Kebon (162 dari 241)

MWH, “Buzzeran wa Nadziran”

Foto oleh Adin (Dok. Progress).

Hari-hari ini semakin banyak jumlah MWH. Dan yang sudah terlanjur MWH, atau yang diupah untuk menjadi MWH, semakin mendalam pula kadar penghinaan mereka atas martabat manusia, sehingga semakin kental pula kehinaan diri mereka sendiri.

Mereka adalah manusia-manusia yang pengalaman pahit hidupnya tak ada seperseribu derita hidup Harya Sengkuni, tapi berani melakukan kejahatan kemanusiaan dan kebrutalan moral serta terorisme nilai melebihi putra Prabu Gandara itu. Padahal tingkat otoritas, level jabatan dan peralatan politik mereka juga tidak ada apa-apanya dibanding Sengkuni yang semacam Menteri Sekretaris Negara Astinapura. MWH ini hanya prajurit-prajurit rendah yang bertugas menyebar racun, bahan-bahan perusak serta bau yang sangat busuk ke sentero negeri, bahkan dunia.

MWH tentulah bukan Mustofa W. Hasyim, penyair yang kegagapan ucapannya sangat indah. MWH adalah “Min Waro`il Hujurat”, idiom dari Allah. Orang-orang yang bersembunyi di balik tembok kamar, memanggilmu, menyapamu, mengata-ngataimu, menghardikmu, menistamu, membullymu, menghinamu, menggunakan alat-alat komunikasi yang sangat memungkinkan mereka menyembunyikan dirinya.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلۡحُجُرَٰتِ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (dari balik temboknya) kebanyakan mereka tidak menggunakan akal.

MWH lebih menyusahkan dan lebih destruktif terhadap kehidupan manusia dibanding Setan atau hantu yang sebenarnya. Mereka adalah petugas-petugas kehinaan hidup, penghalang kebenaran dan kemashlahatan, serta hanya menyebarkan hal-hal yang merusak kebaikan, mengotori kejernihan hidup, dan memasang di mana-mana dinding kegelapan bagi masa depan ummat manusia. Menurut Sabrang, kalau ingin tahu isi hati yang sebenarnya dari manusia, taruhlah topeng menutupi wajahnya. Karena dia tertutupi identitas dan pribadinya, makai ia lebih jujur. Kalau wajahnya tampil, ia justru cenderung lebih berhitung dan hati-hati.

Jadi ternyata “topeng” justru bisa menjadi alat untuk mengerti keaslian manusia. Karena pada dasarnya setiap manusia itu pengecut, maka kalau bertopeng ia malah lebih jujur, otentik, dan apa adanya. Maka kalau ingin membuktikan seberapa busuk hatinya manusia, masuklah ke arena komunikasi, seperti media sosial, yang membuka peluang bagi siapapun untuk menentukan topeng akunnya masing-masing, dan dengan begitu justru terekspresikan aslinya.

Tuhan menyuruh manusia untuk “basyiran wa nadziran”. Memberi kabar gembira dan peringatan untuk setiap perkembangan yang membahayakan kehidupan manusia. Padahal dalam bahasa Inggris Buzzer berkonteks sama dengan “basyiran wa nadziran”: lonceng, alarm, atau tanda atau peringatan. Jadi kalau “basyiran wa nadziran” dalam Al-Qur`an bermakna penyebar kegembiraan dan peringatan, kalau Buzzeran wa Nadziran aktivitasnya adalah menyebarkan keruwetan dan fitnah.

Kalau Mustofa W Hasyim memang seorang buzzer kegembiraan dan kecendekiawanan dan kecendekiawanan dalam kegembiraan. MWH yang ini adalah figur kesayangan Jamaah Maiyah. Ia penyair tetapi lucu, padahal bukan pelawak, sedangkan pelawak saja belum tentu lucu. Maiyah mengenalnya sebagai penyair “puisi rusak-rusakan”. Artinya tidak rusak beneran. Sebagaimana mobil-mobilan dari kulit jeruk bukanlah mobil sungguhan.

Mustofa W Hasyim mempanglimai Nahdlatul Muhammadiyin, suatu pergerakan nilai yang mengobjektivisasikan pemahaman-pemahaman, membenahi perbedaan-perbedaan, menyeimbangkan kemiringan-kemiringan, mengutuhkan keterpecahan-keterpecahan, di antara paham dan budaya Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah.

Mustofa W Hasyim lahir dari keluarga Muhammadiyah tapi di Kotegede tradisonal, jadi secara budaya banyak “tasyabbuh” dengan budaya NU. Pemikirannya sangat modernis-advanced. Sangat ijtihadiyah dan tajdidiyah. Puisinya berisi kenakalan yang cerdas dan kecerdasan yang nakal. Nilai yang ia gali dan diekspresikan dengan puisi atau tulisan-tulisan lain sangat mengindikasikan bahwa diam-diam ia belajar dan berguru kepada Ahlul-Fathonah, pakar kejernihan intelektual, ketajaman persepsional yang akurat dan determinatif.

