Majelis Ilmu Padhangmbulan Mentoro Sumobito Jombang, 28 Maret 2021

Olah Mantiqiyah dalam Kewaspadaan Cara Berpikir

Tidak ada yang tidak kebetulan dalam hidup. Semua terhubung melalui jalinan momentum demi momentum. Demikian pula Pengajian Padhangmbulan, Ahad, 28 Maret 2021 di desa Mentoro Sumobito. Kegiatan bulanan setiap malam tanggal 14 bulan Jawa itu tak habis untuk disyukuri. Satu di antaranya adalah kerawuhan Mbah Nun dan kehadiran teman-teman koordinator Simpul Maiyah.

Kehadiran Mbah Nun di tengah jamaah Padhangmbulan kembali mengobati kangen dan rindu. Wajah-wajah tampak sumringah. Di teras ndalem kasepuhan Mentoro beberapa dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) menanti kedatangan beliau. Setelah saling menyapa, Mbah Nun langsung “tancap gas”. Bundelan-bundelan persoalan manusia modern, lemahnya kemampuan mantiqiyah, materialisme dan sekularisme ilmu pengetahuan hingga ketimpangan penanganan pandemi diurai.

Saat briefing sebelum pengajian, Mbah Nun menawarkan model workshop untuk mengajak jamaah sinau bareng. Diambil tiga tema: Alif Lam Mim, Innaalillaahi wa innaa ilaihi roji’un dan Iman-Ilmu.

Tiga tema itu menjadi pintu ilmu (baabul ‘ilmi). Adapun setelah memasukinya kita akan menemukan apa, mengapa dan bagaimana, setiap jamaah bisa memetiknya secara merdeka.

Sinau Bareng tidak menyodorkan “barang jadi”, melainkan mengajak jamaah menentukan bahan-bahan apa saja yang perlu diolah lalu memasaknya bareng-bareng untuk menjadi outcome yang bermanfaat.

Dibuka dengan Wirid Padhangmbulan, lantunan syair lagu Asmaul Husna Al-Waliy, pembacaan puisi dari buku 99 Untuk Tuhanku, pengajian Padhangmbulan kian terasa menaburkan atmosfer kejernihan sekaligus kepasrahan kepada Yang Maha Pelindung.

Tiga kelompok workshop—dianggotai anak-anak remaja—menerima tantangan untuk mendiskusikan salah satu tema lalu mempresentasikan hasil diskusi. Pertama, Alif Lam Mim: kalau selama ini fawatihus-suwar sering diterjemahkan hanya Allah yang mengetahui maksudnya (Allahu a’lamu bimurodihi), mengapa kalimat itu tercantum dalam Al-Qur’an yang hudallinnaas? Bagaimana cara pandang dan sikap pandang kita terhadap Alif Lam Mim?

Kedua, kalimat innaalillaahi wa innaa ilaihi roji’un: bagaimana aplikasi kalimat itu dalam lingkup ruang dan waktu? Tema ini menarik karena kalimat tarji’ kerap dikonotasikan untuk orang yang meninggal dunia atau tertimpa musibah.

Ketiga, iman dan ilmu: apa beda iman dan ilmu? Kalau sama apa persamaannya? Bagaimana kita menempatkan kejadian sebagai peristiwa iman atau peristiwa ilmu? Iman dan ilmu dua bidang yang saling terpisah ataukah satu yang berisi dua dan dua yang berada dalam satu? Kapan kita menggunakan iman dan kapan memakai ilmu?

“Pengajian Padhangmbulan yang berlangsung selama enam jam sama dengan kuliah enam semester,” ungkap Mbah Nun membesarkan hati jamaah. Ini bukan sekadar kelakar. Faktanya, jamaah diajak menyelami tema dasar yang selama ini akar persoalannya, cara pandangnya, sikap pandangnya serta sambungan mantiqiyahnya jarang atau belum disentuh oleh majelis pengajian dan kajian ilmiah akademis.

