Kebon (188 dari 241)

Pemerintah Harus Manusia

Porong, Sidoarjo, 25 Juli 2007.
Foto: Adin (Dok. Progress).

Hukum itu jarum yang sangat tajam kepada suatu hal, tapi amat sangat tumpul kepada hal-hal yang lain. Hukum itu sangat peka kepada kesalahan, tetapi sangat buta dan bebal kepada kebenaran.

Anda membawa 100 nasi bungkus dari warung ke masjid untuk persiapan takjil dan buka puasa para jamaah. Di tengah jalan Anda mampir ke rumah untuk ninggali 3 bungkus untuk istri dan dua anak Anda. Anda diawasi oleh pengurus atau takmir masjid kemudian dilaporkan ke Pak RT dan Pak Lurah, berlanjut ke Polsek karena Anda mengkorupsi 3 bungkus nasi dari 100 bungkus hingga tinggal 97 bungkus untuk jamaah masjid.

Kemudian semua jamaah mendengar berita bahwa Anda mengkorupsi 3 bungkus nasi dari jatah 100 bungkus untuk jamaah.

Para pengurus masjid, Pak RT, Pak Lurah, dan Polisi lupa bahwa 100 bungkus nasi itu adalah shadaqah Anda untuk takjil sore itu. Uang untuk membeli 100 bungkus itu tidak dari keuangan masjid, tidak dari kas desa, tidak dari uang rakyat yang tersimpan di manapun. Melainkan dari kantong Anda sendiri.

Itulah nasib KiaiKanjeng, Markas Kadipiro, saya dan sejumlah komunitas di sekitarnya dalam sejumlah peristiwa dan perkara. Ada banyak tamu-tamu entah siapa sejak Kadipaten, Patangpuluhan, Kasihan hingga Kadipiro yang berposisi seperti itu. Datang minta tolong biaya anaknya operasi. Ternyata kemudian operasi belum tuntas sehingga harus dioperasi lagi, dan biayanya ditagihkan ke Kadipiro.

Gadis hamil butuh pertolongan, saya tampung dan biayai sampai melahirkan di Rumah Sakit. Sesudah anak lahir tidak mau pulang ke kaluarganya, malah mengisukan bahwa saya yang menghamili. Dan masyarakat percaya karena berpikir “apa sebabnya mau menolong kalau tidak karena memang menghamili”.

Kalau saya mengekspresikan suatu paket untuk “tahadduts binni’mah” tetapi bukan karya saya, bunyi semprit bertoet-toet dari segala arah. Tetapi kalau karya saya dicuri, wajah dan ucapan saya ditampil-tampilkan tanpa sepengetahuan dan seizin saya, tidak ada bunyi semprit, tidak ada pembelaan dan perlindungan kepada saya dari siapapun saja. Kalau saya dimalingi dan dijual-jual di pasar media, baik untuk mengeruk laba maupun untuk adu domba, tidak ada sistem hukum, tidak ada alogoritma sistem informasi dan komunikasi, tidak ada iktikad dari siapapun dan lembaga apapun untuk membela dan melindungi saya.

Demikian juga yang dialami oleh KiaiKanjeng dengan karya-karyanya. Demikian juga kalau dari Patangpuluhan kita diperjalankan oleh Allah menjadikan Indonesia menjadi Lautan Jilbab, kemudian dari Kelapa Gading dan Kadipiro KiaiKanjeng diperjalankan oleh Allah untuk membangun harga diri dan popularitas Shalawat dan Tembang, hanya para Malaikat yang mencatatnya. Sementara manusia mendurhakai dan mengkhianatinya.

Kalau engkau melakukan 1000 kebenaran, perjuangan, dan jasa 1000 kali, sampai pun engkau membimbing seorang Presiden yang dianggap dholim untuk lengser dari kursinya, jangan menunggu manusia 1X saja pun mengapresiasinya. Tapi kalau engkau melakukan kesalahan 1X, bersiaplah manusia dengan sistem-sistemnya menghardikmu, mengundat-undatmu, mempersalahkan bahkan memperhinakanmu 1000X minimal selama 1000 hari. Manusia sangat peka, jeli dan tajam terhadap kesalahanmu. Tetapi mereka picek, dubleg, mbegugug nguthowaton, buta tuli terhadap kebenaran apapun yang kau darmabaktikan.

