Merancang Timeline Sebelum dan Setelah “Mudik”

Photo by Kevin Yudhistira Alloni on Unsplash

Dalam suasana puasa, biasanya puncak kenikmatan ibadah akan sangat terasa dengan dipuncaki peristiwa mudik, sebelum menyambut hari raya Idul Fitri bersama keluarga. Tetapi, mudik tahun ini oleh pemerintah dilarang karena situasi pandemi yang belum usai. Berarti sudah dua kali kita dipaksa atau terpaksa untuk lebih mengkreasi peristiwa mudik yang pasti sangat dirindukan.

Apabila mudik hanya dibatasi pemaknaannya sebagai sebuah ajang kumpul bersama keluarga, sudah pasti kita akan merasa terkekang dengan peraturan yang saya husnudhdhoni sebagai sesuatu yang baik demi kemashlahatan bersama. Tetapi, apabila kita memperluas pemaknaan mudik tidak hanya sebatas peristiwa jasadiah, melainkan suatu perjalanan ruhaniah, maka dimanapun dan bersama atau tanpa siapapun, sudah pasti kita bisa mengambil hikmah peristiwanya.

Jika peristiwa jasad mengajak orang fokus pada keasyikan silaturahmi, lantas apa yang menjadikannya menjadi suatu peristiwa ruhani? Dari keasyikan silaturahmi kita bisa banyak mengambil banyak sekali hikmah dengan kedaulatan berpikir kita masing-masing. Dari situ kita pasti mendapati, bahwa sejatinya mudik adalah suatu perjalanan menuju diri yang sejati.

Keasyikan silaturahmi itu biasanya kita dapati dengan bermaaf-maafan, tetapi keadaan sekarang justru sangat kompatibel apabila kita hendak mudik menuju diri yang sejati. Kita bisa lebih fokus untuk bersilaturahmi kepada diri sendiri, yakni mensilaturahmikan akal dengan hati agar diri menjadi lebih harmonis. Kita bisa fokus beri’tikaf 10 hari terakhir untuk lebih melatih kesadaran tafakkur dan tadzakkur terhadap diri sendiri.

Memang perjalanan ini tidak mengasyikkan seperti biasanya. Atau bahkan kita terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa tindakan ini sudah pasti tidak asyik sebelum bersedia mencobanya. Berdiam diri, berteman dengan kesunyian ataupun kesendirian, dibersamai dengan ancaman pemikiran-pemikiran yang secara merdeka bersliweran kesana-kemari tanpa pernah kita bisa mengontrolnya. Meskipun kita juga punya kekuasaan untuk menafikannya, membiarkannya, atau mungkin spontan membuangnya.

Tapi, dari keadaan seperti itulah kita dituntut untuk belajar kembali menjadi manusia. Itu baru menjadi awal perjalanan sebelum keberangkatan mudik. Kita dipaksa untuk mensortir atribut-atribut yang melekat pada diri dan segera meletakkannya. Karena segala sesuatu tersebut tidak akan berlaku di hadapan kemana kita akan menuju.

Lalu, apakah agama juga bisa menjadi salah satu atribut yang harus kita buang? Agama justru menjadi alat bantu sekaligus bekal dalam perjalanan mudik yang akan kita tempuh. Kecuali, selama ini kita menggunakan agama sebagai hiasan atau kosmetik untuk memperindah diri di hadapan orang lain. Atau memanfaatkan kelihaian lidah dalam bertutur kata tentang agama disertai tendensi mendapatkan pengakuan maqam tertentu dalam kasta sosial.

Dan sudah menjadi satu kepastian dari yang hidup adalah mudik, kembali, pulang menuju ke alam kesejatiannya. Ilaihi roji’un. Dunia tak lebih dari sekadar akomodasi fasilitas atas segala niat yang terbangun dan berbagai bekal aktivitas yang dijalani selama “hidup” sebelum mudik menuju kesejatiannya. Segala bentuk perspektif yang ada di alam kesejatian pun sangat berbeda dengan alam tempat tujuan mudik. Oleh karena itu kesadaran ini sangat penting untuk kita latih daripada nantinya kita hanya plonga-plongo dengan keasingan tempat kita mudik.

Kita akan kembali menyatu, dan syarat untuk menjadi satu adalah kita benar-benar memfitrahkan diri dari segala bentuk embel-embel yang sama sekali tidak berlaku di hadapan-Nya. Seperti apa fasilitas dan akomodasi yang akan diberikan oleh Sang Tuan Rumah dan Pemilik Kesejatian, tentu semau-mau Dia. Kita tidak bisa ngarani atau memilih standar balasan, sekalipun kita membawa segala kebaikan yang bisa kita sombongkan.

Kita hanya bisa ridho serta ikhlas terhadap segala perintah ataupun kehendak-Nya atas segala saham yang Dia miliki terhadap diri kita. Segala permohonan maaf hanya akan berlaku sebagaimana ketulusan dan kejujuran hati. Bahkan kalau dipikir-pikir kembali, kita bisa mudik kapan saja tidak harus menunggu momentum Idul Fitri.

Zaman dahulu, segala tradisi budaya dan mentalitas keluarga tradisional memiliki salah satu pantangan terbesar, yakni mencari status, jabatan, eksistensi, dan segala teman sepermainannya. Karena yang harus diutamakan adalah kebermanfaatan. Akan tetapi dalam keadaan zaman now, status seolah menjadi sebuah tuntutan yang harus segera ditayangkan. Atau kalau bisa disusun timeline-nya, agar tidak ketinggalan jadwal tayangnya.

Oleh sebab itu, kalau benar-benar kebermanfaatan, akan kemanakah rancangan timeline langkah ini akan diteguhkan utamanya setelah suasana fitri. Kita mungkin bisa sedikit memulai dengan menimbang kembali, bahwa pertama langkah ini akan berjalan karena Allah; kedua, segala langkah untuk Allah; atau ketiga segala bentuk langkah merupakan langkah Allah itu sendiri?

Lainnya