Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah 29 Maret 2021

Menyelami “Majma’al Bahrain” Bersama Mbah Nun

Foto: Adin (Dok. Progress).

Senin pagi (29/3) telah berlangsung acara Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah Jati-Bali gelombang kedua yang dilaksanakan di Pendopo Pondok Pesantren Dipo Kerti, Jetis, Ponorogo. 

Sekadar informasi bahwa hari sebelumnya, Simpul Maiyah yang berkumpul di Sidoarjo adalah perwakilan Simpul Maiyah yang aksesnya masih terjangkau lokasinya dengan Sidoarjo. Begitu juga pada acara hari Senin kemarin, pertemuan dihadiri perwakilan simpul terdekat dan terjangkau aksesnya ke Ponorogo.

Simpul-simpul yang hadir dalam acara silaturahmi di Ponorogo ini antara lain: Majelis Maiyah Balitar (Blitar), Segi Wilasa Agung (Tulungagung), Sanggar Kadirian (Kediri),Tasawuf Cinta (Nganjuk) serta Waro’ Kaprawiran (Ponorogo, Ngawi, Madiun dan Magetan).

Simpul Maiyah Waro’ Kaprawiran menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Silaturahmi di Ponorogo ini. Mereka berkumpul dan mempersiapkan acara sejak malam hari hingga menjelang  pagi acara dimulai. Teman-teman bekerja sama memasang backdrop, masang level panggung yang rendah dan setting tempat duduk peserta dibuat berjarak dan wajib bermasker. Sebelum memasuki area acara, seluruh peserta pun dicek suhu tubuh dan juga diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu.

Menjelang pukul 9 pagi acara pun dimulai dengan sesi sharing dan sesambatan para penggiat Simpul Maiyah. Para penggiat berbagi cerita bagaimana setahun terakhir mengkreatifi situasi untuk terus bertahan hidul. Mas Fahmi Agustian sebagai perwakilan Koordinator Simpul membuka acara dengan mengajak kita menyadari bersama, bahwa yang ingin kita capai di Maiyah bukan identitas, melainkan setiap individu dapat menularkan nilai-nilai hidup di sekitar kita. Simpul Maiyah harus mulai merintis sinergi aktualitas para penggiatnya, jangan hanya berkutat pada ruang majelis ilmu semata. Sudah saatnya penggiat Simpul Maiyah memberi bukti bahwa nilai-nilai Maiyah bukan hanya sebatas ilmu dan wacana saja, melainkan sebuah nilai yang sangat mungkin diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Satu tahun pandemi, alhamdulillah kita sudah membuktikan diri survive. Setidaknya, sampai hari ini kita masih diberi anugerah untuk masih menghirup napas, bahwa ada yang mengalami masalah finansial, rasa-rasanya bukankah hampir semua kita memang merasakan dampak yang cukup signigfikan dalam persoalan ini?

Foto: Adin (Dok. Progress).

Mas Fahmi menambahkan, bahwa yang perlu kita garis bawahi atas terselenggaranya Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah Jati-Bali, untuk merespons rasa kangen Mbah Nun kepada kita semua. Karena memang Mbah Nun sendiri yang meminta kepada Progress Management untuk disusunkan sebuah konsep acara untuk nyambangi Simpul Maiyah. Tentu tidak mungkin Mbah Nun nyambangi satu per satu setiap Simpul Maiyah, maka disusun konsep per Region seperti yang terselenggara di Sidoarjo dan Ponorogo ini. Progress Management kemudian berkoordinasi dengan Koordinator Simpul Maiyah untuk menyusun konsep detail pertemuan penggiat Simpul Maiyah ini.

Setelah acara di Sidoarjo sehari sebelumnya, Mbah Nun dan rombongan Progress beserta Koordinator Simpul menuju Menturo, karena memang di malam harinya sudah terjadwal Padhangmbulan. Tentu saja, kehadiran Mbah Nun di Padhangmbulan edisi Maret 2021 pun menjadi obat rindu tersendiri bagi Jamaah Maiyah di Padhangmbulan.

Mas Helmi kemudian menambahkan, selama pandemi untuk mengisi jarak dan mengobati rasa kangen Jamaah Maiyah kepada Mbah Nun, beliau menulis Rubrik Kebon dan rekaman video Akik Maiyah melalui channel Youtube caknun.com.

