Kebon (146 dari 241)

Orang Zaman Dulu Memang Anu

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Jumlah penghuni rumah Ibu Ayah di Menturo pernah mencapai 36 orang. Padahal anaknya cuma 15-2. Lainnya anak-anak yatim, atau siapa saja yang memang tepat untuk ditampung oleh Ayah saya, disantuni, disekolahkan, sampai dikawinkan. Ada yang import dari Yogya Guru-guru Sekolah, yang dibikinkan kamar-kamar sendiri termasuk kamar mandi dan WC-nya.

Salah satunya bernama Cak Sul, atau Sulaiman, kelak kawin dan punya anak-anak yang namanya diambilkan persis seperti nama adik-adik saya: Adil Amrullah, Yusron Aminullah, dan Nadhroh Sariroh. Bedanya kalau di keluarga kami Adil adalah kakaknya Yus dan Roh, di keluarga Cak Sul yang tertua adalah Roh, punya adik Adil dan Yus.

Tapi di antara 36 penduduk rumah itu yang paling legendaris adalah Marsim. Suatu siang Ayah bilang, “Sim, ambilkan Anu”. Marsim tidak segera mengerjakan karena perintahnya tidak jelas. Ketika Marsim konfirmasi Ayah mau diambilkan apa, Ayah membentak, “Dibilang Tang Tang kok dubleg kamu!”. Padahal tadi perintahnya Anu.

Ayahnya Ayah, yakni Mbah Dul Sumobito, atau KH Abdul Lathif, memanggil Ayah dan dawuh, “Mad, kasih tahu Luthfi itu jangan bersikap Anu. Kalau Anu itu mbok ya yang Anu….”

Luthfi adalah anak bungsu Mbah Dul. Ayah saya anak sulung. Ayah menjawab, “Ya Abah, nanti Luthfi saya Anunya”.

Beberapa hari kemudian Ayah datang lagi ke rumah Mbah Dul dan ditagih, “Bagaimana? Apa Luthfi sudah kamu Anu?”. Ayah menjawab, “Sudah Bah: Luth, kapan Anu itu kamu yang Anu. Jangan sampai Anu”.

Mbah Dul merespons dengan lega, “O ya sudah alhamdulillah kalau Luthfi sudah kamu Anu…”

Mungkin kelak di akhirat semua baru tahu apa yang dimaksud Anu dalam dialog Mbah Dul dan Ayah. Termasuk Ayah sendiri mungkin juga baru di sorga kelak baru tahu maksudnya Mbah Dul.

Orang zaman dulu memang lebih Anu. Orang-orang tua di keluarga kami sangat banyak bicara konotasi, yang denotasinya tidak jelas, sehingga Marsim dibentak keras oleh Ayah. Tetapi dalam kasus Luthfi antara Ayah dengan Mbah Dul, persoalannya benar-benar beres. Mbah Dul luar biasa keras kepada anak-anaknya. Kalau menyapu kurang bersih, dihukum disuruh membaca luar kepala Surat Al-Baqarah. Kalau melakukan kesalahan lebih besar, bisa disuruh melantunkan seluruh Al-Qur`an. Kalau sampai melanggar akhlaq, moral apalagi aqidah, bisa diusir dari rumah dan tidak diakui sebagai anak Mbah Dul lagi.

Ayah setengahnya meneruskan pendidikan keras ini. Di antara kami pernah nilap uang iuran kelas di Sekolah, dihajar habis oleh Ayah sampai sabuk kulit tebalnya putus-putus. Kemudian “dipenjara” di gudang padi belakang rumah. Ibu tidak tega dan saya selalu disuruh mengantarkan makanan atau minuman ke narapidana di gudang. Adik saya Yusron bangun Subuh tapi tidak kelihatan ikut jamaah shalat. Ternyata jongkok tertidur di kamar mandi. Ayah masuk, Yus diangkat, kepala dan badannya diancup-ancup ke dalam air kamar mandi.

Hanya saya saja yang “selamat” dari perlakuan yang sekarang disebut kekerasan, KDRT, dan melanggar HAM. Jangankan saya diancup-ancup, jangankan sampai dibentak-bentak. Saya ditegur baik-baik saja langsung minggat, atau diam-diam mengunci semua pintu dan ombyokan kuncinya saya bawa pergi nonton Ludruk. Atau pernah rumah saya bakar meskipun segera diselamatkan keadaannya oleh Ayah dan semuanya.

