Kebon (41)

Omong Kosong Pluralisme dan Transparansi

Foto: Adin (Dok. Progress).

Komunitas Dipowinatan, Dinasti hingga KiaiKanjeng, selama puluhan tahun menyumbangkan kepada saya kegembiraan hidup, kemeriahan dan kasyikan, gumyak dan sumringah. Barada di tengah latihan teater atau musik bersama mereka saja begitu banyak hal-hal yang membuat hati berbinar-binar dan mulut tersenyum hingga tertawa terpingkal-pingkal atau terbahak-bahak.

Begitu ragam karakternya, begitu aneh-aneh dan tak terduga kecenderungan mereka, begitu banyak mengejutkan kepolosan liar mereka. Allah benar-benar menciptakan keberagaman makhluk untuk menyempurnakan konstruksi keindahan ciptaannya, sementara manusia dengan nafsu dan politiknya menciptakan pecahan-pecahan lebih terkeping-keping lagi untuk destruksi sejarah dan kemanusiaan. Medan pergaulan kesenian yang lebih luas dari komunitas yang saya sebut itu pun dirusaknya, dibikin pecah belah, dikelompok-kelompokkan, dikubu-kubukan, difakultas-fakultaskan, dijurusan-jurusankan, dialiran-alirankan. Kalau pakai idiom Islam, di-sunni-syi’ahkan, dimadzhab-madzhabkan, disempalan-sempalankan.

Melihat wajah Nevi ketika menabuh Saron saja rasanya terpenuhi level pertama dari kebahagiaan hidup. Apalagi sambil main musik mulutnya kecap-kecap makanan, dan kadang ikut bernyanyi sebelum menghabiskan makanannya. Belum lagi semakin tenggelam dalam latihan, pecinya menjadi miring, bajunya dilepas, akhirnya juga kaosnya yang kemudian dikalungkan di lehernya — seakan-akan tubuhnya gagah gempal indah seperti Ade Rai. Itu semua adalah “mawa bea” dari “jer basuki” proses kreatifnya. Hampir semua melodi saron intro atau interlude atau koda musik Dinasti dan KiaiKanjeng adalah ciptaan Nevi. Yang lain tentu saja bisa. Blothong sarjana musik pasti bisa. Jijit Espe Yoyok menguasai berbagai alat musik, pasti juga bisa bikin notasi gamelan. Tetapi hasilnya tidak “majnun” seperti Nevi. Agak lebih rapi dan “terpelajar”, tidak atau kurang “majdzub”.

Kalau Jemek datang dan saya urun uang kepadanya 500 ribu misalnya, maka dia panggil saya “Nabi”. Kalau 300 ribu saya “Wali”. Kalau 200 ribu saya “Kiai”. Kalau hanya 100 saya “Ustadz”. Kalau 50 ribu saya “Ustadz lokal”. Ing atase Jemek, yang kalau omong sukar diteliti dari mana kata itu asal-usulnya, lumayan mengerti hierarkhi Nabi, Wali, Kiai dan Ustadz.

Mbah Surip “Tak Gendong Ke Mana-mana” almarhum yang sempat terlibat dengan kami sekitar 4 tahun, kalau datang ke Kadipiro, satu tangan dan kelima jari-jarinya diacungkan sambil berteriak memanggil Zaki: “Zaaaaak!”. Zaki akan nongol tapi hanya dua atau tiga jarinya yang teracung. Seorang ulama besar atau mufassir yang alim rapi priyayi atau profesor doktor kondang belum tentu memahami bahasa Mbah Surip yang meminta uang 500 ribu tapi Zaki hanya punya 300 ribu.

Begitu banyak hal, peritiwa dan “human interest” (istilah jurnalistiknya) dari mereka ini, yang tidak mungkin saya tuliskan apa adanya. Karena masyarakat kita, utamanya para ilmuwan dan ahli-ahli, apalagi aktivis agama, menurut pengalaman dialektika sosial saya — tidak siap membacanya. Tidak siap secara budaya, tidak siap secara nilai, tidak siap mental, tidak siap moral, tidak siap menemukan sejatinya keragaman makhluk ciptaan Allah. Kalau saya tulis bisa menimbulkan amarah, kesalahpahaman atau penyikapan hitam-putih dan linier. Sebagaimana saya juga tidak akan pernah menuliskan sangat banyak hal tentang Bung Karno atau Gus Dur, apalagi Jokowi dan menulisnya sekarang — serta sejumlah tokoh nasional lainnya — karena tidak bisa saya jamin akan tidak menimbulkan amarah, ketersinggungan atau bahkan keterhinaan. Omong kosong bahwa prinsip ideologis bangsa kita adalah pluralisme, transparansi, dan objektivitas.

Sudah pasti posisi seperti itu memojokkan saya ke wilayah “jalan sunyi”. Membuat saya mengalami kesepian sosial. Bukan kesepian personal dalam berkeluarga dan berTuhan. Juga pengalaman puluhan tahun itu ternyata menyodorkan pemaknaan baru atas buku “Indonesia Bagian dari Desa Saya”. Desa saya dengan manusia-manusianya baik-baik dan asyik-asyik saja, sebelum datang Indonesia. Apalagi Indonesia politik. Indonesia Pemilu Pilkada Pilkades. Indonesia NU Muhammadiyah Sunni Syiah, Indonesia PDIP PKS Gerindra. Indonesia Cebong dan Kadrun.

Rupanya itu sumbernya kenapa dalam nomor puisi-musik Dinasti saya menulis pola istidraj dalam puisi “Nyanyian Gelandangan”:

Hahaha… Tertawalah! Tertawalah!
Memang ini semua enak untuk dikunyah-kunyah dalam tawa.
Hidup oleng, alam di-pack dalam kaleng-kaleng
Hidup hilang jiwa, gedung dan lampu-lampu megah menegaskan sukma yang kosong dan fana.
Marilah cintai dunia lebih dari segala-galanya
Mari kita jual hidup kita untuk segumpal benda,
Untuk sebiji status dan sekeranjang prestige,
Kita bikin sendiri berhala-berhala kita
Bergabung kita dengan komputer sekaligus dengan dupa-dupa
Kenapa tidak? Kenapa tidak?
Hidup ialah perebutan, pertarungan

Hidup ialah sejumput makanan, seporsi kenikmatan dalam usus
Hidup ialah sebidang tanah, seperangkat gedung,
Satu drum gengsi sosial plus sejumlah ekstase picisan
Jadi kenapa tidak? Kenapa tidak?

Hidup ialah membangun bukit, meskipun peti mati jelas amatlah sempit Hidup ialah mencungkil matahari, merobek langit
Terlempar kita oleh kekuatan kita sendiri tanpa bisa kembali bangkit

Lainnya

Buku dan Merchandise