Menyambut Mushaf Padhangmbulan

Sebuah Tonggak Perjalanan

Hari ini, Rabu 7 Juli 2021, kita semua menyambut terbitnya Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padhangmbulan dan bersama-sama mengikuti launching-nya melalui channel youtube caknun.com. Walaupun berkejaran dengan suasana pandemi yang belum surut, bahkan belakangan mengalami lonjakan, berbagai sektor kehidupan tetap  berjalan, sekalipun dengan penyesuaian dan pembatasan-pembatasan.

Kita juga turut prihatin dan berduka di tengah suasana lelayu orang-orang tercinta  di sekitar kita. Namun hal itu bukan alasan untuk putus asa dari rahmat Allah. Kita bahkan meyakini pertolongan Allah datang dari arah yang tidak kita sangka. Spirit dan kewaspadaan ini perlu ditegakkan agar kita tidak terombang-ambing di tengah badai ketidakpastian. Tegaknya spirit ini ditandai oleh kesadaran bahwa Allah dan Rasulullah bersama kita.

Terkait terbitnya Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan kita barangkali bisa mencatat satu hal. Yakni tonggak waktu yang berkaitan dengan terminologi Maiyah dan Tadabbur. Keduanya pada momen yang spesial: awal Milenium ketiga dan Awal Abad ke-21 serta awal dekade ketiga Abad-21. Seakan kita dituntun memasuki kurun waktu baru itu dengan kesadaran-kesadaran baru.

Ya, memasuki awal abad ke-21 sekaligus awal milenium ketiga tepatnya pada tahun 2001, sebuah kesadaran dan spirit  tercetus dalam perjalanan panjang Cak Nun dan KiaiKanjeng. Sebuah kata baru mulai melekat dalam gerak Cak Nun dan KiaiKanjeng sejak saat itu: Maiyah, yang secara harfiah berarti kebersamaan.

Jika dicerminkan ke belakang, sejatinya Maiyah meringkas dan meneguhkan hakikat kegiatan sosial yang telah dilakukan oleh keluarga besar Ayahanda Muhammad Latief dan Ibunda Halimah. Di antaranya, Pengajian Padhangmbulan yang telah berlangsung sejak 1992 dan menjadi embrio bagi forum-forum pengajian, seperti Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbang Wetan, dan lain-lainnya yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia maupun dunia.

Seluruh forum pengajian itu dapat dikatakan sebagai bentuk ajakan kebersamaan kepada siapa saja yang datang untuk bersama-sama belajar. Sebagai contoh, sejak awal, Padhangmbulan, melalui Cak Fuad dan Cak Nun sebagai pengurai utama, mengajak jamaah untuk bersama-sama belajar memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Padhangmbulan memandu jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai cara pandang dalam melihat kehidupan umat manusia, khususnya pada isu-isu aktual, dan dengan demikian membawa jamaah untuk senantiasa lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Demikianlah dengan kesungguhan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, sumber informasi, dan cara pandang, Padhangmbulan dikenal secara ikonik sebagai pengajian yang memberangkatkan semua bahasannya dari ayat-ayat Al-Qur’an. Cak Fuad sebagai pengurai tafsir tekstual, merujuk referensial pada kitab-kitab tafsir al-Qur’an dan Cak Nun sebagai pengurai tafsir kontekstual, memahami situasi-situasi sosial-politik dan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Bertahun-tahun Padhangmbulan istiqamah bukan saja keberlangsungannya, melainkan terutama istiqamah pula dalam kesetiaannya kepada Al-Qur’an. Setiap Padhangmbulan selalu Al-Qur’an yang dibawakan oleh Cak Fuad dan Cak Nun. Memasuki dekade ketiga abad ke-21 ini, pendekapan batiniah  Padhangmbulan kepada Al-Qur’an lebih dalam lagi meneguhkan satu prinsip interaksi dan pemahaman terhadap Al-Qur’an melalui sikap yang disebut tadabbur.

Sebagaimana diterangkan Cak Fuad dan Cak Nun dalam banyak kesempatan, tadabbur mengingatkan kepada jamaah bahwa yang terutama hendak dicapai dari upaya pemahaman kita terhadap Al-Qur’an adalah bagaimana kita tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an, bagaimana kita dibuat merenung dan bertanya ke dalam diri, untuk kemudian kita mau mengamalkan kebaikan-kebaikan, atau memperbaiki diri. Melalui prinsip seperti itu Tadabbur mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai transformator akhlakul karimah.

Dan di antara momen penting kesadaran Tadabbur ini adalah terbitnya Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan yang diinisiatifi oleh Cak Fuad dan Cak Nun. Penerbitan mushaf ini memberi kesempatan kepada kita untuk selalu lebih dekat kepada Al-Qur’an, mau membacanya, menyelami makna ayat-ayatnya, bahkan pun sekadar selalu senang hati memandang Al-Qur’an, termasuk juga mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam kaitannya dengan pengajian Padhangmbulan, terbitnya Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan adalah satu tonggak terkini dalam perjalanan panjang Padhangmbulan sebagai majelis ilmu Al-Qur’an yang Allah berkenan mengantarkan jamaah Padhangmbulan memasuki satu tahap rohaniah ilmu menyangkut Al-Qur’an, yakni tadabbur Al-Qur’an.

Dalam perspektif Maiyah (yang berarti kebersamaan) , terbitnya Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan menegaskan bahwa di dalam kebersamaan hamba dengan Allah Swt., Rasululllah Muhammad Saw., dan sesama makhluk Allah, kita dipandu oleh Al-Qur’an, dan keterpanduan itu akan berlangsung manakala kita dekat dengan Al-Qur’an, manakala kita mau mentadabburi Al-Qur’an, manakala kita mau berkebersamaan dengan Al-Qur’an sehingga Allah Swt berkenan menurunkan hidayah-Nya, juga rahmat-Nya kepada kita.

Spesial juga bahwa hari ini, 7 Juli 2021, Cak Fuad berulang tahun ke-74. Selamat ulang tahun, Cak Fuad. Terima kasih atas semua ilmu yang dibagikan kepada kami semua.

Lainnya