Merangkai kemampuan berpikir mantiqiyah dimulai dengan menyodorkan tema-tema dasar agar menemukan gatukan antarelemen. Manusia Jawa menyebutnya otak atik gatuk. Outcome-nya adalah kesanggupan berpikir logis-autentik sehingga jamaah tidak gampang terjebak kerancuan berpikir serta tidak mudah terseret arus pendangkalan. Demikian fakta yang saya baca dari tema workshop Pengajian Padhangmbulan.

Pada kesempatan itu Mbah Fuad juga menyapa jamaah melalui tayangan video. Beliau memaparkan makna dan pengertian Asmaul Husna, Al-Waliy, Allah Maha Pelindung. Mbah Fuad menyampaikan, kata Al-Waliy disebut sebanyak enam belas kali dalam Al-Qur’an. Beberapa surat di antaranya: An Nisa’: 45, Yunus: 62, Al-Jatsiyah: 19 menyebut kata Al-Waliy dalam konteks yang berbeda.

Menutup tayangan video Mbah Fuad menegaskan bahwa perlindungan dari Allah tidak diperoleh dengan berpangku tangan. Pertolongan dan perlindungan itu harus diupayakan oleh setiap orang beriman melalui amal shalih dan taat kepada-Nya tanpa reserve.

Malam itu jamaah tidak hanya dibukakan pintu ilmu melalui tema workshop dan Al-Waliy. Pernyataan, ungkapan, motivasi, bahkan guyonan Mbah Nun yang disambut tawa merdeka teman-teman jamaah adalah pintu terbuka yang apabila kita memasuki lorongnya akan mengantarkan kita pada kasunyatan yang lebih luas dan mendasar.

Mari kita cermati saat Mbah Nun memantik imajinasi kita tentang betapa tidak terbatasnya ruang alam semesta. Bumi, matahari, bulan dan sejumlah planet di sekitarnya adalah satu ruang yang berada dalam lingkup ruang yang lebih luas, dan ruang yang lebih luas itu berada dalam ruangan ruang yang lebih luas lagi, demikian seterusnya.

Bukankah itu pelajaran logika dasar bahwa sepintar-pintarnya manusia, sealim-alimnya ulama, seprofesor-profesornya pangkat akademik seseorang pada saat itu juga ia dihadang oleh ketidaktahuan yang maha luas. Ini pelajaran mantiq sekaligus akhlak yang menjawab pertanyaan: mengapa manusia harus tawadluk, andap asor, rendah hati?

Bukan hanya itu. Ketika Mbah Nun menguraikan iman dan ilmu, logika dasar yang dibangun adalah kenyataan bahwa “tahu”-nya manusia hanya satu persen, selebihnya adalah ketidaktahuan. Simulasi sederhana pun diajukan untuk membuktikannya. Ketika seorang suami berangkat kerja, sang istri di rumah menitipkan suaminya pada Allah. Ada keyakinan yang ditambatkan kepada penjagaan Allah. Kita mengenalnya sebagai tawakal.

Iman, Islam, Ihsan, Tawakal, Taqwa, dengan demikian, bukan butir-butir parsial yang menggelinding ke arah yang berbeda. “Kalau seseorang itu mukmin, ia semestinya juga seorang muslim. Kalau seseorang menjalani tawakal, ia juga menempuh iman, islam, dan takwa,” ungkap Mbah Nun menegaskan.

Logika serupa juga kita jumpai dalam “lima pasal” Tombo Ati. Memasuki pintu moco qur’an sak maknane, mengantarkan kita pada empat kenyataan laku berikutnya. Demikian logika saling ketersambungan antarelemen yang disinau bareng pada Pengajian Padhangmbulan.

Giliran tiga kelompok menyampaikan hasil diskusi mereka, para dosen dari ITS turut meresponsnya. Keutuhan berpikir tampak dari pikiran teman-teman yang mempresentasikan hasil diskusinya. Apresiasi pun diberikan bapak-bapak dosen kepada anak-anak muda itu.

Menjelang pukul satu dini hari Pengajian Padhangmbulan ditutup dengan lantunan Duh Gusti dan doa. Selamat mengolah butir mata mantiqiyah menjadi jalinan tasbih yang terus berputar.

Lainnya