Menyelami Hulu Hilir Shalawat

Gondelan Syafaat Kanjeng Nabi, Rumah Maiyah Kadipiro, 18 November 2021

Sehari usai Mocopat Syafaat, Rumah Maiyah Kadipiro kembali mengadakan acara. Pada Kamis malam (18/11), meneruskan kerjasama sebelumnya yang menghadirkan acara Menjelang Senja pada bulan Ramadhan lalu, kini Perusahaan SUKUN Kudus menyelenggarakan lagi sinau bareng. Acara berdurasi satu jam ini ditayang secara livestreaming di channel Youtube CakNun.com, Murianews, dan Zonahijau. Nama Sinau Bareng ini adalah Gondelan Syafaat Kanjeng Nabi Bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Istilah “gondelan syafaat” atau “gondelan klambine” Kanjeng Nabi sering diwedar tapi makin menunjukkan betapa pentingnya itu. Kesadaran “gondelan” kepada syafaat Rasulullah memperlihatkan terpautnya manusia dengan pedoman hulu dan hilir sejati. “Berjalan ke tujuan itu harus punya peta, pedoman, atau acuan. Maka kita gondelan klambine Kanjeng Nabi,” ujar Cak Nun sembari merespons makna Sidnan Nabi yang ditembangkan KiaiKanjeng sebelumnya.

Beliau menambahkan, “gondelan” yang dimaksudkan itu bukan dalam pengertian fisik melainkan rohaniah: syafaat. Menurutnya, syafaat bisa dimengerti dalam istilah modern sebagai hak prerogatif Tuhan. Berlomba mencari syafaat Rasulullah dapat ditempuh dengan berbagai cara. Keseluruhan pendekatan yang dilalui setidaknya memuat rasa cinta, puji-pujian, bahkan meneladani sikap kekasih Allah itu.

“Paling penting ya membawa jiwa Muhammad ke dalam diri kita. Sebab Allah sendiri berjanji dua pasal di Al-Qur’an bahwa tidak akan mengazab suatu kelompok orang kalau mereka bersama Muhammad Saw. Bersama Muhammad Saw kita tempuh dengan shalawat. Baru yang kedua berikutnya adalah istighfar,” ungkap Cak Nun.

Ikut Kanjeng Nabi, jelasnya lebih lanjut, tak eksplisit bagi kaum Islam tapi manusia keseluruhan. Bersama Rasulullah dalam cakupan tersebut tak terbatas pada administrasi agama.

Menjadi pengikut Kanjeng Nabi dirumuskan di Maiyah dengan analogi Segitiga Cinta. Gambaran visual ini diterapkan sebagai sebuah solusi untuk mengatasi segala persoalan. Berbeda dengan Solusi Bulatan yang hanya menempatkan Tuhan sebagai sampingan, sekunder, serta pelengkap penderita. Solusi Segitiga Cinta menegaskan Tuhan sebagai faktor primer bersama Kanjeng Nabi dalam mengupayakan solusi atas berbagai masalah.

Muhammad di situ dipandang dari dua sisi. Muhammad bin Abdullah dan Nur Muhammad. Sementara Nur Muhammad ini merupakan musabab awal penciptaan alam serta seisinya. “Allah menyatakan kalau tidak karena Nur Muhammad Aku tidak akan menciptakan ini semua,” ungkap Cak Nun mengutip salah satu hadis yang disisipkan pada lagu Rindu Wajahmu Wahai Muhammad.

Pada lingkup inilah mengharap syafaat Kanjeng Nabi mendapatkan titik signifikansinya. Sebab Nur Muhammad adalah genesis terciptanya peradaban. Sementara Tuhan merupakan causa prima, faktor utama tanpa diawali faktor lain.

Pada penghujung acara, Cak Nun secara spontan menyodorkan pertanyaan kritis. “Apakah syafaat ini berlaku untuk individu atau berlaku secara komunal. Entah ormas, lembaga, perusahaan, dan lain lain. Sehingga berlaku komunal,” ucapnya. Menurut Cak Nun, syafaat dapat berlaku salah satu atau keduanya sekaligus. Sebab syafaat berurusan dengan penerapan nilai. “Bisa pula dari yang individual itu lalu berimbas pada yang komunal,” imbuhnya.

Ibarat bonus, syafaat bernilai kemurahan ridha Tuhan. Selama “gondelan klambine Kanjeng Nabi” maka keridhaan itu terus mengalir. Tak hanya berlaku di akhirat tapi juga dunia sekarang. Syafaat melampaui ilusi ruang dan waktu.

Lainnya