Yang saya alami orang dulu banyak komunikasi konotatif tetapi tetap menghasilkan pemahaman dan harmoni denotatif. Sementara di zaman sekarang manusia sok denotatif tapi outputnya sangat dipenuhi konotasi. Pancasila denotasinya, tapi praktiknya konotatif ke mana-mana. Negara itu sendiri sangat denotatif sebagai institusi, tetapi bocor konotatif ke mana-mana. Tuhan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, pemusyawatan dan perwakilan, apalagi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia belepotan konotasi. Dan justru kecanggihan manusia zaman sekarang adalah memanipulasi konotasi-konotasi tapi diaku atau dinisbahkan sebagai denotasi.

Anda mengobrol di gardu ronda atau di Musholla selepas shalat Maghrib. Atau bertamu, ketemu teman di Cafe. Atau jenis dan ruang waktu perjumpaan apa saja. Sangat mudah disebarkan konotasi-konotasinya, karangan-karangannya, rekayasa-rekayasanya. Yang dikonotasikan bukan hanya kata, tapi juga konteks, ruang waktu, nuansa dan makna.

Ternyata yang melakukan adalah justru teman ngobrol Anda sendiri. Atau orang yang selama ini Anda santuni hidupnya. Hubungan persahabatan denotatif mereka jadikan sangat konotatif dan liar. Berupa Audio atau video yang dengan mudah disebar bahkan pun sambil jongkok buang air besar. Dalam waktu satu dua menit sudah tersebar ke seluruh jagat raya. Dibaca, ditonton, dan dinikmati oleh pengguna internet dan medsos yang berpikir dan menyangka itu adalah denotasi. Lebih parah lagi denotasi yang sebenarnya adalah hasil rekayasa konotatif itu diterima sebagai kebenaran mutlak.

وَلَا تَشۡتَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ

Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.

Ayat ini tidak laku dalam habitat Medsos dan karakter para penggunanya. Bahkan seluruh Al-Qur`an pun sama sekali bukan wacana, apalagi utama.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَشۡتَرُونَ بِهِ
ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ مَا يَأۡكُلُونَ فِي بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ
وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Siapa di antara orang-orang modern terutama para ilmuwannya yang percaya bahwa pekerjaan seperti itu adalah “tidak memakan tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api”?

Sambil jongkok buang air besar di WC setiap orang bisa upload, share, broadcast rekayasa-rekayasa konotatif dari bahan yang dicuri, dan itu bisa langsung menggemparkan dunia. Atau menghancurkan reputasi seseorang atau suatu kelompok. Atau membunuh karakter siapapun saja yang menjadi sasaran. Dan itu bisa jadi bukan karena Anda adalah manusia yang kejam. Melainkan sekadar karena Anda justru rajin mencari nafkah untuk penghidupan anak istri Anda. Meskipun dengan menjadi angggota thariqatAkilun Nar” dan “Jam’iyatus Sariqin”.

Siapa bisa menjamin bahwa kaum terpelajar yang memimpin bangsa ini memiliki kesehatan berpikir, kesehatan mental, psikologis dan rohani. Di bagian mana dari mentalitas Indonesia yang ada ruang untuk menerima kebenaran. Kita adalah komunitas manusia yang tersesat di benang kusut hutan rimba diskomunikasi dan disinformasi. Tanah Air Indonesia masa kini adalah hamparan tanah tandus yang tanaman kebenaran, kebaikan, keindahan, keseimbangan, kematangan, tidak bisa tumbuh padanya.

Semua ilmu dan hasil-hasil penelitian tidak berguna. Firman dan ayat-ayat Allah disimpulkan di atas sadar atau di bawah sadar sebagai tidak relevan dan tidak kompatibel. Allah sendiri baru berperan kalau Ia berkenan menghadirkan minimal lima bencana alam yang besar-besar dan dahsyat. Kalau rakyat Indonesia tetap bertahan hidup di alam konotasi, mereka akan terseret dan terapung-apung dalam tiadanya kejelian nilai dan makna, lenyapnya kecerdasan ilmu dan budaya, musnahnya ketepatan pandangan dan keterbimbingan rohani. Sehingga mustahil mereka punya kematangan dalam menentukan kepemimpinan nasional.

Kehidupan bernegara dan berbangsa kita semakin dipenuhi oleh limbah zaman. Oleh tinja Sejarah. Bahkan bukan hanya tinjanya dan limbahnya. Melainkan wujud keseluruhan kita semua ini bisa jadi adalah tinja dan limbah itu sendiri.