Sahabat saya diumumkan bahwa ia punya hutang 1 triliun lebih ke pemerintah. Sahabat saya itu mensedekahkan 11 triliun untuk membangun rumah belasan ribu penduduk yang kehilangan rumah karena bencana. Seharusnya kondisi penduduk itu merupakan tanggung jawab pemerintahnya, karena pengadilan nasional maupun internasional menyatakan bahwa yang terjadi adalah bencana alam.

Tetapi atas dasar akhlaq Ibunya, sahabat saya itu rela mengeluarkan triliunan rupiah untuk menolong belasan ribu penduduk itu. Hanya saja uangnya tidak cukup, sehingga ia berhutang kepada pemerintah 1 triliun, sementara ia sudah mensedekahkan 11 triliun. Pemerintah menagih sahabat saya itu seolah-olah ia berhutang kepada pemerintah. Pemerintah tidak melihat fakta bahwa ia ditolong oleh sahabat saya itu mendirikan belasan ribu rumah, yang seharusnya merupakan tanggung jawab Pemerintah. Pemerintah dike`i ati, ngrogoh nyowo, tidak hanya rempelo.

Memang secara teknis hukum ekonomi Pemerintah menghutanginya 1 triliun rupiah. Tetapi secara akhlaq dan hati nurani sejatinya Pemerintah yang berkutang kepadanya 11 triliun. Tetapi sahabat saya tidak menganggap itu hutang Pemerintah, karena yang ia lakukan adalah shadaqah yang merupakan aplikasi akhlaqul karimah dan rahmatan lil’alamin atas perintah Ibunya. Maka sahabat saya itu tidak pernah berpikir untuk menganggap itu hutang Pemerintah sehingga kemudian juga tidak pernah menagihnya. Malah ia yang ditagih.

Itulah sebabnya kenapa Pemerintah sebuah Negara kalau bisa harus manusia. Jangan sampai setan durhaka yang menjadi pemimpin rakyat. Kenapa harus manusia, karena hanya manusia yang mengerti moral dan punya hati nurani. Di Maiyah para jamaah terbiasa mewacanakan bahwa hukum itu tajam terhadap kesalahan, tapi kethul dan picek terhadap kebenaran. Hukum itu tataran terendah. Di atas hukum ada akhlaq. Di atas akhlaq ada taqwa. Siapa saja yang manusia, bisa mengenal dan memahami stratifikasi nilai itu.

Untung sahabat saya itu bukan manusia asli bumi, melainkan seorang pelancong dari planet lain. Ketika dulu ia difetakompli untuk membayar itu semua sambil namanya dijelek-jelekkan oleh Pemerintah, kaum aktivis dan hampir semua media, saya menemaninya. Semua stafnya menangis karena mereka sebenarnya memang tidak bersalah, tidak divonis oleh hukum dan tidak berkewajiban untuk membayar apapun.

Tetapi sahabat saya itu, atas fatwa Ibunya, memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk melaksanakan pembayaran. Dan sejak tahap awal, langsung mensupplynya biaya untuk pembayaran yang bukan kewajibannya itu. Sahabat saya itu merupakan contoh konkret dan berukuran raksasa dari firman Allah yang menjamin bahwa kalau hamba-Nya membayar kepada-Nya dengan taqwa, maka Allah memberinya jalan keluar dari masalahnya dan memberikan rezeki dari jalan yang tak terduga dan tak bisa dihitung oleh akuntansi perekonomian manusia.

Tetapi kemuliaan hati sahabat saya tidak lantas membuat hati manusia menjadi berubah. Jangankan bersyukur kepada Allah, berterima kasih saja pun tidak kepadanya. Bersikap sedikit rendah hati saja pun tidak. Penguasa tetap penguasa, tetap semena-mena perilakunya, tetap adigang adigung adiguna, tetap dholuman jahula, karena mereka cacat sebagai manusia, atau ternyata memang bukan manusia sejatinya. Sebab tidak demikian Allah menciptakan dan mengkonsep makhluk-Nya yang bernama manusia.

وَإِن يُرِيدُوا أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيم

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah menjadi pelindungmu. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”.

Di tempat sahabat saya bershadaqah itu, yang saya diposisikan untuk menjadi katalisator penyelesaian masalahnya, saya bersumpah bahwa kalau kasus ini diperlakukan oleh manusia, rakyat, aktivis, pemerintah dan siapapun tidak dengan kejujuran dan rasa syukur, maka itu akan menjadi trigger dari ketidakselamatan seluruh Indonesia dan bangsanya. Mereka akan ditimpa adzab demi adzab yang mereka tidak akan sanggup mengatasinya. Bahkan juga mungkin tidak akan tahan menanggung bebannya.

Lainnya