Pelemasan Hati yang Kaku

Foto: Adin (Dok. Progress)

Terkadang Allah memercikkan ilmu-Nya melalui hal yang kita alami. Entah itu pengalaman yang menyenangkan ataupun mengenaskan. Dan setelah pengalaman itu membentur sangat, barulah kita ngeh, bahwa “Oooo…ini barangkali maksud Tuhan memberiku pengalaman sedemikian rupa.”

Seperti yang saya rasakan beberapa hari ini. Gara-gara badan lemas terjangkiti darah rendah, saya merasa Allah memercikkan inspirasi ilmu-Nya pada saya untuk ditulis.

Sebenarnya hal biasa, kalau kita sedang puasa, badan kita akan terasa lemas. Namun tak sama kali ini. Mungkin karena badan sedang dijangkiti darah rendah dan umur yang tak muda, maka lemasnya berbeda dari tahun-tahun lalu. Dalam artian saya benar-benar hanya mampu rebahan seharian. Tidak mampu melakukan aktivitas apapun karena memang tak sanggup dan juga takut ambruk.

Dapur saya lockdown. Sehingga saya tidak akan menghidangkan apapun. Dengan kondisi saya yang lemes dempes tak berdaya seperti itu, saya harus terima dengan menu buka puasa apapun. Entah siapa yang menyediakannya, bentuknya, rasanya dan jumlahnya, saya tidak boleh komplain. Saya harus manut dengan yang memberi menu berbuka puasa, entah itu sesuai atau tak sesuai selera saya.

***

Adalah almarhum Kiai Zairosi dari Lamongan. Beliau pernah menjelaskan dalam salah satu ceramahnya. Kata beliau, di alam kubur nanti, apabila ada jenazah yang baru meninggal dan saat ditanya malaikat tidak mau menjawab, bahkan justru marah-marah atau ngamuk karena tidak bisa menjawab atau tidak paham maksud pertanyaan Malaikat, maka malaikat akan menggebugnya berkali-kali. Dan lagi dan lagi.

Beliau dengan nada satir yang landai dan tenang menjelaskan, “Itu tidak menyiksaaaaaa buuu, jangan salah sangka, itu hanya melemaskan saja…”. Sontak jama’ah tertawa. Seluruh jamaah merasa terkecoh dengan penjelasan pak Kiai tersebut. Bisa-bisanya malaikat berkompromi dengan sebercanda itu. Batin saya gemas.

Lantas beliau menjelaskan lebih lanjut, kalau jenazah sudah lemas maka jenazah akan manut, nurut, sehingga bisa ditanya dengan baik-baik dan mau menjawab juga dengan baik-baik. Tanpa marah-marah, tanpa protes.

Saya jadi teringat bahwa Mbah Nun sering dawuh bahwa orang puasa itu ibarat proses ketela yang difermentasi menjadi tape. Ketela yang semula keras, setelah terkena proses fermentasi beberapa hari, akan menjadi tape yang empuk dan manis rasanya. Dikandung arti bahwa salah satu buah amal dari puasa adalah hati yang lemes. Hati yang empuk. Hati yang lunak, hati yang tidak keras. Hati yang penuh kelembutan. Dimana hati yang lembut tidak akan berontak kepada Allah.

Persis dengan adegan malaikat yang melemaskan sang jenazah baru tersebut. Tak ada hal lain kecuali manut, nurut, dan pasrah. Jika malaikat memfermentasi sang jenazah newbie dengan gebugan, dalam ibadah puasa Allah memfermentasi hati, jiwa sekaligus raga sang pelaku puasa dengan mengolahnya dalam serangkaian laku bentuk ‘menahan’ dalam menghadapi gejolak keinginan dari dalam diri pelaku puasa.

Saat hati kita keras maka apapun yang mengenainya akan memberi respons keras. Apa-apa yang keras biasanya akan sangat susah dicerna. Hati yang keras akan susah mencerna hal apapun dengan tenang. Entah itu hal baik atau sebaliknya. Maka saat hal-hal tersebut mengenai hati yang keras, bisa jadi akan memberi respons terpelanting keluar. Bisa dalam bentuk ego yang kaku atau emosi meletup-letup tak terkendali atau bahkan hancurnya bangunan batin yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang-orang yang disekitarnya.

Hati yang lemes, lembut, empuk itu ibaratnya bagaikan pemilik hati yang tak berdaya selepas tempaan demi tempaan. Bagai hati milik orang-orang yang hancur luluh lantak tak berdaya karena semua pertolongan dari makhluk sudah tertutup. Bagai hati milik orang yang airmata, darah dan luka akrab menahun di sekujur sejarah hidupnya. Dan patah hati adalah rentetan cerita yang melulu di hatinya. Sehingga tak ada tenaga tersisa dalam hidupnya untuk bangkit terkecuali hanya rubuh tunduk di tanah dan menyembah berharap hanya kepada-Nya.

Dan demikianlah Ramadhan mentraining kita. Yaitu laku semacam gebugan untuk menahan diri dalam skala radius keseluruhan dalam diri, di mana hasilnya tak hanya secara fisik kita dipaksa lemas, lembek atau empuk, namun secara batin juga. Sehingga, empuk dan lembut luar dalam. Dan menjadikan semua inti dari jiwa raga kita manut kepada Allah.

Lantas sebelas bulan selepas Ramadhan, maka akan siaplah ditempa kembali dengan segala bentuk benturan. Karena kelembutan dari dalam diri akan memantulkan ketenangan dan keridhoan kepada Sang Pemberi Tempaan. Dan tak perlu hati kita harus digebug-gebug dulu supaya lemas. Namun sudah nurut dengan sendirinya.

Dan hal ini menjadikan hati tersebut hanya mampu condong pada Allah semata. Menjadikan Allah satu-satunya tempat berharap. Tergantung. Manut dan nurut. Karena hati yang empuk adalah hati yang adalah dunia terusir dan pontang-panting di dalamnya. Hati yang ridho kepada Allah. Hati yang pasrah menerima apapun ketetapan dan perintah Allah. Hati tak berdaya pada dunia dan isinya yang justru melahirkan keberdayaan dalam menemukan Allah dalam hati. Dalam diri. Dalam hidupnya.

Sekian dan demikian. 

Lainnya