, dan sistem pengetahuan dan ilmu-ilmu manusia modern, yang tidak berada dalam kategori yang Allah firmankan itu.

Lainnya