Mengasah Skill dan Membangun Social Evidence

Majelis Ilmu Juguran Syafaat edisi Januari 2021
Dok. Juguran Syafaat

Impact-nya apa kamu sekolah? Tidak ada yang sempat menanyakan impact sekolah karena seketika setelah lulus orang-orang dibuat sibuk untuk segera mendapatkan kerja dan segera berpenghasilan. Tidak demikian dengan ekstrakurikuler ngariung bulanan seperti halnya ketika kita ber-Juguran Syafaat. Apakah kegiatan ini memiliki impact atau tidak? Pertanyaan ini penting untuk digali jawabannya sebagai bahan pengasahan bersama.

Pantikan Fikry mengenai impact ini menjadi elaborasi yang disambut respons dari berbagai view. “Jangan-jangan Juguran Syafaat memberi impact pada masalah sosial di luar, tetapi tidak memberikan impact pada internal komunitas”, pantiknya. Lik Febri yang yang concern di bidang ilmu-ilmu sosial merespons dengan cukup runtut mulai dari bagaimana tematik Juguran Syafaat disusun. Pola kurikulum di Juguran Syafaat ada dua pola: 1) Ilmu pengetahuan yang ditransfer langsung dari Marja’, lalu 2) Pola sinau bareng internal berangkat dari sharing pengalaman.

Lebih lanjut Lik Febri mengurai, pada poin kedua ini dilemanya adalah ketika di antara kita tidak mempunyai pengalaman apa-apa, terus apa yang mau di-sharing-kan? Tetapi memang begitulah watak dari apa yang dinamakan pendidikan yang di mall bisa, di jalanan bisa–pendidikan dalam arti luas.

Pada pendidikan di dalam arti luas inilah, di dalam internal komunitas, orang bisa berbagi satu sama lain tentang skill mereka di dalam bekerja, dll.

Tetapi menurut Lik Febri, jenis pengetahuan semacam itu terlalu spesifik. Dilema dari menggelar tema diskusi yang terlalu spesifik adalah potensi macetnya diskusi. Karena itu, perlu dibuat tema yang lebih umum yang memungkinkan terjadinya interaksi dialektis dengan tetap meruangi proses sharing pengalaman yang merupakan salah satu dari dua pola pembelajaran di dalam Maiyah.

***

Kalau yang disebut impact dari sebuah proses pendidikan adalah hasil fisik berupa pekerjaan atau peningkatan penghasilan, maka mudah mendeteksinya. Tetapi, kita harus telaten di dalam mengamati (niteni) kalau memang arah yang sedang kita tempuh dari kegiatan di Simpul Maiyah adalah impact berupa softskill.

Kukuh selaku moderator menyambung respons bahwasanya pada refleksi dirinya sendiri, impact Juguran Syafaat adalah menemukan jawaban kegundahan batin dan menjadikan dirinya terbantu untuk memahami tahap-tahap hidup yang mestinya ditempuh.

Respons berupa refleksi impact diri juga dilontarkan Kusworo. Ia yang sangat concern pada ranah ilmu tasawuf dan pemaknaan falsafah hidup merespons, “Kalau mau tahu impact dari Maiyah, mulainya dari bayangkan dulu seandainya tidak ada Maiyah. Saya yang orang awam seberapa terbantu hidup saya oleh pemahaman agama formal. Agama yang hari ini belum juga selesai berdebat mengenai mahdloh dan muamalah”.

Begitulah, impact dari proses Sinau Bareng adalah pada softskill. Sementara kita hari ini mengamini bahwa yang pokok adalah mempunyai hardskill agar bisa masuk ke kancah industri, bekerja, dan berpenghasilan di sana. Sedangkan pendidikan softskill hanya suplemen alias asupan tambahan belaka.

Dok. Juguran Syafaat

Fikry yang melontar pantikan di awal kemudian mahfum. Kita ini generasi yang terlambat usia membentuk karakter setelah masa muda kita habis waktu untuk sekolah. Mudah-mudahan di generasi mendatang anak-anak akan lahir dari orang tua yang sudah siap mendidik softskill dari rumah. Sehingga anak-anak di generasi mendatang bisa memasuki sekolah sudah dengan bekal softskill dari rumah. Sebab tidak mungkin satu guru dengan 30 murid sudah dikejar capaian pembelajaran, masih juga dituntut mendidik softskill. “Komunitas pendidikan ada tiga unsurnya: Keluarga, masyarakat di lingkungannya dan lembaga pendidikan. Ketiganya memang harus berperan semuanya”, Febri me-wrap up.

***

Juguran Syafaat edisi ke 94 Januari 2021 di era PPKM dilaksanakan dengan pembatasan jumlah narasumber dan jumlah penggiat yang mempersiapkannya. Meskipun begitu, tidak mengurangi berlangsungnya proses elaborasi di dalamnya.

Dua setengah jam berlangsung melalui siaran streaming Juguran Syafaat berlangsung tidak sebagai panggung show, melainkan satu sama lain yang terlibat menyetorkan kesungguh-sungguhan di dalam memilih posisi pandang. Sehingga sebuah pantikan bisa diobservasi dengan ragam sudut pandang yang kaya.

Di mata mainstream mungkin gelaran ini sebatas forum yang kurang signifikan. Namun nyatanya, skill diskusi dan kelihaian bermusyawarah adalah hal yang langka dimiliki di tengah-tengah situasi masyarakat kini. Dan elaborasi atas sebuah pantikan tema akan sulit jika masing-masing yang terlibat tidak benar-benar memiliki kuriositas atas pengetahuan baru apa sebetulnya yang akan dihasilkan dari apa yang sedang kita elaborasi ini?

Tantangan bagi kita adalah terus-menerus mengaktualisasikan hasil kecakapan yang kita asah menjadi kemanfaatan yang mewujud nyata dan memberikan social evidence.

Lainnya