Pak Siswa Santoso, Gurunya Mafaza Eropa

Dok. Pribadi

Tulisan ini adalah bentuk rasa terima kasih serta ungkapan cinta saya kepada Pak Siswa Santoso, salah satu sesepuh Mafaza Eropa yang selalu menemani perjalanan teman-teman Simpul Maiyah Eropa. Boleh dibilang, Pak Sis juga pernah menemani dan menjadi sahabat sejati Mbah Nun ketika beliau melanglang buana di Negeri Eropa pada era 80-an.

Seperti Mbah Nun yang angon anak putu di Nusantara, Pak Sis — begitu saya memanggil beliau, juga menjadi “penggembala” anak cucu Maiyah khususnya di lingkar Mafaza Eropa. Beliau hampir selalu hadir pada kesempatan sinau bareng Mafaza Eropa, dengan legowo memanifestasikan waktu untuk kami di sela-sela kesibukannya. Pak Sis adalah sumur ilmu bagi anak-anak Maiyah yang merantau di Eropa, khususnya Belanda. Setiap kali ada teman-teman Indonesia baik student maupun orang umum yang datang ke sini, Pak Sis selalu menjadi jujugan sowan kulonuwun untuk sekadar bersilaturrahmi maupun mencari bahan rujukan untuk kepentingan Thesis mereka.

Pintu rumah Pak Sis dan Mbak Eva, istrinya, di Kota Ijmuden selalu terbuka, dan pasti selalu ada menu masakan Indonesia yang menggoda selera. Semua diperlakukan sama layaknya anak cucunya sendiri, Pak Sis juga selalu bersemangat meladeni pertanyaan dari anak-putu, bahkan sangat bergembira ketika melihat ada anak-anak Indonesia yang sangat peduli atas identitas Bangsanya. Asam garam kehidupan antara dunia barat dan timur menjadi Mutiara yang terpendam pada diri Pak Sis.

Sering kali kami didongengi tentang semangat para pendahulu, sepak terjang orang-orang Indonesia baik ketika masih di Indonesia maupun setelah bermukim di Belanda. Apalagi kalau topiknya tentang bagaimana dulu kisah pengembaraan Mbah Nun di Belanda selama beberapa tahun, membuat kami semakin kagum pada beliau berdua. Semangatnya untuk menjadi orang baik tidak pernah luntur, mendidik kami bukan secara text book tapi lebih kepada sikap, pemahaman pikiran yang sejati, kesetiakawanan, kewibawaan dan sifat ksatria hingga tentang kesejatian itu sendiri. Kadang beliau memamerkan koleksi foto-foto masa muda beliau bersama Mbah Nun yang terlihat ganteng dan necis, sampai saya sendiri sangsi bahwa itu foto Mbah Nun, karena gaya berpakaiannya ternyata lebih stylish dengan rambut sedikit gondrong dibanding gaya berpakaian anak-anak Maiyah jaman now!

Kalau Mbah Nun sering bercerita bahwa beliau tidak cakap berbahasa asing, saya juga menyangsikan hal itu. Bagaimana mungkin tidak cakap berbahasa Inggris kalau orang-orang yang ditemui Mbah Nun ketika itu sudah selevel rektor kampus ke atas. Ya.. tapi itulah mungkin cara Mbah Nun juga Pak Sis yang selalu menanamkan sikap andap asor tentang keilmuannya, dan seharusnya kita sebagai anak cucu juga termotivasi untuk setidaknya menguasai beberapa Bahasa Asing tanpa perlu pamer kemampuan.

Kembali tentang Pak Sis, di mata saya beliau adalah sumber ilmu bermacam hal. Ingatan beliau sangat tajam, koleksi buku-bukunya sangat beragam, pengalaman hidupnya juga sudah jangkep. Pak Sis benar-benar menemani anak-anak Maiyah di sini, mengolah ilmu, rasa dan karsa secara tulus dan penuh kasih sayang meski kadang juga mendapat perlakuan yang sama seperti Mbah Nun, ada yang menghormati beliau tapi juga ada yang menginjak-injak kepala beliau. Tapi Pak Sis selalu menjadi air yang membersihkan, menyejukkan, serta menyegarkan. Saya bersyukur bisa belajar banyak dari beliau tentang bagaimana berorganisasi, berdinamika, dan tentunya tentang bagaimana hidup di Belanda.

Tidak banyak yang tahu betapa Pak Sis sangat peduli pada pertumbuhan Mafaza Eropa, baik melalui sumbangan ide pemikiran, sharing keilmuan, hingga hal-hal teknis dan praktis menyangkut organisasi juga peran Mafaza Eropa itu sendiri terhadap lingkar terkecil hingga lingkar Nusantara secara konkret. Memang tidak mudah untuk “menggembala” banyak kepala yang sudah terkontaminasi pemikiran Pendidikan modern ala barat agar tetap mau duduk bersama melingkar, saling legawa, saling tepa seliro, saling terbuka, saling menyadari bahwa  meski kita telah jauh merantau, lebih mumpuni ilmunya, lebih tinggi pangkatnya, kita tetaplah anak-anak Nusantara yang beradab dan berbudaya. Perbedaan dunia yang ada dalam lingkaran kecil itu, seharusnya menjadikan kita tetap mawas diri, tetap eling lan waspada, bahwa tujuan yang paling utama adalah untuk pulang kembali ke Pangkuan Tuhan. Harapannya anak-cucu Maiyah menjadi lebih paham apa yang harus dilakukan bukan saja semata-mata untuk mencapai kepentingan dunia.

Pak Sis .. nyuwun pangapunten ingkang kathah, kami anak putu panjenengan masih sering berulah karena kami merasa lebih pintar dari para pinesepuh. Boleh jadi kami memang lebih pintar, tapi kami masih belum menjadi manusia bijaksana, belum menjadi manusia sejati. Saya menghaturkan doa semoga Pak Sis dan keluarga pinaringan kebagasan, seger waras agar bisa terus menemani kami sinau urip menjadi urip urup. Semoga apa yang sering kami ucapkan Ik hou van u tidak hanya di lidah saja, tapi benar-benar mencintai dengan penghormatan layaknya anak cucu kepada ayah dan opa-nya, seperti kami mencintai Mbah Nun dan keluarga Maiyah di manapun berada.

Ah Pak Sis ..! U bent erg aardig en U bent geliefd! Echt well

-Almere menjelang tengah malam-
29 November 2021