MenSen Sinau Protokol Keafiatan

Dok Progress.

Iringan gamelan KiaiKanjeng rancak mengorkestrasikan shalawat Annabi Shollu Alaih. Nuansa musik klasik berbaur erat dengan anasir etnis iringan pukulan bonang. Bebunyian bertalun merdu mengalun menyuguhkan acara Menjelang Senja (MenSen) Selasa sore (27/04).

Genre musikal ala Barat maupun Timur seakan tak lagi penting garis batasnya. Suguhan mewah ini diudarakan langsung melalui kanal YouTube CakNun.com, KiaiKanjeng, PR Sukun, dan Murianews TV.

Mas Jijid, Mas Patub, dan Mas Doni memandu acara dengan sodoran pertanyaan menarik. Musik tadi unsurnya lengkap. Eropa ada. Nusantara apalagi. KiaiKanjeng sudah membawanya ke pelosok negeri mana pun dengan shalawat sebagai ikon utamanya. “Itu tadi shalawat yang menceritakan soal apa, Mas?” tanya Mas Jijid kepada Mas Islamianto.

Vokalis khusus pepujian kepada Kanjeng Nabi ini menimpali pokok intinya. “Yang pertama itu tadi bershalawat kepada Rasulullah dan bertujuan agar semoga barokah e tansah diparingake karo awake dewe,” ucapnya. Cak Nun pun membeberkan keterangan lanjutan. Tiap kata dalam shalawat Annabi Shollu Alaih menyiratkan pesan literal khusus.

Annabi shollu alaih, sholawatullohi’alaih
Wayana lulbarokat, kuluman sholu’alaih.
Anabi yaa hadirin, I’lamu’ilmal yaqin
Annarobbal’alamin,farodosholawati’alaih.

Dialah Sang Nabi, Maka bershalawatlah kepadanya. Shalawat Allah semoga tercurahkan kepadanya

Dan setiap orang yang bershalawat kepadanya akan memperoleh keberkatan

Wahai yang hadir bahwa dialah sang Nabi, ketahuilah dengan ilmulyaqin.

Lebih lanjut, Cak Nun menggali sekaligus menekankan pentingnya protokol keafiatan di samping protokol kesehatan. Menurutnya, kondisi pandemi kebanyakan orang mengabaikan esensi afiat yang acap diperjodohkan dengan kata sehat. Sehat wa al afiat seolah sekadar ungkapan klise dalam sebuah percakapan, padahal frasa tersebut memiliki khazanah makna tersendiri.

“Kalau sehat itu hanyalah badanmu, sedangkan afiat lebih dari itu. Dia itu seluruh hidupmu,” tutur Cak Nun. Sehat, lanjutnya, cenderung merupakan dimensi wadak (jasmani), sementara afiat meliputi kuasa Tuhan, Rasulullah, shalawatan, dan lain sebagainya. Cak Nun berpendapat Maiyah praktis menyandingkan protokol kesehatan dan protokol keafiatan. Keutuhan tersebut penting diejawantahkan sebab, “Kita tidak hanya pakai ilmu tapi juga pakai iman.”

Seperti episode sebelumnya, Menjelang Senja bukan hanya menyinggung topik puasa berikut keutamaan di dalamnya. Melainkan juga menggali kearifan di balik lagu KiaiKanjeng beserta peristiwa historis macam apa yang melatarbelakanginya.

Lagu berikutnya masih segendang dan sepenarian dengan penghormatan kepada Rasulullah. Lagu itu bertajuk Rindu Wajahmu.

Mendiang Pak Ismarwanto yang menciptakan atau mengaransir lagu tersebut. Namun, sebelum sekarang didendangkan Mas Imam Fatawi, lagu ini dahulu kerap dinyanyikan oleh almarhum Mas Zainul. Cak Nun sendiri menyatakan “mu” di situ merujuk pada sosok Kanjeng Nabi.

Keseluruhan isi liriknya memang sebentuk ungkapan mesra dan kangen hamba kepada sang kekasih Allah itu. “Kalau tidak karena engkau Muhammad, Aku tidak akan menciptakan jagat alam semesta ini,” nukil Cak Nun dari sebuah hadits qudsi. Kutipan itu menunjukkan betapa privat dan khidmat posisi Kanjeng Nabi di hadapan Tuhan.

Meneladani Rasulullah, imbuh Cak Nun, sesungguhnya sudah cukup sebagai bekal menjalani kehidupan fana ini. Beliau mewedarkan pelajaran penting di balik “manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara”.

Dok Progress.

Pertama, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Kedua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Ketiga masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Keempat, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Kelima, hidupmu sebelum datang matimu.

“Saya menyebutnya Rasulullah itu sarjana paling utama. Beliau sangat jenius dan IQ-nya tidak tertandingi. Kalau bikin hadis sudah dirumuskan jelas,” ujarnya. Cak Nun mengkritik praktik beragama kebanyakan orang sekarang yang jauh dari keluasan dan keluwesan ajaran Kanjeng Nabi.

Menurutnya, orang sekarang terlalu terjebak pada halal dan haram. Berbeda kontras dengan kearifan Rasulullah di zamannya. “Karena kita sekarang ngertinya boleh dan dilarang. Kalau konsep Nabi jelas. Ada wajib dan haram. Dan di tengahnya ada sunnah, mubah, dan makruh.”

Praktik beragama di masa sekarang, sambung Cak Nun, malah lebih menimbulkan pertengkaran. Tidak menjadi berkah, namun alat menindas orang lain.

Salah-kaprah ini salah satunya ditandai oleh penggunaan istilah. Cak Nun mencontohkan kata hijab dan jilbab yang keliru dipahami. Penyebutan penutup kepala bagi kaum Hawa sering disebut hijab padahal kata ini bermakna luas. Apa pun yang menutupi disebut sebagai hijab.

“Orang tidak memahami nahwu shorof. Itu pun dicampur bahasa Inggris malah menjadi hijaber. Padahal celana sendiri kalau laki-laki bernama hajib dan hajibah untuk perempuan,” tegasnya.

Menjelang Senja kali ini lebih banyak mengevaluasi hal sederhana yang acap dilewatkan begitu saja tapi begitu krusial sebagai bahan perenungan. Cak Nun mengajak audiens untuk kritis dan reflektif terhadap kejadian yang berlangsung di sekitarnya.

Lainnya