Membaca Surat dari Tuhan (20)

Mengagumi Kaum Bahariwan

Photo by Rio Lecatompessy on Unsplash

Indonesia sungguh tanah air yang mengagumkan. Bukan hanya terpancar oleh lagu daerah, lagu anak-anak lawasan, dan lagu nasional serta keroncong dan pop yang nostalgik, atau lagu heroik-heroik lembut karya Leo Kristi, Franky & Jane dan Gombloh atau lagu romantik model Koes Plus (serial lagu Nusantara) atau karya Ebiet G Ade atau lagu campursari Minang, Cirebonan, Jawa, Banyuwangen saja tetapi terpancar dari alam nyata yang bisa dilihat mata lahir dan mata batin ketika kita menjelajah tanah air lewat darat, laut, dan udara.

Alhamdulillah, saya meski sangat terbatas sekali ada sekian kesempatan dalam hidup saya untuk menjelajahi Aceh, Minang, Kalimantan sampai Sulawesi, NTB, NTT, dan Maluku. Jelas, termasuk pantai dan pedalaman Banten, Jawa< Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan Bali. Dan yang tumbuh dalam kesadaran diri saya adalah ternyata menjadi bagian dari Indonesia ini asyik banget. Ternyata mencintai dan makin mencintai Indonesia sebagai bagian dari mencintai ciptaan Allah Swt. dan bagian dari cara mencintai Allah Swt. menyuburkan rasa syukur dan bahagia yang otentik.

Dan kata ahli, mencintai, mensyukuri, dan bahagia menjadi bagian penting untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan tubuh dan jiwa. Imunitas ruhani dan jasmani terjaga dan meningkat sehingga bisa menangkal virus apa pun termasuk virus ketergantungan yang berlebihan dan pemujaan pada sesama makhluk hidup dan< cinta-syukur-bahagia menjadi bagian dari Indonesia sungguh bisa menangkal virus penjajahan baru, kalau ada.

Di tengah rangkaian kegiatan Muktamar Muhammadiyah ke 43 tahun 1995 di Banda Aceh saya selama setengah bulan berada di bumi Aceh. Waktu itu sungguh suatu keberanian untuk menyelenggarakan acara nasional di Aceh. Muhammadiyah yang moderat bisa menjaga suasana damai selama Muktamar. Dalam perjalanan naik bus dari Medan sampai Banda Aceh (setelah dua jam lebih naik pesawat Mandala dari Yogya-Medan) dengan jarak tempuh enam ratus kilometer selama empat belas jam, konvoi bus penumpang utusan dan penggembira Muktamar ditemani oleh konvoi truk militer.

Maklum, muktamar ini akan dibuka oleh Presiden Soeharto dan ditutup oleh Wakil Presiden Try Soetrisno. Jadi keamanan dan pengamanan dikondisikan prima. Dan dengan cerdik Pak Harto mengundang Gubernur Aceh ke Jakarta lalu bersama-sama ke Aceh dalam satu pesawat dan satu kesatuan rombongan yang membuka muktamar. Sebagai Cah Kotagede yang pernah mempelajari siasat cerdik Eyang Juru Mertani saya pun paham dengan apa yang terjadi meski tidak mungkin ditulis menjadi berita. O, ya, waktu di Aceh saya bertugas sebagai jurnalis Suara Muhammadiyah sekaligus menugasi diri saya sebagai jurnalis harian Yogya Post periode kantor Cemara Tujuh di pojok jalan Kaliurang itu.

Selama di Banda Aceh ini saya menginap di rumah sahabat Cak Nun waktu di Gontor, yaitu mas Dalhar Shodiq yang oleh Cah Kauman Pakualaman memanggilnya Mas Lhalhang. Rumahnya di kampung Maurexa dekat lapangan Blang Bintang yang ada monumen pesawat Seulawah sebagai penanda sumbangan masyarakat Aceh kepada Republik Indonesia di awal kemerdekaan. Tentu terjadi banyak kejadian dramatis dan momentum penting selama Muktamar di mana Pak Harto mengakui dirinya sebagai kader atau bibit Muhammadiyah yang ditugaskan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia. Ini diikuti oleh para menteri yang memberikan sambutan dalam sidang-sidang Muktamar.

Pak Harmoko menceritakan pengalaman ketika memimpin Ranting Muhammadiyah di Senen, Menteri Keuangan mengaku lahir di rumah sakit bersalin Muhammadiyah Solo, Pak Try Soetrisno mengaku bersentuhan dengan Muhammadiyah Surabaya karena kalau berangkat sekolah lewat di depan sekolah Muhammadiyah dan kalau ada pertandingan sepakbola antar sekolah kesebelasan sekolahnya dikalahkan oleh kesebelasan anak sekolah Muhammadiyah. Dan yang penting, Munas Tarjih memutuskan bahwa posisi atau kedudukan kegiatan Seni Budaya hukumnya mubah. Ini yang membuat Mas Slamet Sukirnanto yang waktu itu Ketua Majelis Kebudayaan menangis di depan saya. “Kok seni budaya hukumnya mubah ya Mas,” keluhnya.