Apalagi dulu Indonesia lahir tidak membawa dirinya. Dari landasan aspirasi dan ilmunya, Indonesia lahir tidak lagi sebagai dirinya. Bentuk Negara NKRI bukan menggali dari sejarahnya. Prinsip politik dan kenegaraannya “ngebon” dari penjajahnya. Bahkan tata hukumnya “copy-paste” dari kolonial yang “ngempongi” sejarahnya selama berabad-abad.

Indonesia tidak cukup matang mempersiapkan kemerdekaannya. Tidak dengan kelengkapan pengetahuan dan ilmu. Tidak memiliki landasan kawruh langit bumi untuk menentukan eksistensinya. Sehingga sampai hari ini pada substansinya Indonesia belum pernah benar-benar merdeka. Indonesia hidup sebagai pelengkap penderita dari dinamika internasional. Indonesia masih menjadi objek dari penguasa-penguasa dunia. Indonesia tidak mencari karakternya sendiri. Indonesia menjadi ekor, buntut, dan membebek fenomena-fenomena dari luar dirinya.

Kita sekarang menjadi bangsa yang tidak percaya diri, tidak benar-benar berdaulat. Tidak punya karakter kebangsaannya sendiri sehingga tidak pernah memperjelas bangunan dan substansi konsep nasionalismenya. Kita bahkan sering berperilaku yang mencerminkan betapa kita tidak benar-benar tahu siapa diri kita di tengah ragam bangsa-bangsa dunia. Sehingga kita tidak punya determinasi sejarah, bahkan tidak mengerti apa-apa yang mestinya bisa dibanggakan dan apa-apa yang semestinya membuat kita merasa malu kepada bangsa lain.

Denotasi Nusantara dan keIndonesiaan dikonotasikan sendiri terus-menerus oleh persaingan kekuasaan dan tradisi kekonyolan serta kenikmatan dalam kehinaan.

Saya pensyukur dan penikmat teknologi tinggi. Saya mendayagunakan internet. Tetapi saya tidak masuk medsos. Saya tidak punya akun atau “pos jaga” di Twitter, Facebook, Instagram atau apapun saja. Saya “takjub” banyak sekali ada wajah dan ucapan saya di Youtube. Dan itu tak ada hentinya. Terus-menerus.

يَشۡتَرُونَ ٱلضَّلَٰلَةَ وَيُرِيدُونَ أَن تَضِلُّواْ ٱلسَّبِيلَ

Mereka membeli dan memilih kesesatan ditukarkan dengan petunjuk.

Sejak awal hidung rohani saya sudah merasakan bau busuk dan kehancuran. Tidak perlu sekuintal tahu untuk membikin busuk seluruh rumah. Cukup beberapa ons. Dan saya tidak mau menganiaya diri saya sendiri dengan menambah jumlah “beol” ke rumah Indonesia dan dunia. Saya puasa medsos, meskipun sampai hari ini belum ada yang menggali makna dan hikmat dari puasa saya itu.

مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَثَلِ رِيحٖ فِيهَا صِرٌّ
أَصَابَتۡ حَرۡثَ قَوۡمٖ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فَأَهۡلَكَتۡهُۚ
وَمَا ظَلَمَهُمُ ٱللَّهُ وَلَٰكِنۡ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ

Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidaklah menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

قَالَ عَمَّا قَلِيلٖ لَّيُصۡبِحُنَّ نَٰدِمِينَ

Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal”.

إِذَا وَقَعَتِ ٱلۡوَاقِعَةُ
لَيۡسَ لِوَقۡعَتِهَا كَاذِبَة
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ

Allahumma kun kun kun fatsumma yakun. Saya haqqulyaqin, ‘ilmulyaqin dan ‘ainulyaqin bahwa manusia tidaklah pernah benar-benar berkuasa. Situasi dunia dan kehidupan manusia tidak lantas pasti akan begini-begini terus. Akan ada dan terjadi sesuatu yang manusia akan kaget. Akan ada momentum kejutan. Karena bukan “wa ilannasi turja’ul umur”. Melainkan “wa ilallahi turja’ul umur”.

Jadi, saya bertekad seperti sumpah Kanjeng Nabi:

وَاللَّهِ يَا عَمِّ ، لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي ، وَالْقَمَرَ فِي شِمَالِي ،
عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ

Meskipun mereka taruh matahari di tanganku, dan rembulan di tanganku, wallahi saya memilih Anu saja.

Lainnya