Muhammad Saw adalah manusia ekstra jenius. IQ sangat tinggi. Persentuhan, perkaitan, dan pola-pola kerjasama antar miliaran saraf-saraf di otak dan hatinya di-install dan di-setup serta diprogram langsung oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah Swt. Sehingga menghasilkan akhlaqul karimah, mengaplikasi ke insan kamil dan baldah thayyibah.

Mustofa W Hasyim adalah jenis emas semacam itu meskipun berbeda karatnya dibanding Nabi Muhammad. Maka meskipun bau badan, pakaian dan nafasnya “agak NU”, ia diterima bekerja di PP Muhammadiyah, bahkan mengelola media pusat gerakan yang dirintis oleh Mbah KHA Ahmad Dahlan itu. Saya pribadi tidak bisa membayangkan, mensimulasi atau mengasumsikan bahwa ada manusia yang membenci Mustofa W Hasyim. Saya tidak menemukan alasan padanya untuk menimbulkan kebencian. Sedemikian beradabnya Mustofa W Hasyim sehingga kepada istrinya pun ia menggunakan bahasa Jawa kromo inggil.

Mustofa W Hasyim termasuk bagian dari makhluk ghaib yang Allah mendesak kita untuk mempercayainya agar masuk kategori orang beriman.

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ
أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ
أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ
وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Jamaah Maiyah bergeser dari suka dukanya, dari stres dan gundah gulananya, berkumpul Maiyahan. Kemudian MWH menghiburnya. Tetapi MWH bukan pelawak. Hiburan darinya bukan lawakan, melainkan transformasi kekuasaan tapi juga keindahan dari Allah.

“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir?”

Dengan husnudhdhan saya bermuhasabah sehingga saya meyakini bahkan kelak MWH akan menjadi tokoh kesayangan masyarakat Sorga. Saya tidak heran kalau saya sendiri akan menginisiatifi acara-acara Poetry Reading pembacaan puisi “rusak-rusakan” Mustofa W Hasyim berkeliling ke sebanyak mungkin territorial geografis Sorga. Kalau perlu saya akan minta bantuan kelompok musik asuhan jagoan terompet yakni Malaikat Isrofil.

Mustofa W Hasyim adalah makhluk Allah yang mentransfer kegembiraan, keindahan, senyum dan tawa. Sekadar mendengarkan Mustofa W Hasyim berbicara tergagap-gagap dan tidak jelas artikulasinya saja sudah kecipratan sorga rasanya. Tidak sedikit Ibu-ibu Jamaah Maiyah yang kalau melihat video Maiyahan mereka tidak peduli pada isinya, kecuali hanya menunggu penampilan Mustofa W Hasyim.

لا تحتقر من دونك فلكل شئ مزية.

Janganlah engkau menghina orang yang kau pikir lebih rendah dari kamu, karena setiap orang memiliki kelebihannya sendiri.

Dan sejauh ini hanya kosmos ilmu dan elaborasi budaya serta pluralitas kemanusiaan di kalangan Jamaah Maiyah yang bisa bersentuhan dengan kelebihan Mustofa W Hasyim. Kami tidak bisa membayangkan akan ada forum lain, media televisi atau acara apa saja di mana manusia berkumpul, yang punya kesiapan untuk mengapresiasi ekspresi Mustofa W Hasyim, apalagi menikmati keindahannya.

Di abad 21 ini makanan Mustofa W Hasyim masih “lotèk”, maksudnya masih “low technology”. Dia menaiki sepeda saja tidak bisa. Bayangkan low teknologinya. Jangankan menyetir mobil apalagi mempiloti pesawat terbang. Saya juga ragu apa dia bisa berenang, meskipun sudah terbukti cukup canggih merenangi istrinya sehingga menghasilkan putra-putri.

Ada Kiai yang mengatakan bahwa Nabi Musa dulu juga gagap atau celat kalau bicara. Padahal beliau adalah Kalimullah, juru bicaranya Allah Swt. Mirip dengan Menseknegnya Pak Harto di jaman Orba, yakni Pak Moerdiono, yang bicaranya sangat susah dan lamban. Meskipun sebenarnya Pak Moerdiono lancar-lancar saja kalau bicara, tapi Pak Harto memerintahkannya untuk tampil gagap dan lemah. Karena juru bicara Negara harus 90% menyerap informasi dari rakyat, 19% mengungkapkan sesuatu. Kalau jubir Negara adalah mantan aktivis yang orator, nanti keluarannya terbalik: 90% dia buka-buka rahasia Negara, 10% menyerap informasi.

Jadi untuk masyarakat mutakhir di era milennial yang merasa paling unggul dibanding pencapaian peradaban-peradaban sebelumnya, ada baiknya belajar kepada Nabi Musa, Moerdiono, dan Mustofa W Hasyim.

Lainnya