Menjalankan Puasa, Meramadhankan Hidup

Puasa itu berlangsung di setiap diri manusia. Yang melakukan itu mulutnya, perutnya, jasadnya. Tapi dia berlangsung nilainya dalam arus kesadaran manusia, arus rohani manusia, arus cintanya manusia. Di dalam dirinya masing-masing.

Dok. Progress

Bulan suci Ramadhan berada di titimangsa sepuluh hari terakhir. Selasa kemarin (04/05) Menjelang Senja sudah mencapai edisi keenam atau hari ke-22 puasa. Cak Nun mengajak audiens merekapitulasi sejauh mana perjalanan berpuasa menebalkan iman dan takwa kepada Allah. Beliau mengibaratkan puasa sebagai perjalanan manusia menuju Yang Maha.

Ibarat orang menapaki jalan, kehidupan pun tak ubahnya gerak menuju suatu tempat. Momen kesadaran ini, sambung Cak Nun, berpaut erat dengan filosofi hidup niscaya mengalir. Entah bentuk mengalirnya karena berjalan sendiri atau diperjalankan. Keduanya merupakan bentuk perjalanan yang disadari atau tidak tetap akan dilakoni manusia.

“Kadang-kadang kita berjalan sendiri dengan niat panduan shirathal mustaqim dengan sifat rahmatan lil alamin. Dan memang kita kadang-kadang diperjalankan oleh Allah,” ujarnya. Walau manusia tak berniat diperjalankan, Tuhan memiliki otoritas sepenuhnya. Manusia tak memunyai kehendak untuk menampik, bahkan berupaya keluar dari garis kuasa-Nya.

Lebih mendalam, Cak Nun mengelaborasi dimensi perjalanan ini sampai ke masalah rentang hidup dan nyawa manusia. Kelahiran hingga kematian disebutnya sebagai perjalanan. Tak satu pun manusia mampu mengelak takdir ini. Transformasi kehidupan menuju kematian inilah yang jarang dibicarakan orang. 

“Anda lahir itu sebagai bayi kan jasad. Begitu kita mati, maka urusan kita dengan malaikat sudah bukan lagi tanganmu, badanmu, jasadmu, otakmu, hatimu. Sudah bukan entitas yang sama seperti kita di dunia. Jadi, mati itu transformasi jasad menjadi ruh,” imbuh Cak Nun.

Ruh dinilai paling esensial dari kehidupan manusia. Selama ini manusia sekadar mementingkan wadak ketimbang sesuatu yang lebih subtil. Demikian pula puasa. Kendati tetap berkelindan dengan menahan makan dan minum berikut segala sesuatu yang membatalkan, puasa sebetulnya mengasah rohani manusia lebih peka.

“Seperti ketika kita besok ditanya man rabbuka oleh malaikat, maka bukanlah mulut fisik kita yang akan menjawab, tetapi muluh rohaniah kitalah yang berperan,” tutur Cak Nun sembari menegaskan perlunya mengasah aspek rohaniah di bulan Ramadhan.

Cak Nun mengibaratkan bulan Ramadhan sebagai aktivitas lokakarya (workshop) manusia menuju fitri. Ia kemudian menyodorkan pertanyaan lanjutan. Apakah berpuasa berarti melatih jasad atau rohani manusia. Andaikan pertama, maka menurut Cak Nun, Idul Fitri hanyalah riyaya badhokan. Tak lebih dan tak kurang.

Penggalan ayat suci “syahru romadhona nallazi unzila fihil quran” tak luput dibabar Cak Nun. Ayat ini dinukilkan dari Al-Baqarah: 185. Beliau mengajak menganalisis faktor apa saja yang dibicarakan dalam kalam Tuhan itu. Setidaknya didapatkan tiga hal. Qur’an, puasa, dan bulan Ramadhan.

Dok. Progress

“Ramadhan memang bulan diturunkannya Qur’an. Pertanyaannya, apakah setiap Ramadhan berarti diturunkannya Qur’an juga? Kan itu menjadi masalah lain. Itu bisa dijawab dengan mencari lagi. Apakah unzila diturunkannya wahyu Allah itu hanya Qur’an ataukah tiap orang bisa mendapatkan wahyu di bulan Ramadhan asalkan kita berpuasa misalnya,” terangnya.

Lemparan pertanyaan Cak Nun tersebut menggelitik dikaji lebih lanjut. Namun, ia menambahkan satu poin berikutnya. Ketika kemurahan Tuhan di bulan Ramadhan hanya berlaku di zaman Kanjeng Nabi di Gua Hira, berarti ia sekadar bersifat kasuistik yang terikat konteks sejarah Rasulullah. 

“Atau berlaku di semua Ramadhan? Kan ini pertanyaannya. Kita berharap dan bersangka baik. Kok sepertinya tiap Ramadhan Allah itu memberikan kemurahan untuk menurunkan wahyu-Nya,” ungkap Cak Nun.

Sore itu Cak Nun lebih banyak mengajak audiens ikut berpikir sekaligus menapaktilasi ayat Tuhan lewat perspektif sejarah. Begitu luas cakupan dimensi Ramadhan menyadarkan betapa sempitnya waktu untuk mengulas keseluruhan khazanah di dalamnya.

Cak Nun memungkasi helatan Menjelang Senja dengan ungkapan reflektif. Ramadhan tak hanya terletak pada satuan waktu tapi juga terletak dalam kualitas hidup manusia. 

“Puasa itu berlangsung di setiap diri manusia. Yang melakukan itu mulutnya, perutnya, jasadnya. Tapi dia berlangsung nilainya dalam arus kesadaran manusia, arus rohani manusia, arus cintanya manusia di dalam dirinya masing-masing,” tutup Cak Nun.

Lainnya