Kebon (198)

Menuju Kosmologi Ilmu dan Kosmologi Iman

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Salah satu kunci hidup mashlahat manusia adalah ketelitian, kecerdasan, dan kesigapan untuk menghindari rasa pinter, rasa alim, rasa saleh, rasa sakti.  Tidak secuil bagian dari ke dalam jiwa saya maupun ekspresi wajah dan semua perilaku saya, yang tidak setengah mati saya hindarkan. Dari kemungkinan rasa-rasa GR seperti itu.

Saya melindungi dan menyimpan aib seorang tokoh nasional yang fotonya sedang memangku seorang perempuan dan yang di kamarnya di sebuah Hotel Jl Raden Saleh Jakarta saya jumpai sejumlah benda laki-perempuan yang sengaja tidak dibenahi oleh manajer hotelnya. Saya merahasiakan tokoh nasional lainnya yang punya anak di Cilegon, punya istri gelap di Kelapa Gading dan punya pacar di Radio Dalem. Juga tokoh lain lagi yang menunda pengajian di daerah sampai lebih 8 jam karena putar balik menemui simpanannya di Surabaya. Atau menyurusi desa-desa dan mengambil wanita dipertukarkan dengan memberi Vespa kepada orangtuanya. Istri ketiga seorang ketua organisasi besar nasional mendatangi saya untuk mengeluh dan siap-siap suatu saat ditadahi. Saya mengauratkan sangat banyak fakta-fakta kemudlaratan nasional yang kalau diungkapkan, bisa memecah kepala ummat dan menghancurkan dada rakyat dan masyarakat.

Berpuluh-puluh tahun menyebarkan Maiyah, Al-Mutahabbina Fillah, di-support Sabrang dengan Paseduluran Tanpa Tepi dan menemani masyarakat untuk ketenangan hidup mereka. Tetapi balasan yang diberikan oleh sebagian manusia adalah saya dikanibali dan ditimpai mudlarat-mudlarat tanpa habis-habisnya.

Untung saya hanya seorang awam. Orang biasa yang tidak pinter dan tidak sakti. Bukan wali, bukan kiai langitan atau ulama angkasa. Riwayat sekolah dan pendidikan saya buram dan terbengkalai, sehingga saya tidak memanggul tanggung jawab tentang ilmu dan pengetahuan. Semua tulisan Kebon ini sekadar setahu-tahu saya, tapi sejatinya saya sama sekali tidak tahu. Sebanyak-banyak hal yang saya tahu, jauh lebih banyak hal lagi yang saya tidak tahu. Bahkan muatan utama dari pengetahuan adalah ketidaktahuan.

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.

Saya pernah mondok tapi diusir. Saya belajar kimia dan biologi dengan nilai rapor 3 sd 4 dan sesudah SMA baru mengerti apa itu valensi, apa beda antara kimia organik dan anorganik. Saya sungguh pekok, mendo bahkan menyun.

Saya tahu atau mengerti tempe, tapi sangat banyak hal tentang tempe dan seputar tempe yang saya sebenarnya tidak tahu. Misalnya pengetahuan teknis saja: tanggal berapa bulan apa tahun berapa tempe ditemukan dulu. Siapa inovatornya. Berapa juta orang yang pernah makan dan menikmati tempe, dan di antara mereka berapa jumlahnya yang pernah ingat tentang asal-usul dan penemu tempe. Jangankan lagi jumlah orang yang mensyukuri adanya tempe dalam sejarah peradaban manusia, yang misalnya mengalfatihahi penemu tempe, yang di dalam hatinya mengucapkan terima kasih kepada yang dulu berjuang sampai lahir ide dan wujud tempe.

Apalagi kalau dikembarai lebih jauh ke belakang dan mempetualanginya sampai ke keluasan. Kalau tempe terbuat dari biji kedelai, jika dihitung dari hari ini: berapa puluh atau ratus abad yang lalu tanaman kedelai pertama-tama ada di bumi. Lebih ke belakang lagi, karena kedelai adalah ide dan ciptaan Tuhan: duluan mana Tuhan melahirkan gagasan kedelai ataukah padi ataukah rawé atau ciplukan. Biji tanaman apa yang paling awal ditanam oleh salah satu Malaikat atas perintah Tuhan di tanah bumi ini. Apakah ada kedelai dan tetumbuhan lain di salah satu bagian planet dari galaksi entah yang mana yang juga ada kedelainya.