Menjelang pukul 11 siang, Mbah Nun sampai di lokasi, yang kemudian spontan disambut dengan sholawat Nariyah oleh Ustadz Arif. Di awal, Mbah Nun menyampaikan rasa syukur dan kegembiraan setelah menghadiri acara Silaturahmi Penggiat Simpul di Sidoarjo kemarin dan hari ini di Ponorogo. Dia pertemuan ini benar-benar mengobati kerinduan Mbah Nun untuk bertatap muka dengan penggiat Simpul Maiyah, lebih-lebih lagi tentu saja kerinduan teman-teman penggiat Simpul Maiyah, dapat bertemu dengan Mbah Nun dalam suasana yang sangat intim.

Berangkat dari cara pandang nilai dari khasanah Rasulullah yang mempunyai misi menghapus ashobiyah, kesukuan menjadi rahmatan lil’alamin. Sebab tanda orang pintar kalau menurut Mbah Nun, mengolah sesuatu yang sulit itu menjadi mudah. 

“Sebab aku sedih lek awakmu nelongso. saya pikir ini level langkahnya masih survivalisme, ternyata sudah revivalisme. Jadi grafik imanmu meningkat. Intelektualitasmu meningkat. Dan juga kejelihan analisismu terhadap adegan-adegan kehidupan juga meningkat,” ungkap Mbah Nun setelah mendengarkan beberapa penggiat yang menceritakan beberapa hal yang sudah dilakukan selama masa pandemi setahun terakhir ini.

Berikutnya Mbah Nun berbagi tentang kecerdasan pascamodern. Mbah Nun menyampaikan bahwa rumus orang modern itu semakin banyak harta atau modal itu berarti semakin makmur. Sementara menurut kita di Maiyah tidaklah demikian. Sebab makmur atau tidak makmur itu tergantung cara kita menyikapi dan menempatkannya. Gampangannya gula manis atau tidaknya itu tergantung lidah kita. Jika lidah kita setiap hari kebanyakan virus, semanis apapun malah bisa terasa asin atau pahit.

“Jadi urusannya tidak pada objektivitas materi, melainkan pada manajemen rohani,” tambah Mbah Nun.

Ada yang menarik dari cara pandang Mbah Nun terhadap pencapaian peradaban Jawa, yang disebut Antropologi Jawa. Jadi kita secara antropologi terdidik oleh zaman, perubahan-perubahan, proses peradaban yang dialami dari mbah-mbah sampai kita, yaitu pinter nyukuri, pintar bersyukur. Itulah orang Jawa.

Salah satu sikap tasamuh dari salah satu penggiat dari Blitar yang memilih berhenti bekerja untuk menemani teman-temanya yang diberhentikan dari tempatnya bekerja, karena terkena dampak pandemi. Sikap itu menurut Mbah Nun suatu bentuk kemuliaan dan tinggi tingkat kepercayaannya terhadap rezeki Allah. Bagi wacana mainstream, tentu keputusan itu dianggap keputusan yang bodoh, jelas-jelas sekarang itu situasi yang susah untuk mencari nafkah kok malah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang memberikan penghasilan tetap.

Foto: Adin (Dok. Progress).

Setelah menyimak cerita dari penggiat, Mbah Nun menyimpulkan bahwa teman-teman ini sudah berada pada posisi shirotol mustaqim. Kalau memakai terminologi Nabi Musa itu namanya Majma’al Bahrain. Ceritanya ajudan ditanya oleh Nabi Musa, “Saya lapar, saya mau makan ikannya?” Sang ajudan menjawab bahwa dirinya lupa memberitahu Nabi Musa bahwa ikannya melompat ke laut. Menurut sang ajudan ikannya tadi melompat tepat ketika berada di Majma’al Bahrain. Bertemunya dua arus air laut, arus air asin bertemu dengan arus air tawar. Di garis pertemuan kedua arus itu, ikannya melompat dari toples.

Hikmah ilmunya adalah dalam keadaan terjepit itu yang mati bisa tambah hidup. Artinya pikiran kita malah lebih hidup, kecerdasan kita malah lebih tinggi, kepekaan kita bisa lebih jeli, dst. 

“Jadi justru rezeki itu terletak pada keterpepetan. Kalau dalam kelapangan mungkin tidak sebesar itu rezekinya. Mungkin karena kita dalam keadaan kepepet itu akhirnya pintar caranya memperlakukan dan menyikapi jumlah uang pendapatan kita. Itu yang disebut Majma’al Bahrain,” kesimpulan Mbah Nun.

Ponorogo-Surabaya 29 Maret 2021

Lainnya