(Sinau Puasa, bag. 16)

Om Wongso Puasa Tak Mau Kemana-Mana

Dok. Pribadi dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.

Saya pencet bel rumah di V.d. Heltsplein 3, tertulis nama di situ ‘G.M Wongso’. Sesaat kemudian remote unlock berbunyi ‘ceklek’. Kunci pintu terbuka dan saya buka pintu kemudian masuk rumah. Udara di luar sudah lumayan dingin ditambah angin yang cukup kencang. Saya naiki tangga kayu menuju lantai 2 yang curam dan hanya cukup untuk seorang saja.

Hoiii oom, hoe gaat het (Oom, apa kabar)?,” sapaku yang sok-sokan ber-Holland spreken.

Apik, apik, kene-kene mlebu.. (kabar bagus, ayo ayo masuk), ” sambutnya hangat.

Sebagaimana adat bertamu di musim dingin, kulepas jas hangat dan saya gantung di tempat gantungan jas di pojok pintu sebelum masuk ruangan. Lepas syal, sarung tangan, dan kemudian masuk ke ruangan yang hangat, karena pemanas yang sudah dihidupkan.

“Arep minum apa? Cola, thee op koffie?” tanyanya dalam bahasa campur-campur.

“Neee…,” jawabku.

“Gelem ngombe serbat Om? Iki wedang tradisionil van Indonesie’ (mau minum serbat Om? Ini minuman tradisional dari Indonesia).”

Om Wongso mengangguk tanda setuju.

Saya keluarkan bungkusan serbat dari dalam tas ransel. Bawaan dari Indonesia dan kutawarkan ke Om Wongso, beliau mengangguk, mau. Kuhangatkan air dalam pot listrik di dapur, dan kuseduh dua cangkir serbat.

Kami terlibat dalam pembicaraan ngalor-ngidul dan ngakak-ngakak. Memang Om Wongso ini sangat kocak, suka ngelucu, dan suka nyerempet-nyerempet ngomong rusoh. Tapi saya suka dengan orisinalitas beliau, polos, bersahabat bahkan bersaudara tanpa pandang warna kulit, bangsa, dan ras. Banyak yang kenal beliau kalau saya diajaknya pergi belanja ke pasar Albertkuypt. Hangat, humble dan kocak. Itulah Om Wongso.

Beliau bercerita bagaimana masa kecilnya dulu menjahili anak-anak sebayanya yang pergi ke masjid untuk tarawih. Nyegat anak-anak perempuan, bikin kaget mereka dan berbagai macam kenakalannya masa kecil dulu di mBaki, desa kecil di pinggir sungai, kira-kira berjarak 6 jam dari Paramaribo. Beliau juga umuk bahwa masih bisa berhitung dalam bahasa jawa dengan lancar.

“Coba Om ayo etung!” (ayo kita berhitung…)

Siji.. loro… telu.. papat.. limo.. nenem.., dst wolulas, songolas, rong puluh…”, terus terdiam sejenak (satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dst… delapan belas, sembilan belas, dua puluh).

Teruske Om” (lanjut Om)

Rong puluh siji, rong puluh loro, rong puluh telu…” (dua puluh-satu, dua puluh-dua, dua puluh-tiga)

Sontak aku tak bisa menahan ketawaku.

“Lho kleru po?” (Lho keliru?)

Ora Om… Mung ora pener” (Nggak Om, cuma nggak pas)

Lha piye sing pener?, ” tanya Pak Wongso. (Bagaimana yang pas?)

Bar rong puluh ki selikur, rolikur, telu likur….” (Sesudah dua puluh, dua puluh satu, dua puluh dua dst).

“Oooo hahahha, yho…, telu likur, papat likur…,” terus diam sejenak dan ‘rong puluh limo, rong puluh nenem…’ balik lagi kesitu. Kata yang asing di telinga saya ketika mendengar bilangan selawe (dua puluh lima) diganti dengan ‘rong puluh limo’ (yaa, dua puluh tiga, dua puluh empat… Dua puluh-lima, dua puluh-enam).

Sesudah episode berhitung, Om Wongso juga umuk bahwa beliau masih bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Maka beliau bernyanyi utuh lagu itu, walaupun (barangkali) kurang tahu maknanya.

Om Wongso adalah bapak saya selama saya mukim di Amsterdam. Beliau berasal dari sebuah desa di Suriname yang bernama mBaki. Nama desa yang persis dengan sebuah nama daerah di daerah Surakarta. Beliau adalah Jawa tulen, orang tuanya adalah kuli kontrak yang dibawa Belanda dari Jawa ke Suriname untuk dipekerjakan menanam tebu, kopi dan tanaman tropis lainnya pada zaman penjajahan dulu. Beristerikan tante Tini, orang Jawa juga dari Suriname juga dan dikaruniai 3 anak yang semuanya sudah mentas dan hidup di rumah mereka masing-masing.

