Netes Masa Depan Dunia

(Buku Bersama Mbah Nun dan Jamaah Maiyah)
Foto: Adin (Dok. Progress).

Saya mengajak Jamaah Maiyah untuk berlatih netes. Mencari waktu dalam ketenangan jiwa menuliskan 5-12 baris saja tetesan hikmah hidupmu. Saya sendiri sudah lama merintisnya dan sudah dapat sekitar 200 tetesan. Kalau kau bisa menulis banyak, tetap masing-masing harus sealinea atau 5-12 baris. Lantas kau bisa bikin Tetesmu 1, 2, 3 dst. Kalian kirim ke Simpul kalian atau ke caknun.com atau Progress Kadipiro Yogya.

Pengalamanmu dalam bermaiyah. Boleh pandanganmu. Persepsimu. Analisismu. Kesimpulanmu. Atau perasaanmu. Ketersentuhan batin pribadimu. Apapun saja. Tapi berangkat dengan pembatasan. Sebab kalau landasannya kemerdekaan, kau cenderung akan menuliskan sebanyak-banyaknya. Semua hal maunya kau tulis. Ketika menulis satu hal, seribu hal lain ikut membayang di benakmu. Kau perlu berpuasa. Berproses di dalam batinmu, mencari, menggali, dan menentukan yang paling inti dari semua proses penghayatanmu selama bermaiyah. Kau ambil intisari di tengah proses kau campakkan dirimu ke lautan sistem silaturahmi Maiyah.

Saya bercita-cita menghimpun semua itu, menerbitkan dalam satu buku bersama saya. Dalam bahasa Inggris. Karena urusan kita adalah bagaimana Dunia mengenal Maiyah.

Sebab ada “PR” sedikit di balik hajat tetes ini. Dalam himpitan batasan yang kau bikin sendiri itu, kau bayangkan tulisan satu alineamu itu dibaca oleh Dunia. Tidak hanya oleh Indonesia, oleh publik sosial mediamu, atau sahabat-sahabatmu. Melainkan untuk dunia. Katakanlah buku itu berjudul “Maiyah for the World”, “Wisdom of Maiyah” atau apapun. Setiap kata yang kau guratkan, kalimat dan susunan makna dalam satu alinea 5-10 baris itu, kau perhitungkan, kau simulasikan bahwa audiens atau pembacamu adalah masyarakat internasional.

Bayangkan, aminu wa faqqihu, yakini bahwa Maiyah adalah babon ayam yang sedang angrem, yang akan bertelor masa depan Dunia. Nanti ada daftar dari Allah tentang momentum kapan telur Maiyah itu netes.

***

Netes bukan nètès. Netes itu babon ayam bertelur, kemudian mengeraminya, akhirnya netes. Kalau nètès atau rubrik kita Tètès itu air menètès. Kita mengalami kerancuan antara menuliskannya dengan membacanya. Karena transliterasi Bahasa Indonesia kita tidak menyentuh mozaik kemungkinan kekayaan kosakata yang kaya raya, terutama yang ditransfer dari Bahasa Jawa dan Bahasa Arab. Selama ini kita membeca Tetes dengan Tètès berdasarkan kesepakatan “di bawah meja” tanpa ada aturannya dalam regulasi Bahasa Indonesia.

Ini kelihatannya hanya soal kata, padahal defisit makna yang diakibatkan olehnya sangat luas. Belum lagi ada tambahan kerancuan dari tradisi bahasa Inggris ke Arab kemudian ke Indonesia. Nulis “Insyaallah” saja menjadi umber perpecahan. Para pembawa Islam yang baru di era milenial menyuruh kita menulis “Inshaallah”. Karena “sha” berasal dari pengucapan Inggris “The sun shining”. Secara tradisional kita membedakan antara “s”, “sh” dan “sy”. Nulis matahari ya “syamsun” bukan “shamsun”. Sebagaimana “insyaallah”.

Tahun-tahuin terakhir kita didesak untuk menuliskan “Inshaallah”. “Sh” maksudnya adalah “Syin”. Dalam aturan itu tidak ada bedanya “shad” dengan “sin”. “Shad” dipakai untuk “Syin”. “Shad”nya sendiri sama dengan “Sin”. Kalau kita menulis shalat, mereka menulisnya salat. Asosiasi pikiran kita jadi kacau oleh modernisme. Kalau shalat terdiri dari Subuh, Dluhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Kalau salat itu campuran dedaunan, kubis, kacang, kentang. Lho itu kan salad. Selain bahasa Arab dan Jawa tidak terlalu dibedakan antara akhiran “t” dengan “d”. Kalau Bahasa Jawa “wedi” itu takut, “wedhi” itu pasir.

Kita ini soal kata saja harus patuh kepada Barat dan Arab. Itu pun Arabnya lebih dulu patuh kepada Barat, kemudian dipatuhi oleh Ustadz-Uztadz yang membawa Arab ke Indonesia.

