Pengantar Majelis Ilmu Padhangmbulan Menturo Sumobito Jombang, Rabu 26 Mei 2021

Menjadi Manusia As-Salam dan Al-Mu’min

Padhangmbulan kali ini bertepatan dengan bulan Syawal ketika kaum muslim di Indonesia kerap mengadakan acara halal bi halal, riyayan untuk saling menghaturkan dan menerima maaf. “Wes Rek, kosong-kosong, nol-nol, ” menjadi bahasa budaya untuk saling memaafkan. Seorang teman memilih ungkapan yang lebih praktis: Kami sekeluarga mengucapkan “Sami-sami”.

Kendati Hari Raya kental diwarnai nuansa perayaan, momentum saling memaafkan terasa juga keindahannya. Anak sungkem kepada ayah ibunya, yang muda sowan kepada yang tua, para saudara berkumpul dalam acara keluarga untuk misalnya, meneguhkan kembali tali silaturahmi, menggagas kemaslahatan perjuangan, melakukan muhasabah internal keluarga.

Setiap orang lahir kembali menjadi seorang muslim, tidak terutama sebagai identitas akidah atau labeling sosial keagamaan, melainkan menemukan inti kesadaran untuk memastikan kehadiran dirinya tidak menjadi ancaman bagi orang di sekelilingnya.

Dari Abdullah bin ‘Amru. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (Hadist Shahih Al-Bukhari).

Muslim dan muhajir, dua terminologi itu disandingkan dalam satu rangkaian sabda Nabi Muhammad Saw. Begitu gamblang aplikasi sikap seorang muslim dan begitu berat tantangan aplikasinya: lisan dan tangannya menyelamatkan muslim yang lain. Aplikasi maksimalnya, ia menggunakan tangan dan lisannya untuk menghasilkan buah kemaslahatan bersama. Penerapan minimalnya, ia cukup menjaga lisan dan tangan dari memproduksi hal-hal yang membahayakan orang lain.

Seorang muslim yang menjaga ucapan kata-kata dan tindakan tangannya agar tidak mencelakakan manusia sesungguhnya sedang melakukan hijrah. Ia adalah seorang muhajir. Jadi, manusia muslim itu juga muhajir, dan seorang muhajir terus-menerus menyempurnakan kemuslimannya.

Parameter substansial muslim dan muhajir ternyata cukup gamblang dan sederhana. Namun, faktanya, hal itu justru digusur oleh dominasi simbolisme, labeling dan kepentingan administratif keagamaan. Aksesoris wadag tanda kemusliman lebih ditonjolkan daripada berbuat dan berbicara yang santun. Orang yang alim atau pakar dalam ilmu (agama) dianggap pasti memiliki perilaku dan kata-kata yang terpuji. Padahal ilmu dan akhlak adalah dua wilayah yang berbeda.

Ketika seseorang mengolah diri menapaki jalan kemusliman ia akan berjumpa dengan lorong laku keimanan. Yang menyelamatkan akan menjadi yang mengamankan. Muslim dan mukmin tak ubahnya dua sisi mata uang. Cak Fuad menyebut muslim “administratif” yang melakukan hijrah menjadi muslim “substantif”.

Kalau memakai terminologi Asmaul Husna, kita melakukan transformasi dari As-Salam menuju Al-Mu’min. Perjodohan As-Salam dengan Al-Mu’min merupakan pasangan yang menyelamatkan dan mengamankan. Ketika tiba di koordinat Al-Mu’min kita akan kembali berputar menuju As-Salam, lalu demikian seterusnya putaran itu berlangsung.

Melalui perspektif seorang hamba, Allah yang memiliki nama As-Salam berarti Dia Maha Memberi Keselamatan, Kesejahteraan, dan Kedamaian. Adapun Allah sendiri memiliki sifat As-Salaamah, akar kata dari As-Salaam, selamat dan terhindar dari kesamaan dengan makhluk, tidak memiliki kekurangan, serta suci dari segala hal yang mencederai kesempurnaan-Nya.

Internalisasi dari sifat As-Salaam adalah mengaktualisasikan makna sifat ke dalam situasi kehidupan sehingga diliputi nilai keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian. Manusia yang mengerjakan As-Salam secara substansial disebut muslim.

Kita juga bisa melakukan internalisasi sifat Al-Mu’min, Allah Yang Maha Memberi Keamanan dan Yang Maha Tepercaya. Dia memberi rezeki, keamanan, kasih sayang di dunia dan akhirat. Allah sebagai rabba haadzal bait menjamin keamanan dan keselamatan hidup hamba-Nya. “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Q.S. Quraiys: 4).

Kita melakukan ath’amahum min juu’ wa aamanahum min khauf dalam konteks dan lingkup sebagai hamba kepada sesama hamba. Memastikan orang terdekat tidak kelaparan. Kehadiran kita pun mengamankan orang lain dari ancaman ketakutan.

Jadi, iman kita menetes menjadi laku ilmu yang amaliah. Kita meyakini sepenuh keyakinan bahwa rabba haadzal bait menjamin kelangsungan rezeki dan membebaskan kita dari kelaparan dan perasaan takut. Keyakinan ini lantas kita aktualisasikan menjadi kasih sayang kepada sesama sesuai konteks kebutuhan manusia di sekitar kita.

Asmaul Husna As-Salam dan Al-Mu’min akan menjadi pintu masuk pada Pengajian Padhangmbulan, Rabu, 26 Mei 2021, di Mentoro Sumobito Jombang. Teman-teman jamaah bisa nyicil sinau, niteni pengalaman hidup keseharian yang bersentuhan langsung dengan As-Salam dan Al-Mu’min untuk nanti kita perdalam lagi dimensi, lapisan, konteks dan ruang lingkupnya pada malam pengajian.

Lainnya