Mengembalikan Esensi Belajar untuk Anak-anak Kita

Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya edisi Mei 2021
Dok. Bangbang Wetan.

Majelis ilmu Bangbang Wetan kali ini (28/5) diadakan dua hari setelah Majelis Ilmu Padhangmbulan. Selain kita bergembira untuk mensyukuri hari kelahiran Mbah Nun, juga berbelasungkawa atas meninggalnya Kiai Muzzammil. Maka pada rutinan kali ini kami mengawali majelis dengan pembacaan surat Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh Cak Lutfi untuk Kiai Muzzammil.

Majelis Bangbang Wetan sengaja mengonsep acara dengan mengundang secara terbatas jamaah di Gedung Serbaguna, Pandegiling 338, Surabaya. Harapannya kita bisa berkumpul, mensyukuri hari kelahiran Mbah Nun, bersama-sama mendoakan Kiai Muzzammil, dan menggali tema Perguruan Nirsiswa secara meluas dan mendalam.

Narasumber utama kita yang telah tergabung melalui Zoom Meetings adalah Pak Toto Rahardjo dan Pak Suko Widodo.

Sebelum pembahasan tema menuju ke narasumber utama, Yasin sebagai moderator meminta jamaah maju ke depan untuk merespons tema tesebut.

Respons Jamaah tentang Tema Pendidikan

Pertama, respons dari Mbak Imroah yang berprofesi sebagai guru TK di Surabaya. Berangkat dari pertanyaan Yasin tentang bagaimana cara mengedukasi orang tua siswa, bahwa ketika SD siswa sudah harus bisa membaca dan berhitung. Mengingat semenjak ada pandemi proses belajar-mengajar tidak bisa dilaksanakan dengan bertatap muka. Sehingga guru-guru merasa kesulitan ketika mengajari siswanya membaca dan berhitung melalui daring. Kesulitannya ada pada bagaimana caranya merebut perhatian siswa supaya mau mendengarkan dari apa yang guru ajarkan.

Karena serba salah itu akhirnya sekolahan tempat Mbak Imroah mengajar mengadakan rapat guru bersama wali siswa, untuk berunding menemukan jalan keluar atas permasalahan tersebut. Keputusannya adalah mau tidak mau orang tua ikut berperan dalam proses belajar anak di rumah. Sebab menurut Mbak Imroah tidak bisa anak usia dini (4-7 tahun) tidak bisa lepas dari pendidikan orang tua. Jadi, guru dengan wali siswa harus berkolaborasi dalam mendidik anak. Karena pada anak usia dini orang tua belum bisa sepenuhnya menyerahkan anak kepada guru.

Pertanyaan bergulir ke Mas Fajar Wahyoko tentang bagaimana tahap-tahap perkembangan Psikologi Manusia. Mas fajar Wahyoko yang dulu ketika kuliah mengambil Psikologi mempunyai pandangan berbeda dari kebanyakan orang terhadap perkembangan psikologi manusia. Sebenarnya menurut Mas Fajar, manusia itu makhluk Super Non Eksak. Sebab, menurutnya, tidak ada manusia yang benar-benar sama dari manusia lain.

Istilah Super Non Eksak itu menurut Mas Fajar membuktikan bahwa masing-masing manusia sangat khas dan unik, tidak ada satupun yang sama dengan manusia lain. Sehingga manusia tidak bisa dikotak-kotakkan dan dirumuskan. Dunia psikologi, menurutnya, memberi paradigma manusia hanya pada kecenderungan sikap sebab-akibat, tetapi pada realitanya belum tentu sama dan belum tentu diaplikasikan.

Dilanjutkan ke Cak Hakam yang setiap harinya beraktivitas sebagai seorang guru SD. Pada masa pandemi ini dia justru menemukan proses dimana guru dan siswa bisa belajar bersama. Misalnya dalam mengoperasikan Zoom Meetings kebanyakan siswa lebih pandai daripada gurunya. Sehingga mau tidak mau guru harus menurunkan egonya untuk menyadari bahwa sekarang guru tidak selamanya lebih punya pengalaman dibanding siswanya. Sebab, di era teknologi sekarang ini, menurut dia, banyak siswa yang lebih pandai dalam mengoperasikan Zoom salah satunya. Itu baru di tingkat SD, itu belum di tingkat SMP dan SMA. Maka pegangan Cak Hakam, guru tidak merasa lebih pengalaman, sehingga siswa harus mendengarkan gurunya. Di bidang teknologi siswa dan guru seharusnya belajar bersama.