Waktu itu mas Slamet Sukirnanto belum tahu dan belum menyadari kedahsyatan mobilitas hukum mubah, yang ditemukan oleh teman-teman di Majelis Ilmu Nahdlatul Muhamadiyyin.

Tentu selama setengah bulan lebih di bumi Aceh ini saya mencari kesempatan untuk mengenal potensi atau kekuatan dari budaya Aceh dan karakter manusia Aceh. Maka saya mengunjungi Museum Aceh, berziarah ke makam Iskandar Muda, bertemu dengan empu rencong Aceh dan perajin kain sulaman Aceh, plus menikmati kuliner tradisional Aceh yang jelas banyak asyiknya. Selain itu saya mengunjungi pantai Cermin yang agak jauh dari kota. O, ya, sebelum ke Aceh saya sudah mendapat nasihat penting: selama di Aceh di mana saja tempatnya saya dilarang bertanya dan berbicara tentang GAM. Berbahaya. Bisa timbul salah paham fatal. Sebab waktu itu kalau berani bertanya dan berbicara tentang ini kalau ketemu orang GAM kita akan dicurigai sebagai agen pemerintah dan kalau ketemu dengan Intel atau orangnya pemerintah kita dicurigai sebagai orang GAM. Dan dengan terus mengingat nasehat penting ini saya bisa selamat blusukan ke mana saja jam berapa saja.

Misalnya saya naik becak motor mencari makan nasi dengan sayur ikan kayu di warung njepit aman. Jajan nasi goreng yang diberi jangan atau sayuran di depan masjid Baiturrahman aman, atau membeli bakmi. Aceh yang pedasnya level tujuh atau delapan aman. Demikian juga ketika saya naik kendaraan umum ketemu seorang bahariwan sejati Indonesia di pantai Cermin Aceh.

Kendaraan yang saya tumpangi melewati sebuah jembatan yang agak tinggi. Perahu-perahu tampak dari atas jembatan. Perahu nelayan yang mendarat menurunkan ikan segar yang sisiknya seperti kaca, berwarna biru. Baru kali itu saya melihat ikan berwarna biru indah.

Kendaraan berhenti dekat pantai. Memang layak diberi nama Pantai Cermin. Air jernih sekali, sejernih akal sehat. Bisa melihat ke dalam air yang penuh ikan berseliweran. Wajah air pun memantulkan wajah langit. Laut mirip cermin betulan. Cermin yang amat luas.

Saya melihat seorang nelayan berpakaian mirip Tarzan berjalan perlahan dari perkampungan menuju laut. Saya ikuti. Ternyata dia melompat ke dalam laut, menyelam cepat, lebih cepat dari ikan. Buktinya, tidak sampai sepuluh menit dia sudah muncul ke permukaan menghirup udara bebas sambil kaki mengayun gaya enggak menurut bahasa Jawa. Astaga. Nelayan tunggal ini mengangkat tangan dan tampak seekor ikan lumayan besar menggelepar.

Orang-orang yang ada di pantai bertepuk tangan. Saya juga bertepuk tangan menyambut sukses bahariwan sejati ini bisa menangkap ikan tanpa alat. Dia menangkap ikan dengan tangan kosong.

Begitu dia mendarat bersama ikan tangkapan orang-orang berkerumun, mengikuti langkah dia ke rumah sederhana.

Ketika ada orang menanyakan harga ikan hasil tangkap tangan dalam arti sesungguhnya ini, Pak bahariwan yang bertubuh atletis dan dan berkulit bersih karena selalu mandi di laut menjawab bahwa harga ikan tangkapan dia yang lumayan besar adalah lima belas ribu rupiah. Murah sekali.

Harga ikan segar ini berbeda jauh dengan ikan segar yang ditangkap nelayan Bugis di pantai Kupang. Untuk ikan yang lumayan besar diberi harga seratus ribu rupiah. Tentu, ikan sudah dibakar dan Hamdy Salad membawanya ke hotel untuk dimakan ramai-ramai. Para sastrawan peserta pertemuan Nasional sastrawan ikut nimbrung menghabiskan ikan bakar besar yang kemudian diolesi sambal lezat.

Ada yang lebih asyik kalau bicara soal ikan Nusantara, dalam hal lezat dan nikmatnya. Dalam kunjungan ke Ternate, saya diajak ke sebuah restoran istimewa. Restoran ini menghadap ke sebuah pulau yang gambarnya ada di lembar pecahan seribu rupiah. Masakan ikan juga lezatnya minta ampun.

Tentu rasa ikan bakar bakar di berbagai tempat berbeda, tapi ada satu yang sama, lezatnya. Ketika pada kesempatan mengikuti Kongres Cerpen di Jembrana Bali yang sangat terasa suasana Islamnya, mirip Madura atau tanah Melayu, saya bersama Kang Ahmad Tohari, Raudal, dan Triyanto Triwikromo (yang sekarang sakit, semoga lekas sembuh, amin) jalan-jalan sampai Jimbaran. Menikmati kakap bakar (kalau orang Minang suka masak gulai kepala ikan kakap) sambil ngobrol tentang ikan, laut, dan nelayan.

Lainnya