Ya sudah. Maiyah hidup di kedaulatan dan pilihannya sendiri saja. Memang Maiyah sendiri menurut aturan kita sendiri menuliskannya adalah Ma’iyah. Itu ‘ain, bukan hamzah. Tapi tak apalah. Asalkan kita tidak sampai mblakrak menulis adzan “Hayya ‘alas salaaaah”. Mari kita salah. Sebagaimana Muhammad Salah pemain nasional Mesir yang diimport oleh Liverpool. Lha wong Muhammad kok salah. Kalau Muhammad salah, terus kita gimana. Nanti anak-anak kita bershalawat bukan “shahalatullah salamullah”, tapi “Salah oleh gak salah yo oleh…”.

***

Untuk anak-anakku Maiyah berikut saya kasih contoh tetesan pendek yang susah saya tulis. Tapi jangan terpengaruh. Jangan ditiru. Jangan dibatasi oleh rumusan yang kau temukan dalam tetes-tetes berikut ini:

  1. Tidak Bisa Sendiri

    Manusia tidak mungkin hidup sendirian, bercocok tanam sendiri, membuat makanan sendiri dengan periuk piring cangkir membuat sendiri, merajut pakaian sendiri, membangun rumah sendiri, bikin motor mobil sendiri. Bahkan manusia tidak memakai mulut untuk berbicara kepada dirinya sendiri. Mengaktifkan akal pikiran untuk merenungi dirinya sendiri. Serta menghidupkan hatinya untuk mencintai dirinya sendiri. Manusia tidak bisa memperoleh kepuasan, kelegaan, pemenuhan kebutuhan psikis dan fisiknya hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri.

    Maka manusia, setiap dan semua manusia, memerlukan Maiyah. Kebersamaan dengan semua manusia dan seluruh makhluk.

  2. Butuh Bersama

    Setiap manusia membutuhkan sangat banyak hal yang bukan dirinya, atau yang di luar dirinya. Itu bisa berarti sesama manusia, yang berbeda-beda asal-usul dan latar belakangnya. Bisa sesama makhluk, bisa air dan udara, bisa tanaman dan hewan. Bisa ruang dan waktu, gelombang, frekuensi, dan apapun saja. Mungkin juga beserta makhluk-makhluk lainnya, misalnya Jin, Malaikat, Setan, Dajjal, Setan, Ya’juj Ma’juj atau siapapun yang manusia mengenalnya ataupun tidak.

    Dan yang primer: pengenalan manusia terhadap pihak yang membuat dirinya dan semua itu dari tidak ada menjadi ada.

    Itulah pangkal hingga ujung, hulu hingga hilir, sangkan hingga paran, yang dipelajari di dalam dan dengan Maiyah.

  3. Yang Dibangun Manusia

    Segala hal yang ditemukan, dibangun dan ditata oleh manusia, berbanding lurus dengan kadar atau taraf pengenalannya terhadap segala apa dan siapa yang bukan dirinya. Kisah cinta manusia, keluarga manusia, masyarakatnya, Negara dan Globalisasinya, termasuk segmen-segmen detailnya, misalnya institusi sosialnya, partai politiknya, aliran keagamaannya dll — bermuatan nilai sepadan dengan pengenalan manusia terhadap dirinya serta segala apa dan siapa yang bukan dirinya.

    Maka spektrum pengetahuan dan perspektif keilmuan di dalam Maiyah dioptimalkan, bahkan dimaksimalkan sedemikian rupa agar mengenali secara jernih dan akurat diri manusia sendiri serta diri apapun dan siapapun yang hidup bersama manusia.

  4. Kewaspadaan Menuju Keseimbangan

    Kenyamanan dan kekeruhan jiwa manusia, kebahagiaan dan kesengsaraannya, sukses dan gagalnya, rasa aman dan rasa terancamnya, bergantung pada ketepatan pengetahuan dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan apa dan siapapun yang bukan manusia.

    Maka sejak awal, Maiyah mendasari eksplorasinya dengan bekal kewaspadaan menuju keseimbangan atas segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup manusia.

  5. Belajar Bersama

    Karena hidup manusia bisa selamat hanya kalau tidak kehilangan sambungan atau kontak serta harmoni perhubungan dengan apa dan siapa saja yang terkait dengan hidupnya, maka Maiyah mentradisikan Belajar Bersama atau “Sinau Bareng” sesama manusia, serta bersama apapun dan siapapun saja yang berkaitan dengan muatan pembelajarannya.

    Bahkan setiap benda makhluk alam selalu melakukan pembelajaran untuk menempuh evolusi dan mutasinya. Tidak hanya dengan habitat natural, naluri dan takdir, manusia dengan modal akalnya merupakan makhluk hidup yang paling lengkap peralatannya. Maka Maiyah bekerja keras bersama-sama untuk menata akurasi dan harmoni setiap evolusinya dalam bermasyarakat, bernegara dan berdunia.

Demikianlah, semoga contoh-contoh itu diperkenankan Allah untuk menjadi pemantik ide, serta semoga Allah swt sendiri berkenan men-tanazzul-kan hidayah-Nya kepada Jamaah Maiyah.

Lainnya