Peluncuran Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan

Malang, 7 Juli 2021. Peluncuran Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padangmbulan ini bertepatan dengan milad Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad) ke-74 tahun. Tempat penyelenggaranya pun di halaman depan kediaman beliau. Sebanyak 30 tamu undangan hadir dan kegiatan mengikuti protokol kesehatan. Acara peluncuran juga ditayangkan secara live streaming di kanal YouTube CakNun.com.

“Mushaf ini tidak bisa lepas dari sejarah panjang pengajian Padhangmbulan sejak 1992. Sudah berpuluh tahun kita mengadakan pengajian dengan pasang-surut hadirin. Namun, kita tetap konsisten mengadakan pengajian tafsir Al-Qur’an. Lalu baru tahun 2000-an muncul Maiyah. Tidak kami rencanakan tapi merupakan hidayah dari Allah. Dari awalnya tafsir lalu lebih menekankan tadabbur,” ucap Cak Fuad memberikan sambutan.

Marja Maiyah ini menuturkan tanpa pertolongan Allah mushaf yang hendak diluncurkan tersebut mustahil rampung serta terhadirkan kepada khalayak luas. “Awalnya deal dengan Gramedia. Sudah sepakat harga dan waktu. Tapi karena satu dan lain hal terpaksa tak bisa diteruskan. Mushaf Padhangmbulan ini akhirnya dicetak di Klaten. Percetakannya sudah sering menggarap Mushaf maupun kitab-kitab lain. Kualitasnya tidak diragukan,” ujarnya.

Beliau bercerita kalau proses penggarapan sampai penyetakan dibantu segenap pihak. Karya ini merupakan kerja kolektif banyak orang. Baik teknis maupun nonteknis, tanpa bantuan mereka, Cak Fuad menilai hasil akhir tak akan maksimal. Pertama dan terutama beliau berterima kasih kepada urun tenaga dan pikiran Satuan Tugas Pelaksana Penerbitan.

Tempat cetaknya pun dinilai jempolan. Cak Fuad yang berpuluh tahun melalangbuana di dunia penerbitan maupun percetakan merasa mustahil kalau karya itu mampu dikerjakan dalam waktu singkat. Belum lagi proses produsi buku yang membutuhkan keakurasian lantaran memakai bahan kertas unggulan dan direkatkan menggunakan benang. Semata-mata agar kualitas akhir bisa bertahan puluhan, bahkan ratusan tahun.

Disampaikan Cak Fuad, Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah itu sudah mendapatkan tashih (pengesahan) dari Kementerian Agama. Sebelum diberikan “stempel resmi” kedua belah pihak menegosiasikan gaya selingkung. Urusan bentuk penulisan huruf ataupun kata mesti disamakan dengan karya serupa lainnya. Langkah ini bagian dari standardisasi bahasa.

“Yang paling penting semoga Musshaf ini bisa bermanfaat bagi siapa pun. Agar Al-Qur’an menjadi bagian akrab dari kita semua. Seorang mukmin yang berakrab dengan Al-Qur’an, apalagi mengisi hatinya dengan Al-Qur’an, maka dirinya akan menjadi orang yang mulia,” harap anak sulung pasangan Ayah Muhammad dan Bunda Halimah itu.

Pada kesempatan peluncuran itu Cak Nun tak luput menjelaskan kedudukan tadabbur dan tafsir. Ibarat organ tubuh, tadabbur merupakan wilayah hati, sedangkan tafsir domain otak. Analogi ini menggambarkan sekaligus memperkuat betapa tadabbur bertujuan untuk mengakrabi Al-Qur’an serapat-rapatnya.

Cak Nun memandang hal ini penting di tengah kebanyakan orang yang kerap berjarak terhadap kitab suci itu. Mereka merasa Al-Qur’an merupakan sesuatu yang elitis dan eksklusif, sehingga terdapat anggapan ia milik penafsir atau ulama tertentu. Padahal, Kanjeng Nabi mengajarkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang siapa pun dapat memetik hikmah ataupun nilai di baliknya.

Siapa pun orang itu, apa pun latar belakang profesinya, kalau memakai tadabbur maka dirinya bisa klop dengan kandungan Al-Qur’an, kendati kecakapan bahasa Arabnya kurang memadai.

“Pasti ada spesifikasi. Ada kandungan-kandungan tertentu yang kita sendiri bisa bertanya mengapa demikian. Misalnya, kenapa pakai Iqra, bukan Isma’. Kalau tafsir itu kegiatan intelektual dan menyempit jadi teknis akademis. Kalau tadabbur subjeknya hati. Jadi, negasi dari tadabbur adalah hati yang tertutup. Kalau teknis ya tafsir pakai otak dan tadabbur ya hati,” ungkap Cak Nun.

Poin penting yang Cak Nun sampaikan pagi ini adalah pentingnya kegiatan bertadabbur agar setiap orang berdekatan dengan Al-Qur’an. “Tadabbur itu apa yang keluar dari hidupmu. Misal hanya dengar atau senang Al-Qur’an yang penting akidahmu mantep, perilaku baik, itu sudah memadai. Tujuan kita menerbitkan mushaf ini agar setiap orang lebih dekat dengan Al-Qur’an. Kekancan dengan Qur’an,” pungkasnya.

Lainnya