Menjemput Takdir

Image by Sasin Tipchai from Pixabay

Kamis sore minggu lalu tim kesebelasan saya (Kosong Lima FC) akan melakoni laga persahabatan melawan tim tuan rumah Bintang FC. Cuaca mendung menyambut kedatangan kami di stadion mini Kridanggo. Tempat di mana pertandingan akan digelar. Seberes kedua tim menjalani latihan ringan, tepat pukul 16.15 WIB sang pengadil meniup peluit tanda di mulainya pertandingan.

Laga baru berjalan 7 menit, tim tuan rumah unggul 1-0 lewat sontekan striker gaek bernomor punggung 10. Dengan cerdik ia memanfaatkan true pass dari sang gelandang energik yang sekaligus kapten tim Bintang FC. Tak butuh waktu lama, selang 5 menit tim tuan rumah kembali unggul. Kali ini gol dicetak oleh pemain sayap kanan mereka. Dengan lincah ia berhasil melewati hadangan 3 pemain belakang. Tanpa ampun ia menceploskan si kulit bundar ke pojok kanan gawang. 2-0 untuk tim tuan rumah.

Dua gol dalam tempo cepat membuat mental saya dan teman-teman sedikit drop. Kesalahan-kesalahan kecil kerap kami lakukan. Salah umpan, kontrol jelek, minim kreasi, bahkan sering melakukan fault (pelanggaran). Praktis tak ada peluang bagus untuk kami mencetak gol balasan. Hingga peluit panjang dibunyikan tanda babak pertama usai, skor 2-0 tetap bertahan.

Kerugian kian bertambah lantaran stok pemain cadangan kami terbatas. Sore itu tim kami hanya datang dengan 13 pemain. 11 inti, 2 cadangan. Apa boleh buat, mau tidak mau kami harus bekerja ekstra. Kondisi demikian tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi musuh kami.

Awan hitam berarak pekat. Baru 5 menit babak kedua bergulir, bulir-bulir hujan turun. Pelan, sedang, deras kemudian. Air hujan yang menghujam badan tak sedikit pun menciutkan nyali kami. Kami menikmatinya. Kami mensyukurinya.

Posisi kami semakin terpuruk usai sang kapten Bintang FC mencatatkan gol ke-3. Tendangan volinya berhasil mengelabui kiper kami. Ia (kiper) salah langkah. Kedua tangannya tak kuasa menjangkau bola yang melambung di atas kepalanya. Kami tertinggal 3 gol.

Sepuluh menit menjelang usai laga, hujan kian menggila. Kami bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Seolah tak ada lagi kesempatan bagi kami untuk mengejar ketertinggalan. Tim tuan rumah sudah di atas angin.

Asa itu kembali ada saat tim kami mendapatkan sepak pojok. Sial, percobaan pertama gagal. Bola sepakan keras gelandang kami berhasil ditepis oleh kiper jangkung Bintang FC. Sepak pojok kedua bagi kami. Dan saat itulah detik-detik gol “hiburan” terjadi.

Sesaat sebelum sepak pojok dilakukan, saya (yang berposisi sebagai second striker) melihat sedikit celah kosong di mulut gawang (insting). Seketika itu juga saya mengisi area kosong tersebut. Tanpa pengawalan, tanpa ada satu pemain lawan yang memperhatikan gerak-gerik saya. Saya berdiri bebas di posisi yang tepat untuk mencetak gol (positioning).

Dalam hitungan detik, bola hasil sepakan pojok meluncur deras ke arah bibir gawang. Tanpa mengenai satu pemain pun. Bola liar tersebut melengkung mengarah ke posisi saya berdiri bebas untuk menyambutnya. Kesempatan emas itu datang (momentum). Tendangan first time kaki kanan saya mengkonversinya menjadi gol. Dan itulah satu-satunya gol balasan yang tercipta. Sebiji gol hiburan yang menutup laga sore itu dengan skor akhir 3-1.

Dari peristiwa terjadinya gol balasan tersebut, kita bisa belajar menganalisis. Bahwa sebuah gol tercipta melalui mekanisme proses demi proses sebelumnya. Step by step. Dalam kasus gol first time di atas, saya menemukan rangkaian proses yang berurutan hingga akhirnya gol tercipta. Yakni instingpositioning — momentum.

Insting adalah kepekaan/kejelian melihat celah kosong di area gawang lawan. Positioning adalah penempatan diri di posisi yang tepat (ruang kosong) untuk menunggu aliran bola. Sedangkan momentum adalah ketika bola itu datang menghampiri, kita siap mengeksekusi. Insting, positioning, momentum adalah sebab. Dan gol adalah akibat. Dengan kata lain insting + positioning + momentum = gol.

Pertanyaannya, apakah gol itu takdir? Menurut saya iya. Seturut dengan perspektif Mbah Nun bahwa, “posisi takdir sebetulnya merupakan negosiasi takdir manusia dengan takdir Allah. Sehingga takdir itu tiada lain adalah kerja sama diplomatis manusia dengan Allah.” Artinya, dalam takdir termuat cara-cara, fase, proses, step, langkah, dan upaya-upaya yang ditempuh oleh manusia.

Apakah manusia bisa mengubah takdir? Wallahu a’lam. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah berusaha memproses dan menjemput takdir (gol). Sebab usaha (berupa tindakan, pilihan rasional, doa yang dipanjatkan) itu sendiri bagian dari takdir.

Selama takdir pertandingan (kehidupan) belum rampung, jangan ada kata menyerah. Terus berusahalah meraih gol (tujuan). Pesan Mas Sabrang, “tujuan (gol) itu fanatik, tapi strategi fleksibel.” Teman-teman sepakat?

Wa quli’maluu fa sayarollohu ‘amalakum wa rosuuluhuu wal-mu-minuun, wa saturodduuna ilaa ‘aalimil-ghoibi wasy-syahaadati fa yunabbi-ukum bimaa kuntum ta’maluun.

“Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Gemolong, 7 November 2021

Lainnya