Membaca Surat dari Tuhan (23)

Meredam Sihir Media

Image by Prateek Katyal from Pexels

Zaman itu belum dikenal apa yang sekarang disebut algoritma, yang bisa mengarahkan bahkan mendikte pemakai media sosial untuk masuk ke dalam dunia tertentu. Ingatan kita telah direkam dan kecenderungan kita telah dirumuskan oleh mesin pencari tema. Bahkan jangan-jangan niat kita dan pikiran kita sesungguhnya telah terbuka dan terdeteksi secara lengkap oleh mesin ini yang bergerak dengan perhitungan tertentu sehingga detik dan detak jantung kita bisa diukur, pikiran, emosi dan cita kita telah dipolakan.

Sampai akhirnya banyak yang masuk ke dalam sihir media. Dan dengan penuh semangat melakukan copy paste dan share hal-hal yang sebenarnya bukan mendesak sebagai kebutuhan kita. Atau hal-hal yang secara substansial tidak penting, tidak signifikan, dan babar blas tidak relevan apalagi kompatibel dengan masalah dan kebutuhan yang hakiki yang kita hadapi dan kita perlukan untuk diatasi dalam hidup kita sekarang dari detik ke detik.

Yang tersaji memang menggiurkan, tetapi jelas merusak imunitas budaya, imunitas agama, dan imunitas badan kita. Ibaratnya kita haus informasi bergizi, yang tersaji dan sudah diprogram dalam jaring algoritma adalah informasi berkualitas es krim. Lezat memang tapi bisa merusak gigi, mengacaukan kadar gula, dan mengganggu imunitas. Atau informasi ini berkualitas fast food atau junk food yang potensial menambah risiko sakit jantung, stroke, dan kanker. Termasuk kanker pikiran.

Untungnya sebagian masyarakat mudah lupa dan suka bosenan. Melihat hal yang itu-itu saja yang walau direkomendasikan oleh mesin pencari tema dengan gencar, mereka ada yang berani menggemari hal-hal yang lain. Mereka ingin bahagia dengan caranya sendiri. Misalnya menggemari petualangan visual ke daerah sepi dan indah. Hidup di tengah bunga-bunga atau blusukan secara virtual ke aneka macam makanan jalanan di Asia Tengah, di Afrika Utara, dan tempat lain di mana yang disajikan adalah makanan bukan Barat yang ternyata lebih asyik, alami, dan alternatif banget. Tetapi ini tentu saja dilakukan oleh orang yang punya kesadaran tinggi untuk melawan sihir media dan tidak mau didekte oleh media. Ibarat orang belajar jurnalistik, orang yang jumlahnya tidak banyak ini tidak hanya kagum atau mabuk pada unsur who dan what-nya berita, tetapi dengan penuh gairah menjelajahi when, where, memperkaya dengan how dan why dari sajian informasi.

Suatu hari saya diundang untuk memberi pelatihan jurnalistik di kampus UAD. Peserta para mahasiswa senior, bukan pemula. Saya langsung menangkap kebutuhan mereka akan hal yang sudah bukan elementer lagi. Waktu itu judul pelatihan langsung saya ubah menjadi pendalaman materi jurnalistik. Dengan dipandu oleh imajinasi dan intuisi pelan-pelan saya membuka cakrawala jurnalistik, agar tidak itu-itu saja. Minimal jurnalistik dibuka dengan perspektif itu-itu plus ini-ini dan plus-plus ini-itu dan itu-itu ini. Dengan demikian saya sendiri dan peserta pelatihan bisa memandang jurnalistik secara baru.

Agar tetap runut dan runtut cara berpikirnya maka pelatihan dimulai dengan memperkaya unsur berita. 5 W 1 H. 5 W 1 H yang tidak biasa. Misalnya W pertama, what, apa yang terjadi sekalingus mengungkap relasinya dengan unsur lain, who, when, where, why, dan how. Saya katakan dan saya gambarkan bahwa dalam kenyataan sebuah kejadian itu sering tidak berdiri sendiri, merupakan rangkaian dari banyak kejadian. Jadi jarang ada kejadian berlangsung secara tunggal, tetapi biasanya kejadian ini berlangsung secara jamak. Dengan kesadaran ini maka struktur kejadian, relasi kejadian, narasi kejadian dan makna kejadian menjadi relatif jamak, mengandung kompleksitas dan komprehensi tertentu.

Berlanjut pada unsur who, siapa pelaku dan yang terlibat dalam kejadian itu. Ternyata dalam sebuah kejadian dan banyak kejadian yang terhubung dan terstruktur pelakunya tidak tunggal. Ada pelaku-pelaku dan pelaku-pelaku lain yang terlibat atau mempengaruhi kejadian atau kejadian-kejadian itu. Relasi antar pelaku dalam kejadian atau kejadian-kejadian, narasi masing-masing pelaku dan konstruksi struktural pelaku kejadian kalau didalami kita akan menemukan kompleksitas dan komprehensi tertentu.

Apalagi kalau meminjam istilah dalam festival film ada aktor atau pemeran utama (antagonis dan protagonis), ada pemeran pembantu, ada sutradara, kameramen, pembuat iringan musik, penulis skenario, penyumbang ide (misal penulis novel yang novelnya difilmkan), asisten sutradara, pencatat adegan atau scene, bagian properti, kostum, dan sebagainya sangat banyak pelaku langsung atau tidak langsung dalam kejadian pembuatan sebuah film.

Belum lagi yang terlibat dalam proses pasca shooting yang melibatkan para teknisi dan aktor dubber, editor film dan pembuatan ringkasan film untuk iklan. Dalam kejadian pembuatan film selanjutnya akan memasuki periode peredaran atau distribusi. Ini melibatkan lebih banyak orang atau pelaku kejadian pembuatan film pasca produksi. Manajer pemasaran, bagian pembuatan materi iklan film (termasuk pembuat poster yang nendang di mata calon penonton) dan penguasa distribusi film dari pusat sampai ke bioskop, termasuk tenaga pemutar film, pengangkutan copy film, penjual karcis, penjaga gerbang teater yang bertugas setelah terdengar aba-aba,”Penonton yang terhormat, pintu teater tiga telah dibuka. Dipersilakan penonton untuk masuk.”

Juga jangan dilupakan petugas yang dengan lampu senter mengarahkan penonton menempati kursi sesuai nomor karcis atau tiket yang dibeli, penjaga counter makanan dan minuman panas dan petugas penjaja brondong jagung yang nantinya beroperasi di dalam gedung, juga jangan dilupakan petugas keamanan atau satpam galak yang bertugas memeriksa tas penonton yang dicurigai serta menyita (sementara) makanan dan minuman yang dibeli di tempat lain untuk memastikan penonton hanya makan dan minum barang yang dijual di counter yang merupakan bagian dari kesatuan bioskop.

Saya dan isteri beberapa kali kena sita makanan dan minuman lebih lezat dibandingkan dengan yang dijual di counter bioskop dan selalu protes dan dijawab oleh satpam bahwa dia hanya menjalankan tugas. Tugas dari sistem ekonomi neoliberal yang pada praktiknya justru menerapkan monopoli dan menyulap ruang (kompleks bioskop) menjadi ruang ekonomi privat (penyewa ruang mall dengan fasilitas pemutaran film).

Sebagai orang kreatif tentu saya bisa bergerilya menyelundupkan coklat dengan merk kesukaan saya sampai di tempat duduk. Sambil nonton film saya mengunyah coklat dan sebagai penonton yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan petugas kebersihan bioskop maka bungkus coklat saya masukkan saku.

Lainnya