Sebagai salah satu narasumber yang hadir bersama kita, Cak Amin merespons fenomena proses belajar anak yang selama pandemi berlangsung di rumah masing-masing. Menurut Cak Amin keadaan saat ini justru keadaan yang paling dinantikan bagi pembelajar generasi beliau ketika sekolah dulu. Karena tidak perlu sekolah untuk belajar, sekolah tidak perlu masuk sekolah. Siswa tidak perlu cabut atau bolos sekolah. Karena zaman dulu era Cak Amin masih sekolah, ketika bosan dengan pelajaran tertentu yang dilakukan adalah bagaimana caranya bisa bolos tidak ikut pelajaran sekolah, dengan cara melompat dari pagar sekolahan.

Sebagai orang tua, Cak Amin berbagi pengalaman soal mendidik anak dan membimbing anaknya supaya bangkit kesadaran belajarnya. Salah satu problem orang tua terhadap anak yang belajar di rumah adalah karena orang tua “gagap”, tidak punya kedekatan dengan anak. Orang tua “gagap” karena kebanyakan orang tua masih memiliki pemahaman bahwa bagaimana anaknya mendapat nilai bagus, bukan berbicara proses belajar anak.

Maka semenjak pandemi sampai hari ini, Cak Amin beserta istri berkomitmen untuk tidak mengerjakan sepenuhnya tugas sekolah anak. Cak Amin beserta istri selama ini hanya berusaha mendampingi proses belajar anak. Sebab Cak Amin tidak mau ada peralihan belajar, yang seharusnya sang anak belajar dan mengerjakan tugas, tergantikan oleh orang tua yang ikut mengerjakan tugas tersebut supaya mendapat nilai bagus. Karena, yang diharapkan Cak Amin kepada anaknya adalah mengalami proses dialektika pembelajaran dengan gurunya, tumbuhnya kesadaran belajar anak.

Mendiskusikan Kembali Pengertian dari Pendidikan, Sekolah, Belajar, dan Pembelajaran

Pak Toto sebagai narasumber utama bersama Pak Suko mengajak kita mendiskusikan kembali pengertian dari pendidikan, sekolah, belajar, dan pembelajaran. Kita perlu melihat kembali dengan tidak menganggap bahwa seolah-olah pendidikan hanya di sekolah. Jadi belajar tidak hanya di sekolah. Sehingga apa yang disebut orang yang berpendidikan adalah tidak hanya orang yang sekolah. Juga tidak menganggap orang yang tidak sekolah bukan orang yang berpendidikan, dan orang yang tidak sekolah dianggap tidak belajar. Hal yang dianggap lazim itu yang sebenarnya menjadi masalah kita bersama.

Tiba-tiba ketika pandemi datang yang sekarang dianggap tidak lazim itu, menurut Pak Toto sebenarnya sejak dulu sudah tidak lazim. Sejarah sudah berjalan cukup panjang, termasuk sejarah sekolah. Masyarakat sendiri memahami sekolah itu ya sebagaimana telah berlangsung selama ini. Sekolah yang benar menurut kebanyakan masyarakat itu ya sekolah yang selama ini kita lihat.

Dan hal itu menjadi agak sulit menurut Pak Toto, ketika beliau membikin alternatif, karena beliau menyadari bahwa sekolah yang ada selama ini tidak menjawab permasalahan. Pak Toto berpikir bahwa pandemi ini mengajak kita untuk melihat fenomena itu semua. Sebab yang menjadi soal itu bukan soal internet, Zoom, atau alat-alat komunikasi yang ada.

Yang menjadi persoalan memang sejak dulu kita didesain orang untuk tidak mandiri belajar. Misalnya ketika pandemi datang, sekolah dipindah ke rumah. Sementara di rumah tidak dianggap menjadi pusat belajar. Orang-orang di rumah selama ini tidak menjadi pusat-pusat pengetahuan. Karena sepenuhnya sudah menyerahkan kepada lembaga yang disebut sekolah itu.

Lainnya