Adat di Belanda (dan banyak negara Barat) adalah ketika sudah berumur 18 tahun maka seorang anak harus lepas dari orang tua masing masing. Menempati flat atau dormitori atau kos atau apapun, yang penting lepas dari orang tua.

Sekolah tetap masih tapi sembari kerja. Dan uang sekolah didapatkan dari hutang ke negara dan nanti kalau mereka sudah bekerja maka akan mengembalikan dengan mencicilnya.

Pembicaraan makin asik dan hangat. Kita hanya berdua saja, karena tante Tini, sedang opname di RS, dan saya menjalankan mandat tante Tini untuk menemani Om Wongso di rumah. “Om-mu mengko mbok kancani. Kowe turu nang omahku ya.’ (om mu nanti ditemenin ya, kamu nginep, tidur di rumahku),” begitulah pesan tante Tini ketika saya nengok beliau di RS kemaren.

Sampai pada suatu episode pembicaraan saya bertanya, “Om, kapan terakhir pergi ke Suriname? Nengok rumah yang di sana?. ” Pak Wongso hanya diam dan menggeleng. Pandangannya menatap ke depan seolah ada yang beliau rasakan. Resah!

Ora, aku ora mrono maneh” (Nggak, saya nggak pergi ke Suriname lagi). Saya menangkap ada sesuatu yang disembunyikan di balik keengganannya terbang balik ke Suriname.

Yen ngono lungo nang Indonesia wae om, tilik desa mBaki sing nang Indonesia” (Kalau gitu, yuk pergi ke Indonesia saja, menengok desa mBaki yang di Indonesia). Beliau menggeleng juga!

Akhirnya beliau bercerita tentang pengalaman pahitnya ketika terakhir berkunjung ke Suriname.

Beliau bilang, “Aku ngrewangi desaku!” (aku menolong desaku — untuk maju).

Jadi pada waktu itu ada orang (Belanda) yang, melalui Om Wongso, membantu membangun desanya, dengan cara mengeruk sungai. Sungai menjadi akses jalan utama dari desa Om Wongso menuju kota Paramaribo. Sungai itu juga menjadi nadi utama untuk segala macam pertanian yang ada di desa Om Wongso dan sekitarnya.

Pekerjaan dilakukan dengan mendatangkan kapal keruk untuk mengeruk endapan sedimen sungai agar kedalaman bisa bertambah dan sungai bisa dilalui perahu dengan lancar. Dengan demikian arus lalu lintas dan barang dari dan menuju ibukota bisa lancar. Tetapi bukannya terima kasih yang didapat, malah yang ada Om Wongso dibikin lumpuh, tak bisa berjalan, dan tak bisa melihat. Singkat kata beliau disantet!

Berbagai macam upaya pengobatan sudah dilakukan, tetapi belum membuahkan hasil. Om Wongso sangat yakin betul bahwa ini bukan penyakit biasa. Ini adalah ulah orang yang tak suka dengan apa yang beliau kerjakan. Orang cemburu! Akhirnya Om Wongso ketemu dengan — beliau menyebutnya orang kuli — yaitu orang India yang pintar dengan ilmu-ilmu persantetan. Dan orang Kuli tersebut bekerja untuk kesembuhan Om Wongso.

Beberapa saat sesudah digarap, Om Wongso kembali sehat, bisa jalan lagi, bisa melihat lagi dan terbang balik ke Amsterdam. Ketika saya tanya apakah tidak dibalas (disantet balik), beliau hanya menggelengkan kepala dan ngomong: ora (tidak). Begitulah Om Wongso yang sudah disakiti tapi tak mau membalas menyakiti.

Sejak saat itulah beliau sangat taat memegang prinsip ‘puasa’ untuk tidak kembali lagi ke desanya di Suriname, tidak bepergian antar pulau antar benua, karena khawatir kejadian santet akan terulang lagi. Beliau sadar betul, bahkan di negara modern seperti Belanda pun, beliau yakin bahwa model-model santet masih juga ada!

Tidak seperti tante Tini, yang sudah melanglang buana, termasuk menengok gubug saya di Condongcatur, dan menengok ‘anak-anak’ tante Tini yang ada di Yogya, maka berpuasalah pak Wongso untuk tidak pergi lintas pulau lintas benua, termasuk menengok saya. Sampai detik ini.

(Bersambung)

Lainnya