Kalau simulasi itu diteruskan, masih ada beribu-ribu, mungkin berjuta-juta, atau malahan tak terhingga jumlah pertanyaan-pertanyaan yang saya sama sekali tidak punya jawabannya. Hidup adalah tumpukan ketidaktahuan. Dan kita tertimbun di bawahnya, ketelingsut di tengah pemetaannya tanpa tahu apa-apa. Jangankan lagi kalau napak tilas proses penciptaan oleh Allah, rute yang panjangnya tak terhingga dari Nur Muhammad mentransformasi menjadi jagat raya, kemudian mendetail jadi miliaran galaksi, triliunan tata surya, dan tak terhingga planet-planet yang kita tercampak di satu debu kecil yang bernama Bumi.

Giliran penciptaan dari benda atau materi. Menuju benda yang tumbuh yakni tetanaman atau pepohonan. Kemudian benda yang tumbuh dan bergerak, yakni bermacam-macam hewan yang pengetahuan manusia tidak akan pernah tahu persis jumlahnya. Apalagi kalau ditambah bakteri dan virus-virus. Kemudian berikutnya benda yang tumbuh, bergerak, punya darah daging dan otak yang berfungsi sebagai akal serta hati yang bekerja sebagai subjek cinta.

Andaikan ayat ini tidak difirmankan oleh Allah sebagai “main resources” yang diperlukan oleh manusia untuk “enrooting” ke lubuk kedunguannya, saya optimis bisa tahu dan menyadari bahwa pengetahuan saya lebih kecil dari seserbuk debu di tengah padang pasir, atau setetes air dari lautan luas tak terbatas ilmu Allah.

Untung Allah memfirmankan bahwa “roh” itu “min amri Rabbi”. Sedangkan tempe pun saya tidak benar-benar tahu. Sedangkan tanaman di sawah dan hutan serta kandungan kekayaan di tambang-tambang membuat manusia bertengkar tak habis-habisnya. Sedangkan sumber minyak menyebabkan Perang Dunia dan panas pengap hubungan internasional antar kelompok-kelompok manusia dalam bingkai negara-negara.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ
وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kalian ini fakir di hadapan Allah. Dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Pantas manusia bertengkar terus, berebut dunia tanpa henti, permusuhannya tumpah ruah memenuhi sejarah, bersaing berebut berperang dengan sangat mudah menemukan sebab musabab dan motivasinya. Lha memang mentalnya mental miskin, hatinya rakus dunia, pikirannya terserap oleh obsesi-obsesi keduniawian dan ambisi-ambisi kesia-siaan.

Maka saya memilih bergabung saja dengan Allah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji. Saya tidak mandiri. Bagaimana mungkin bisa mandiri. Saya tidak kuasa mendetakkan jantung saya sendiri, tidak mampu menumbuhkan helai rambut saya sendiri. Jangankan menjaga nyawa, hidup, dan mati saya.

Maka saya nyatakan saya tidak bergabung pada kelompok orang-orang yang berpengetahuan dan pakar ilmu. Saya bukan bagian dari para pembelajar dan schoolars. Saya bukan cendekiawan atau ilmuwan. Yang saya tulis ini, saya ulang lagi: adalah himpunan ketidaktahuan. Kalau saya bercerita tentang proses sosial budaya Dipowinatan hingga KiaiKanjeng dan Maiyah, yang saya andalkan adalah otentisitas pengalaman saya, tapi bukan pengetahuan dan ilmu. Kalau ada kisah tentang KiaiKanjeng mengusir hantu di Canberra, Roma, London dll, itu semua semata-mata adalah kisah tentang ketidaktahuan.

Maka kalau tema Tuyul-tuyul nanti reda, kita perlu memastikan penguasaan kita terhadap perbedaan antara Kosmologi Ilmu dengan Kosmologi Iman.

Lainnya